Kekecewaan akibat tersingkir dari kompetisi Asia tentu sangat dirasakan oleh seluruh elemen tim dan para Bobotoh. Namun, Bojan Hodak tidak ingin anak asuhnya berlarut-larut dalam kesedihan. Juru taktik berpaspor Kroasia itu menuntut reaksi cepat dan mentalitas bangkit dari skuadnya. Ujian terdekat sekaligus momentum kebangkitan tersebut sudah menanti di depan mata, yakni laga pekan ke-22 Super League 2025/2026 melawan Persita Tangerang.
Pertandingan sarat gengsi tersebut dijadwalkan berlangsung di hadapan puluhan ribu pendukung setia mereka di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Minggu, 22 Februari 2026 malam WIB. Menjadikan Persib fokus Liga domestik bukan sekadar isapan jempol belaka, melainkan sebuah keharusan mutlak jika Pangeran Biru masih ingin bersaing di jalur perebutan takhta juara musim ini. Laga akhir pekan ini akan menjadi pembuktian sejauh mana kekuatan mental Marc Klok dan kawan-kawan.
"Tidak apa-apa kami tersingkir dari Asia. Sekarang kami akan menaruh fokus 100 persen ke liga. Di depan, lawan berat sudah menanti. Jika kami bisa mempertahankan ritme dan performa permainan, saya sangat yakin kami bisa mendapatkan hasil positif," tegas Bojan Hodak memompa semangat anak asuhnya.
Misi Balas Dendam dan Waspada Tembok Baja Persita
Laga melawan Persita Tangerang bukan sekadar pertandingan rutin untuk memperebutkan tiga poin. Pertandingan ini membawa misi ganda: sebagai titik tolak kebangkitan pasca-kegagalan di Asia, sekaligus ajang balas dendam. Pasalnya, pada pertemuan putaran pertama lalu di Stadion Indomilk Arena, Persib harus mengakui keunggulan Pendekar Cisadane dengan skor tipis 1-2. Kekalahan tersebut diwarnai oleh kegagalan eksekusi penalti dan inefisiensi penyelesaian akhir lini serang Persib.
"Kami kalah 1-2 di pertemuan pertama dan sempat gagal mengeksekusi penalti. Mereka adalah tim yang sangat terorganisir dengan pelatih yang sangat berpengalaman di sepak bola Indonesia," kenang Hodak. Ia sangat mewaspadai solidnya barisan pertahanan lawan yang dikenal sebagai salah satu tembok baja paling sulit ditembus di liga musim ini.
Meski tidak dikenal sangat produktif dalam urusan mencetak gol, Persita memiliki keunggulan mutlak dalam skema serangan balik cepat (counter-attack). "Persita tidak banyak kebobolan dan bermain sangat kompak. Mereka akan sangat berbahaya jika kami memberi banyak ruang kosong di lini pertahanan," imbuh eks pelatih PSM Makassar tersebut. Kedisiplinan posisi menjadi kunci utama bagi Persib agar tidak kembali terpeleset.
Nasib Tragis Adam Pryzbek: Dicoret Tanpa Menit Bermain Tersisa
Di sisi lain, tersingkirnya Persib dari ACL 2 membawa dampak tragis bagi karier penjaga gawang asal Wales, Adam Pryzbek. Kiper berusia 25 tahun itu sebelumnya tidak didaftarkan di kompetisi domestik karena regulasi kuota pemain asing. Manajemen menjadikannya opsi khusus untuk kompetisi Asia. Namun, dengan berakhirnya kiprah Maung Bandung di level benua, otomatis Pryzbek kehilangan seluruh panggung untuk unjuk gigi hingga musim ini rampung.
Menghadapi kenyataan pahit tersebut, Pryzbek menunjukkan sikap profesional yang patut diacungi jempol. "Ya, ini sepak bola. Saya memang frustrasi, tetapi ini sudah menjadi keputusan pelatih untuk mencabut saya dari skuad (liga domestik). Saya harus mengikuti ini. Tentu saja saya akan tetap profesional dan menyelesaikan musim ini," ujar Pryzbek, Sabtu (21/2).
Meski kariernya di atas lapangan hijau tidak berjalan mulus, mantan kiper Timnas Wales U-21 itu mengaku sangat menikmati adaptasi kehidupannya di luar lapangan selama menetap di Bandung. Sebagai langkah antisipasi menambal posisi penjaga gawang, manajemen Persib telah mengambil keputusan mengejutkan dengan kembali mendaftarkan kiper veteran, I Made Wirawan, yang sebelumnya telah gantung sepatu dan beralih peran menjadi asisten pelatih kiper. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.