BLITAR - Logo Adidas menjadi salah satu identitas brand paling ikonik di dunia. Namun tak seperti kompetitornya, Adidas justru memiliki banyak variasi logo yang berbeda. Fakta ini sering memunculkan pertanyaan: kenapa logo Adidas tidak dibuat satu saja seperti brand lain?
Dalam dunia branding, konsistensi visual biasanya menjadi kunci utama. Brand seperti Nike hanya dikenal dengan satu logo sederhana, begitu juga Puma. Namun, Adidas justru mengambil pendekatan berbeda dengan menghadirkan berbagai logo yang memiliki fungsi masing-masing.
Sejarah panjang logo Adidas ternyata berakar dari konflik keluarga. Brand ini awalnya berasal dari perusahaan sepatu bernama Dassler Brothers yang didirikan oleh dua saudara, Adolf dan Rudolf Dassler, pada era 1920-an. Namun, hubungan keduanya memburuk pasca Perang Dunia II hingga akhirnya mereka berpisah dan mendirikan brand masing-masing.
Adolf Dassler kemudian mendirikan Adidas, sementara Rudolf mendirikan Puma. Dari sinilah perjalanan logo Adidas dimulai dengan berbagai evolusi yang menarik.
Awal Mula Identitas Tiga Garis
Pada awalnya, Adidas masih menggunakan identitas dua garis khas Dassler Brothers. Namun Adolf Dassler ingin menciptakan identitas baru yang lebih kuat dan berbeda.
Ia kemudian bereksperimen dengan jumlah garis pada sepatu dan akhirnya memilih tiga garis sebagai ciri khas. Menariknya, tiga garis tersebut ternyata bukan murni milik Adidas sejak awal.
Pada tahun 1952, Adidas membeli hak penggunaan tiga garis dari brand asal Finlandia, Karhu. Dalam kondisi finansial sulit, Karhu setuju menjual trademark tersebut dengan harga sekitar 1.600 euro dan dua botol wine. Sejak saat itu, tiga garis resmi menjadi identitas utama Adidas hingga sekarang.
Lahirnya Berbagai Logo Adidas
Seiring berkembangnya bisnis, Adidas mulai menciptakan berbagai logo untuk membedakan lini produknya.
Logo pertama yang cukup dikenal adalah Trefoil, yang muncul pada tahun 1971. Logo berbentuk daun dengan tiga garis horizontal ini awalnya digunakan untuk produk apparel. Kini, Trefoil menjadi identitas untuk lini Adidas Originals yang fokus pada produk klasik dan vintage.
Kemudian muncul logo “mountain” atau yang dikenal sebagai Three Bars pada tahun 1991. Logo ini awalnya digunakan untuk lini Adidas Equipment (EQT), yang berfokus pada performa atlet profesional. Sejak saat itu, logo ini berkembang menjadi simbol utama Adidas Performance.
Strategi Branding dengan Banyak Logo
Masuk ke era 2000-an, Adidas kembali memperluas segmentasi pasar dengan meluncurkan Adidas Neo. Logo berbentuk lingkaran dengan tiga garis ini dirancang untuk menyasar anak muda dengan harga yang lebih terjangkau.
Selain itu, Adidas juga memperkenalkan logo wordmark yang menggabungkan tulisan Adidas dengan tiga garis. Logo ini sering digunakan pada apparel seperti celana olahraga dan jaket.
Strategi ini menunjukkan bahwa banyaknya logo bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari pendekatan branding yang matang. Setiap logo memiliki target pasar dan fungsi yang berbeda, mulai dari produk klasik, performa atlet, hingga segmen remaja.
Satu Identitas, Banyak Wajah
Meski memiliki banyak logo, Adidas tetap mempertahankan satu elemen utama: tiga garis. Elemen ini menjadi benang merah yang menyatukan seluruh identitas visual brand tersebut.
Bahkan pada Piala Dunia 2022, Adidas sempat memperkenalkan versi logo Three Bars tanpa tulisan “Adidas” untuk lini performance. Ini menunjukkan bahwa kekuatan visual tiga garis sudah cukup kuat tanpa perlu tambahan teks.
Kesimpulannya, banyaknya logo Adidas bukanlah tanda inkonsistensi, melainkan strategi untuk menjangkau berbagai segmen pasar secara efektif. Dengan tetap mempertahankan identitas tiga garis, Adidas berhasil membangun brand global yang fleksibel namun tetap kuat.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.