BLITAR - Sejarah kelam PSSI kembali disorot publik setelah berbagai kasus lama mencuat dan dikaitkan dengan krisis tata kelola sepak bola nasional. Dalam 93 tahun perjalanannya sejak berdiri pada 19 April 1930, PSSI tak hanya mencatat prestasi, tetapi juga rentetan skandal yang membekas dalam ingatan suporter.
Sejarah kelam PSSI diwarnai isu korupsi, suap, match fixing, hingga konflik dualisme yang terjadi berulang dari era kolonial hingga zaman modern. Dari skandal Senayan 1962 sampai sepak bola gajah 1998, polemik seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari federasi ini.
Padahal, PSSI lahir dari semangat nasionalisme. Suratin Sosrosoegondo, insinyur pribumi yang menjadi penggagas, mendirikan organisasi ini sebagai alat perjuangan melawan kolonialisme melalui sepak bola.
Awal Berdiri dan Konflik dengan NIVB
Pada masa awal, PSSI tumbuh pesat dengan kompetisi Perserikatan yang dimulai 1931. Klub-klub besar seperti Persebaya, Persija, Persib, hingga PSIM menjadi bagian dari fondasi sepak bola nasional.
Namun konflik sudah muncul sejak dini. PSSI berseteru dengan federasi bentukan Hindia Belanda, NIVB. Meski sempat menandatangani Gentlemen Agreement pada 1937, hubungan memburuk karena pemain PSSI dilarang tampil di bawah naungan NIVB.
Puncaknya terjadi saat pemilihan skuad Piala Dunia 1938. Tidak satu pun pemain PSSI dilibatkan. Suratin membatalkan perjanjian secara sepihak. Bahkan di internal sendiri, dualisme sudah muncul ketika PSIM Mataram keluar dan membentuk organisasi tandingan.
Baca Juga: Megawati Hangestri Resmi Jadi Duta AVC 2026, Bukti Voli Indonesia Bangkit dan Diakui Dunia
Skandal Senayan 1962
Memasuki era kemerdekaan, Timnas Indonesia sempat bersinar. Indonesia menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956 dan meraih perunggu Asian Games 1958.
Namun sejarah kelam PSSI mencatat skandal besar pada 1962. Sepuluh pemain timnas terlibat suap dalam laga uji coba menjelang Asian Games Jakarta. Mereka menerima bayaran dari bandar judi untuk mengatur hasil pertandingan.
Kasus yang dikenal sebagai Skandal Senayan 1962 itu membuat para pemain dicoret dari pelatnas. Mimpi meraih prestasi di kandang sendiri pun pupus.
Era Otoriter dan Keputusan Kontroversial
Pada 1974–1977, PSSI dipimpin Bardosono yang dikenal kontroversial. Ia disebut sebagai “ketua titipan istana” dan memimpin secara otoriter.
Salah satu keputusan paling absurd terjadi pada final Perserikatan 1975 antara PSMS Medan dan Persija Jakarta. Laga ricuh membuat pertandingan dihentikan. Bardosono memutuskan kedua tim menjadi juara bersama, momen unik dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Tak lama, ia didesak mundur. Kepemimpinan beralih ke Ali Sadikin yang memperkenalkan liga semi-profesional Galatama. Namun kompetisi ini juga tercoreng isu suap dan pengaturan skor.
Sepak Bola Gajah 1998
Skandal paling memalukan dalam sejarah kelam PSSI terjadi di Piala Tiger 1998. Indonesia dan Thailand sama-sama berupaya menghindari Vietnam di fase berikutnya.
Dalam laga tersebut, Mursyid Effendi mencetak gol bunuh diri secara sengaja agar Indonesia kalah dan tidak menjadi juara grup. FIFA turun tangan, menjatuhkan sanksi larangan bermain seumur hidup kepada Mursyid serta denda kepada kedua federasi.
Peristiwa itu dikenal sebagai “sepak bola gajah” dan menjadi simbol rusaknya sportivitas di level internasional.
Dualisme Modern dan Krisis Berulang
Konflik internal kembali terjadi pada 2011–2013 ketika muncul PSSI tandingan, Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). Dualisme liga membuat kompetisi terpecah dan klub-klub terbelah.
Situasi ini memperburuk kepercayaan publik terhadap federasi. Masalah klasik seperti mafia bola, intervensi politik, hingga tata kelola yang tidak transparan terus menjadi sorotan.
Sejarah kelam PSSI menunjukkan pola berulang: konflik, skandal, pergantian pengurus, lalu harapan baru yang kembali diuji.
Baca Juga: Terungkap! 5 Pantangan Weton Pon yang Sering Dilanggar, Bisa Bikin Rezeki Seret dan Hidup Penuh Sial
Padahal, semangat awal pendirian PSSI adalah persatuan dan perjuangan. Reformasi tata kelola, transparansi, dan profesionalisme menjadi tuntutan agar federasi bisa kembali pada marwahnya.
Jika pembenahan struktural tak dilakukan secara menyeluruh, bukan tak mungkin skandal serupa akan kembali mencoreng sepak bola Indonesia di masa depan.
Editor : Axsha Zazhika