BLITAR - Derby della Madonnina bukan sekadar pertandingan sepak bola. Derby della Madonnina adalah perang kecil yang membelah Kota Milan menjadi dua warna: merah hitam dan biru hitam. Dalam setiap pertemuan AC Milan dan Inter Milan, bukan hanya tiga poin yang diperebutkan, tetapi juga kehormatan dan harga diri.
Derby della Madonnina lahir dari sejarah panjang yang penuh konflik, ambisi, dan identitas. Milan bukan hanya kota mode dan bisnis, tetapi juga panggung di mana cinta dan benci berdiri berdampingan. Di satu sisi ada AC Milan dengan warna merah hitam yang menyala seperti api ambisi. Di sisi lain ada Inter Milan dengan biru hitam yang dingin namun mematikan. Mereka berbagi stadion San Siro, berbagi jalan, bahkan berbagi langit. Namun, mereka tak pernah berbagi hati.
Awal Mula Perpecahan yang Melahirkan Inter
Sejarah Derby della Madonnina bermula pada 1899 saat AC Milan didirikan oleh Alfred Edwards dan Herbert Kilpin. Awalnya, klub ini terbuka bagi siapa saja, termasuk pemain asing. Namun pada 9 Maret 1908, perpecahan terjadi.
Sejumlah anggota menolak kebijakan pembatasan pemain asing yang diterapkan AC Milan. Bagi mereka, sepak bola tidak seharusnya mengenal batas negara. Dari perbedaan prinsip itulah lahir Internazionale Milano. Nama “Internazionale” dipilih sebagai simbol klub untuk semua bangsa.
Sejak malam itu, Milan memiliki dua jiwa. AC Milan kerap diidentikkan dengan simbol rakyat pekerja yang sederhana. Sementara Inter dikenal dengan citra kosmopolitan yang dekat dengan kalangan elit. Derbi pertama mereka terjadi pada awal abad ke-20 dan sejak itu, rivalitas ini menjadi lebih dari sekadar 90 menit pertandingan.
Intervensi Politik dan Bara Rivalitas
Pada 1928, ketika Italia berada di bawah rezim fasis, Inter dipaksa berganti nama menjadi Ambrosiana setelah digabung dengan klub lain. AC Milan pun berada di bawah tekanan kebijakan negara. Namun setelah Perang Dunia II berakhir, Inter kembali menggunakan nama aslinya pada 1945.
Sejak saat itu, rivalitas kembali menyala. Stadion San Siro menjadi saksi pertarungan dua identitas kota. Setiap gol terasa seperti peluru bagi lawan. Setiap sorakan adalah sumpah setia.
Era Keemasan: Rivera vs Mazzola
Pada era 1960-an, kedua klub sama-sama berjaya di Eropa. AC Milan memiliki Gianni Rivera, Il Golden Boy, yang bermain seolah waktu melambat di kakinya. Inter membalas dengan Sandro Mazzola, sosok yang mampu membuat stadion bergemuruh hanya dengan satu sentuhan.
Keduanya seperti dua matahari di langit yang sama. Tak pernah benar-benar berdampingan, tetapi saling memaksa untuk bersinar lebih terang. Kota Milan pun menikmati masa ketika dua klubnya duduk di singgasana Eropa.
Era 80-90an: Trio Belanda dan Bintang Jerman
Memasuki era 1980 hingga 1990-an, Derby della Madonnina menjadi tontonan dunia. AC Milan diperkuat trio Belanda: Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard. Inter menghadirkan kekuatan Jerman lewat Lothar Matthäus dan rekan-rekannya.
Derby bukan lagi milik warga Milan semata, tetapi menjadi panggung global. Setiap laga adalah pertaruhan gengsi dan harga diri.
Abad 21: Liga Champions dan Luka yang Tak Terlupakan
Memasuki abad ke-21, nama-nama seperti Kaká, Paolo Maldini, Andriy Shevchenko di kubu Milan serta Javier Zanetti, Esteban Cambiasso, dan Diego Milito di Inter memperpanjang kisah panas rivalitas ini.
April 2005 menjadi salah satu momen paling panas dalam sejarah Derby della Madonnina. Laga Liga Champions antara kedua tim diwarnai flare dan asap yang memenuhi San Siro. Milan melangkah, Inter terluka.
Namun sejarah berputar. Pada Mei 2023, Inter membalas dengan menyingkirkan Milan lewat dua kemenangan di semifinal Liga Champions. Rivalitas ini terbukti tak mengenal belas kasihan.
Rivalitas yang Tak Pernah Padam
Dalam sepak bola modern, keduanya mengalami pasang surut. AC Milan berjaya di Liga Champions 2003 dan 2007. Inter mencatat sejarah dengan treble winner 2010 di bawah Jose Mourinho.
Namun satu hal yang tak pernah berubah dari Derby della Madonnina adalah atmosfernya. Ketika Milan dan Inter bertemu, kota seolah berhenti sejenak. Karena di Milan, sepak bola bukan sekadar hobi, melainkan napas dan darah.
Derby della Madonnina adalah kisah dua saudara yang memilih jalan berbeda. Dan setiap pertemuan adalah kesempatan untuk membuktikan siapa yang pantas memegang mahkota Kota Milan.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.