BLITAR - Derbi Milan atau yang dikenal sebagai Derby della Madonnina menjadi salah satu laga paling bergengsi dalam sejarah sepak bola Italia. Pertemuan antara Inter Milan dan AC Milan ini bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan simbol rivalitas panjang yang sarat gengsi dan sejarah.
Derby della Madonnina sendiri diambil dari ikon kota Milan, yakni patung Madonna yang berada di puncak Katedral Duomo. Nama ini menjadi simbol penghormatan sekaligus identitas kuat bagi duel dua klub sekota tersebut.
Rivalitas Inter dan Milan sudah berlangsung sejak pertemuan pertama mereka pada Januari 1909. Sejak saat itu, kedua tim hampir selalu bertemu setidaknya dua kali setiap musim di Serie A, bahkan juga di kompetisi domestik maupun Eropa.
Rivalitas Kelas Sosial yang Melekat
Derbi Milan tidak hanya tentang sepak bola, tetapi juga mencerminkan perbedaan latar belakang sosial. Inter Milan kerap diasosiasikan dengan kalangan elite atau orang kaya di Milan. Sementara itu, AC Milan identik dengan kelas pekerja atau buruh.
Perbedaan ini menciptakan warna tersendiri dalam rivalitas. Suporter Inter sering dianggap lebih glamor, sedangkan pendukung Milan dikenal dengan akar kelas pekerja yang kuat.
Keunikan lain dari Derbi Milan adalah kedua tim berbagi stadion yang sama, yaitu San Siro. Stadion ini menjadi saksi bisu pertarungan sengit yang mempertemukan dua kekuatan besar dalam satu kota.
Daftar Top Skor dan Legenda Derbi Milan
Dalam sejarah Derbi Milan, sejumlah pemain mencatatkan namanya sebagai legenda. Andriy Shevchenko menjadi top skor sepanjang masa dengan 14 gol.
Di bawahnya ada Giuseppe Meazza yang mengoleksi 13 gol, serta Gunnar Nordahl dan Nils Liedholm yang masing-masing mencetak 11 gol.
Menariknya, banyak pemain yang pernah membela kedua klub. Nama-nama besar seperti Ronaldo Nazario, Andrea Pirlo, hingga Zlatan Ibrahimovic pernah merasakan atmosfer kedua kubu.
Laga Ikonik dan Insiden Bersejarah
Salah satu pertandingan paling dikenang terjadi pada perempat final Liga Champions 2004/2005. Saat itu, AC Milan unggul agregat sebelum pertandingan berubah kacau.
Gol Inter dianulir, dan situasi memanas ketika flare dilempar ke lapangan hingga mengenai kiper Milan, Dida. Pertandingan pun terpaksa dihentikan oleh wasit, menciptakan salah satu momen paling dramatis dalam sejarah derby.
Namun, Inter juga memiliki momen manis. Pada era Jose Mourinho, Inter sukses membantai Milan 4-0 pada 2009 dan kemudian meraih treble winners—prestasi bersejarah bagi klub tersebut.
Siapa Raja Kota Milan?
Perdebatan soal siapa yang menjadi penguasa Milan selalu menarik. AC Milan unggul dalam jumlah trofi Eropa dengan tujuh gelar Liga Champions, sementara Inter baru mengoleksi tiga.
Namun, Inter sedikit lebih unggul di kompetisi domestik Serie A dengan 20 gelar, dibandingkan Milan yang memiliki 19.
Jika melihat rekor head-to-head, Inter juga berada di depan. Dari total 242 pertemuan, Inter meraih 91 kemenangan, Milan 81 kemenangan, dan 70 laga berakhir imbang.
Perbedaan ini memang tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk memberi klaim bagi Inter sebagai pihak yang lebih unggul dalam rivalitas.
Pada akhirnya, siapa raja kota Milan kembali pada sudut pandang masing-masing suporter. Yang jelas, Derbi Milan akan selalu menjadi salah satu pertandingan paling panas dan bersejarah di dunia sepak bola.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.