Sepanjang pertandingan, hasil Persib vs Persita ini sangat dipengaruhi oleh kecerdasan taktik pelatih Persita Tangerang, Carlos Pena. Skuad berjuluk Pendekar Cisadane itu menerapkan skema pertahanan mid-block press yang sangat rapat dan disiplin. Taktik ini mengingatkan publik pada laga sebelumnya saat Persita sukses meredam agresivitas Persija Jakarta. Ketika pemain Persib mencoba mengalirkan bola ke area tengah lapangan (central progression), barisan gelandang Persita langsung melakukan penjepitan ( pressing ketat) yang membuat tuan rumah frustrasi.
Akibat penjagaan ekstra ketat tersebut, Persib Bandung dipaksa berkali-kali mengubah arah serangan melalui sisi sayap (flank). Sayangnya, suplai umpan silang (crossing) yang dilepaskan para pemain sayap Persib kerap kali buntu dan tidak mempan menembus blok pertahanan lawan. Kerapatan jarak antar lini (compactness) yang dibentuk oleh formasi 4-4-2 Persita membuat akses aliran bola menuju pemain kunci Persib seperti Adam Alis dan Franca Putros nyaris sepenuhnya tertutup.
Strategi Salida La Volpiana yang Gagal Menembus Rapatnya Persita
Menghadapi kebuntuan tersebut, Bojan Hodak mencoba menerapkan prinsip permainan Salida La Volpiana. Taktik yang dipopulerkan oleh Pep Guardiola dan diilhami dari pelatih Meksiko, Ricardo La Volpe ini, menginstruksikan satu gelandang bertahan (seperti Franca Putros) untuk turun menjemput bola ke area pertahanan, berdiri di antara dua bek tengah. Tujuannya adalah menciptakan keunggulan jumlah pemain (superioritas 3 lawan 2) saat melakukan progresi serangan dari bawah (build-up).
Namun, eksekusi strategi ini di lapangan tidak berjalan mulus. Empat gelandang Persita tampil sangat presisi dan terukur dalam memberikan dukungan pertahanan. Mereka menutup setiap celah operan sehingga taktik Salida La Volpiana Persib tidak menjamin bola bisa mengalir ke depan dengan mudah. Pemain Persita seperti Hokky Caraka dengan cerdas menempatkan posisi tubuhnya (body shape) untuk memaksa pemain Persib membuang bola ke sektor kiri, menjauh dari zona bahaya.
Jika Persib memaksakan diri mengirim umpan ke tengah menuju Adam Alis atau Luciano Guaycochea, risikonya sangat fatal. Kedua pemain tersebut sering kali gagal menahan bola dengan sempurna. Kesalahan sekecil apa pun di area tersebut akan langsung memicu serangan balik cepat (transisi) dari Persita yang bisa berhadapan langsung dengan lini belakang Persib.
Gol Penentu dari Skema Bola Mati dan Kontroversi Wasit
Di tengah kesulitan membongkar pertahanan lawan dari permainan terbuka (open play), Persib akhirnya menemukan jalan keluar melalui skema bola mati (set piece). Striker andalan mereka, Andrew Yung, kembali membuktikan insting pembunuhnya. Memanfaatkan kelengahan bek Persita (diduga Nur Hardianto) yang gagal melakukan penjagaan ketat, Yung sukses menceploskan bola ke gawang lawan, memastikan kemenangan 1-0 untuk tuan rumah.
Secara permainan keseluruhan, Persib memang tidak tampil menawan. Namun, itulah ciri khas Bojan Hodak; mengutamakan efisiensi hasil akhir di atas keindahan bermain. Kredit khusus patut diberikan kepada Franca Putros yang tampil brilian sebagai gelandang bertahan, sukses mematahkan berbagai upaya serangan balik lawan. Namun, pekerjaan rumah menanti Persib, terutama terkait kreativitas serangan jika kelak berlaga di kompetisi level Asia yang menuntut variasi taktik lebih kaya.
Laga ketat ini sayangnya harus dinodai oleh sebuah insiden kontroversial yang melibatkan keputusan wasit. Terdapat momen kesalahpahaman antara wasit tengah dan wasit cadangan terkait prosedur pergantian pemain, tepat saat Persita sedang membangun momentum krusial. Meski para pemain Persita merespons dengan profesional dan melanjutkan laga, pelatih Carlos Pena sempat menyuarakan kekecewaannya usai pertandingan. Sangat disayangkan, di level kompetisi tertinggi, hal sepele terkait administrasi pertandingan justru merusak ritme dan mencuri sorotan utama dari pertarungan taktik apik kedua tim.
Editor : Anggi Septian A.P.