BLITAR - Derby Milan 2005 menjadi salah satu laga paling kelam dalam sejarah sepak bola Eropa. Pertandingan antara AC Milan dan Inter Milan di ajang Liga Champions UEFA berubah menjadi kekacauan yang tak terlupakan.
Derby Milan 2005 ini berlangsung pada 12 April 2005 di stadion legendaris San Siro. AC Milan datang dengan keunggulan agregat 2-0 dari leg pertama, membuat Inter Milan berada dalam tekanan besar untuk mengejar ketertinggalan.
Situasi semakin memanas ketika Milan kembali unggul secara agregat menjadi 3-0. Kondisi tersebut memicu frustrasi para pemain dan pendukung Inter Milan, yang merasa peluang tim kesayangannya untuk lolos ke semifinal semakin menipis.
Gol Dianulir, Emosi Memuncak
Puncak ketegangan dalam Derby Milan 2005 terjadi saat pemain Inter, Esteban Cambiasso, mencetak gol yang sempat membangkitkan harapan. Namun, wasit menganulir gol tersebut karena pelanggaran.
Keputusan ini memicu kemarahan besar dari suporter Inter. Atmosfer stadion berubah drastis. Sorakan yang sebelumnya menggelegar berganti menjadi amarah yang tak terkendali.
Flare Menghantam Dida, Stadion Jadi Neraka
Tak lama setelah gol dianulir, sejumlah flare atau suar mulai dilempar ke dalam lapangan. Salah satu momen paling ikonik dan mengerikan terjadi ketika suar menghantam kiper AC Milan, Dida.
Insiden tersebut membuat Dida terkapar di lapangan. Situasi semakin kacau, dengan asap tebal dan api yang membakar sebagian area stadion. Wasit pun menghentikan pertandingan untuk sementara waktu.
Namun, kondisi tidak kunjung kondusif. Lemparan flare terus terjadi, membuat pertandingan akhirnya benar-benar dihentikan.
Momen Ikonik Materazzi dan Rui Costa
Di tengah kekacauan Derby Milan 2005, satu momen justru menjadi simbol abadi. Dua pemain dari kubu rival, Marco Materazzi dari Inter Milan dan Rui Costa dari AC Milan, terlihat berdiri berdampingan.
Keduanya menyaksikan situasi stadion yang berubah menjadi lautan api dan kepanikan. Momen tersebut tertangkap kamera dan menjadi salah satu foto paling ikonik dalam sejarah derby Milan.
Alih-alih menunjukkan permusuhan, keduanya tampak sama-sama terdiam melihat bagaimana rivalitas berubah menjadi kekacauan yang tak terkendali.
UEFA Jatuhkan Hukuman Berat
Akibat insiden Derby Milan 2005, UEFA mengambil tindakan tegas. UEFA memutuskan Inter Milan kalah 0-3 secara administratif.
Selain itu, Inter juga dijatuhi denda sebesar 200 ribu euro serta hukuman memainkan empat pertandingan kandang tanpa penonton.
Sementara itu, AC Milan dipastikan melaju ke babak semifinal hingga akhirnya mencapai final Liga Champions musim tersebut.
Derby Milan Paling Brutal Sepanjang Sejarah
Derby Milan 2005 hingga kini dikenang sebagai derby paling brutal dalam sejarah pertemuan AC Milan dan Inter Milan. Insiden ini menjadi pengingat bahwa rivalitas dalam sepak bola bisa berubah menjadi tragedi jika tidak terkendali.
Peristiwa ini juga mendorong peningkatan standar keamanan di stadion-stadion Eropa, terutama dalam pertandingan dengan tensi tinggi seperti derby.
Lebih dari sekadar pertandingan, Derby Milan 2005 meninggalkan jejak emosional yang mendalam bagi para pemain, suporter, dan dunia sepak bola secara keseluruhan.
Momen flare yang menghantam Dida serta foto Materazzi dan Rui Costa menjadi simbol kontras antara kekerasan dan kemanusiaan dalam sepak bola.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.