Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah AC Milan Era Carlo Ancelotti: Bangkit, Juara Liga Champions 2003, hingga Drama Menuju Final 2005

Vicky Hernanda • Senin, 23 Februari 2026 | 11:51 WIB

Sejarah AC Milan
Sejarah AC Milan

BLITAR – Sejarah AC Milan era Carlo Ancelotti menjadi salah satu periode paling gemilang dalam perjalanan Rossoneri di Eropa. Di bawah sentuhan Carlo Ancelotti, AC Milan bangkit dari keterpurukan akhir 1990-an dan kembali menjelma sebagai raksasa dengan menjuarai Liga Champions 2003 serta bersaing ketat di berbagai kompetisi elite.

Sejarah AC Milan tak lepas dari masa sulit setelah era Arrigo Sacchi dan Fabio Capello. Pada musim 1996/1997, Milan terpuruk hingga finis di papan bawah Serie A. Pensiunnya Franco Baresi dan Mauro Tassotti membuat lini belakang rapuh. Meski sempat meraih scudetto 1998/1999 bersama Alberto Zaccheroni, performa Milan belum stabil di kompetisi Eropa.

Perubahan besar terjadi saat Silvio Berlusconi menunjuk Carlo Ancelotti sebagai pelatih pada 5 November 2001. Sejarah AC Milan kemudian memasuki babak baru. Ancelotti mewarisi skuad bertalenta seperti Paolo Maldini, Andriy Shevchenko, Gennaro Gattuso, dan Andrea Pirlo, tetapi belum menemukan harmoni permainan.

Revolusi Taktik dan Lahirnya Regista Pirlo

Musim 2002/2003 menjadi titik balik. Ancelotti melakukan langkah krusial dengan menggeser Andrea Pirlo menjadi deep-lying playmaker atau regista. Peran ini membuat alur permainan Milan lebih terstruktur. Pirlo didukung Gattuso dan Clarence Seedorf di lini tengah, sementara Rui Costa berperan sebagai trequartista di belakang duet Shevchenko dan Filippo Inzaghi.

Kedatangan Alessandro Nesta memperkokoh pertahanan bersama Maldini. Di bawah mistar, Nelson Dida dipercaya sebagai kiper utama. Formasi 4-1-2-1-2 berbentuk berlian menjadi ciri khas Milan saat itu.

Hasilnya terlihat di Liga Champions 2002/2003. Milan tampil impresif sejak fase grup, termasuk meraih kemenangan penting atas Real Madrid dan Bayern Munchen. Di perempat final, mereka menyingkirkan Ajax lewat gol dramatis Jon Dahl Tomasson di menit ke-91.

Semifinal menghadirkan Derby della Madonnina kontra Inter Milan. Gol tandang Shevchenko di leg kedua memastikan langkah ke final. Pada 28 Mei 2003 di Old Trafford, Milan menghadapi Juventus di final sesama wakil Italia. Setelah bermain imbang tanpa gol hingga perpanjangan waktu, laga ditentukan lewat adu penalti. Eksekusi penentu Shevchenko membawa Milan meraih gelar Liga Champions keenam dalam sejarah klub.

Dominasi Domestik dan Formasi “Pohon Natal”

Memasuki musim 2003/2004, Milan memperkuat skuad dengan mendatangkan Kaka dan Cafu. Kombinasi Kaka, Pirlo, Seedorf, dan Gattuso membuat lini tengah semakin solid. Pertahanan mereka juga impresif dengan catatan kebobolan minim di awal musim.

Meski tersingkir dramatis dari Deportivo La Coruna di Liga Champions, Milan berhasil mengunci scudetto ke-17 setelah mengalahkan AS Roma 1-0 pada 2 Mei 2004. Gelar ini menjadi trofi Serie A pertama bagi Ancelotti bersama Milan.

Musim 2004/2005, Milan menambah Jaap Stam dan meminjam Hernan Crespo. Ancelotti mulai menerapkan formasi 4-3-2-1 yang dikenal sebagai “pohon natal” untuk mengakomodasi gelandang kreatifnya. Shevchenko tampil gemilang dan meraih Ballon d’Or pada Desember 2004.

Di Liga Champions 2004/2005, Milan kembali tampil kuat. Mereka menyingkirkan Manchester United di babak 16 besar dan Inter Milan di perempat final dalam laga yang diwarnai insiden flare ke arah Dida. UEFA kemudian memberikan kemenangan untuk Milan.

Pada semifinal, Rossoneri menghadapi PSV Eindhoven. Meski sempat tertekan di leg kedua, Milan memastikan tiket final berkat agregat gol. Perjalanan ini mempertegas reputasi Ancelotti sebagai pelatih dengan pendekatan taktik matang dan manajemen pemain yang efektif.

Sejarah AC Milan era Carlo Ancelotti menunjukkan bagaimana kombinasi pengalaman, bakat muda, dan inovasi taktik mampu mengembalikan kejayaan klub. Dari juara Liga Champions 2003 hingga persaingan sengit di musim berikutnya, periode ini menjadi fondasi penting dalam kebangkitan Rossoneri di pentas Eropa. (*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Liga Champions 2003 #AC Milan 2005 #sejarah ac milan #carlo ancelotti #Era Ancelotti