BLITAR – Menjadi tim tersukses di Italia ternyata tidak menjamin sebuah klub dicintai oleh publik. Juventus, sang raksasa Turin, justru memegang predikat sebagai klub yang paling dibenci di Negeri Piza.
Berdasarkan jajak pendapat, sekitar 43% responden mengaku tidak menyukai klub berjuluk I Bianconeri ini. Kebencian tersebut bukan tanpa alasan, melainkan akumulasi dari dominasi prestasi yang dianggap angkuh dan rentetan skandal yang mencederai sportivitas.
Salah satu faktor utama kebencian publik adalah kecurigaan bahwa Juventus sering "dibantu" oleh keputusan wasit. Istilah "Rubentus"—gabungan dari kata Rubare (mencuri) dan Juventus—kerap diteriakkan oleh rival sebagai tudingan bahwa mereka sering merampok kemenangan.
Kasus paling melegenda adalah skandal Calciopoli tahun 2006 yang melibatkan mantan direktur mereka, Luciano Moggi, dalam pengaturan wasit sistematis yang menghancurkan citra Serie A di mata dunia.
Tak hanya soal wasit, kebijakan transfer Juventus juga sering memicu amarah. Mereka dikenal hobi membajak pemain bintang dari klub rival maupun tim kecil di Italia.
Nama-nama seperti Miralem Pjanic (Roma), Federico Chiesa (Fiorentina), hingga Gianluigi Buffon (Parma) adalah contoh pemain yang "dicuri" untuk memperkuat dominasi mereka.
Ditambah dengan gaya permainan taktis yang dianggap membosankan namun sering menang lewat "gol keberuntungan" di menit akhir, lengkaplah alasan mengapa La Vecchia Signora menjadi sosok antagonis utama dalam jagat sepak bola Italia.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama