BLITAR – Dominasi di masa lalu bukan jaminan kejayaan abadi di dunia sepak bola. Sejumlah klub top Eropa yang dulunya menjadi wajah Liga Champions dan penguasa liga domestik, kini harus menelan pil pahit berjuang di divisi bawah.
Kejatuhan mereka dipicu berbagai faktor, mulai dari performa buruk, krisis finansial, hingga skandal internal.
Baca Juga: Berangkat dari Stasiun Blitar, KA Kahuripan Tujuan Bandung Ini Paling Diminati Pemudik
Kisah paling dramatis datang dari raksasa Jerman, FC Schalke 04. Klub yang pernah menembus semifinal Liga Champions 2011 ini terdegradasi dari Bundesliga musim lalu.
Kejatuhan ini memicu kemarahan besar pendukungnya yang melakukan aksi anarkis di Veltins-Arena. Tak jauh beda, Werder Bremen juga harus turun kasta ke divisi 2 Jerman setelah 42 tahun bertahan di kasta tertinggi, memutus rekor panjang mereka sejak era 1980-an.
Baca Juga: Masuk Blitar, Pengendara Dilarang Keras Gunakan Gawai, Siap-siap Kena Tilang
Di Italia, Parma yang pernah menjadi bagian dari jajaran elit Sette Sorelle (Tujuh Saudara) pada era 90-an, kini terdampar di Serie B.
Krisis keuangan akibat bangkrutnya perusahaan pemilik, Parmalat, memaksa klub ini mengulang semuanya dari nol.
Baca Juga: Tren Usaha Kafe di Kabupaten Blitar Naik Drastis, Tercatat Sudah Ratusan Kantongi Izin
Sementara itu di Spanyol, "Super Depor" Deportivo La Coruna mengalami nasib lebih memprihatinkan. Setelah berjaya di awal 2000-an dan menjuarai La Liga, kini mereka hanya mampu berlaga di divisi ketiga Liga Spanyol.
Di Inggris, Fulham yang pernah mengejutkan publik sebagai finalis Europa League 2010, juga harus rela kembali berjuang di divisi Championship.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama