BLITAR- Peta persaingan sneakers dunia sedang mengalami pergeseran drastis. Nike, raksasa olahraga yang biasanya mematok harga tinggi untuk setiap lini produk populernya, kini mulai "turun gunung".
Salah satu artikel yang tengah menjadi bahan perbincangan hangat atau sering disebut sebagai 'gorengan' terkini adalah Nike P-6000.
Sepatu yang mengusung gaya retro runner ini mendadak viral bukan hanya karena desainnya, tetapi karena harganya yang jatuh di bawah Rp 1 juta di berbagai marketplace seperti Kick Avenue.
Munculnya Nike P-6000 dengan kualitas jempolan namun harga terjangkau justru memicu spekulasi mengejutkan.
Banyak pengamat dan sneakerheads menyebut bahwa ini adalah pertanda Nike sedang berada di "dasar jurang".
Jika biasanya Nike baru akan memberikan diskon untuk produk "ampas", kali ini barang yang tergolong holy grail dan memiliki performa tinggi justru dijual murah demi mengejar target penjualan yang mulai dihantam kompetitor seperti New Balance dan ASICS.
Berdasarkan hasil bedah sepatu, Nike P-6000 memiliki konstruksi upper yang cukup kompleks. Materialnya terdiri dari tiga tipe: kulit sintetis pada logo dan panel atas, material TPU, serta kulit asli (real leather) pada panel utama yang mengelilingi sepatu hingga area toe box.
Meskipun kulit aslinya merupakan tipe corrected grain yang telah diamplas, kualitas ini dinilai sangat layak untuk sepatu di rentang harga Rp 1 jutaan.
Satu catatan penting bagi calon pembeli adalah material mesh-nya. Dari hasil pengujian, daya tarik mesh sepatu ini sangat kuat (mencapai 4,817 kgf), yang berarti sangat awet.
Namun, mesh berwarna putih pada seri ini sangat mudah kotor dan sulit dibersihkan. "Ini penting bagi pengguna P-6000, bahan mesh-nya gampang dekil. Hindari warna putih jika ingin sepatu terlihat bersih dalam waktu lama," tulis laporan hasil bedah tersebut.
Meski tidak dibekali teknologi mumpuni seperti Nike Air atau Zoom, Nike P-6000 mengejutkan banyak pihak dengan kenyamanannya.
Midsole-nya memiliki tingkat keempukan (durometer) di angka 21, yang tergolong sangat empuk untuk standar sepatu harian.
Bahkan, banyak pengguna yang menganggap sepatu ini lebih nyaman dan memiliki area toe box yang lebih lebar dibandingkan Nike Vomero 5 yang harganya jauh lebih mahal.
Untuk urusan kestabilan, sepatu ini dilengkapi dengan plat di bagian tengah serta outsole bermotif waffle yang legendaris.
Karet outsole-nya memiliki daya cengkeram (grip) yang luar biasa dan ketahanan yang setara dengan seri premium brand kompetitor. Hal ini membuat Nike P-6000 sangat direkomendasikan sebagai walking shoes bagi mereka yang aktif bergerak setiap hari.
Fenomena murahnya Nike P-6000 di pasaran disebut-sebut sebagai strategi bertahan Nike. Di segmen retro sneakers, Nike mulai kewalahan menghadapi dominasi New Balance 530 dan ASICS 1130.
Akibatnya, stok barang yang dulunya sangat langka kini menumpuk di berbagai factory outlet dengan ukuran yang lengkap.
Nike yang dulu dikenal eksklusif, kini tampak lebih "fakir" dan butuh jualan cepat demi menyerap pasar.
Bagi masyarakat di Blitar dan sekitarnya yang ingin tampil gaya tanpa harus merogoh kocek dalam, momen ini adalah waktu yang tepat untuk beralih ke barang original.
Dengan harga yang kini bersaing dengan brand lokal, memiliki sepatu dari brand global dengan kualitas Nike P-6000 tentu menjadi pilihan yang jauh lebih rasional daripada membeli barang tiruan atau KW.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.