Fahri menceritakan bahwa perjalanannya mengumpulkan koleksi jersey Persib dimulai secara tidak sengaja sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) sekitar tahun 2003 atau 2004. Awalnya, ia hanya membeli beberapa potong kaus biasa. Namun, seiring berjalannya waktu dan pergantian musim kompetisi, jumlah seragam di lemarinya terus bertambah secara masif. Kini, Fahri memperkirakan dirinya memiliki sekitar 75 hingga 80 potong seragam orisinal yang sarat akan nilai sejarah perjalanan klub kesayangannya tersebut.
Menurut Fahri, berburu koleksi jersey Persib di era 2000-an awal memiliki tantangan tersendiri dibandingkan masa kini. Jika saat ini Bobotoh dimanjakan dengan kehadiran official store (Persib Store) yang menyediakan merchandise resmi secara mudah, pada masa lalu, Fahri harus bergerilya mencari barang dari kolektor senior atau mantan pengurus klub. Barang-barang bersejarah di bawah tahun 2008 mayoritas ia dapatkan melalui jaringan pertemanan sesama pencinta Persib yang fanatik.
Merawat Sejarah Skuad Pangeran Biru
Di antara puluhan kaus yang berjajar rapi di lemarinya, Fahri memiliki beberapa edisi yang sangat berkesan dan sulit didapatkan. Salah satu mahakarya dalam koleksinya adalah seragam yang dikenakan oleh legenda Sutiono Lamso pada musim kompetisi 1995/1996. Perjuangan untuk mendapatkan kaus bersejarah tersebut tidaklah mudah; ia harus melakukan negosiasi alot selama hampir satu tahun dengan seorang kolektor senior yang awalnya sangat enggan melepas barang langka tersebut.
Selain edisi Sutiono, Fahri juga menyimpan seragam yang dikenakan Achmad Jufriyanto (Jupe) saat menjadi pahlawan penentu gelar juara Indonesia Super League (ISL) 2014. Cerita di balik seragam ini cukup unik. Ia mendapatkannya secara tidak terduga dari seorang kenalan di Palembang sesaat setelah laga final bersejarah tersebut usai. Bagi Fahri, lima edisi favoritnya tidak hanya dinilai dari keindahan desain visual, tetapi lebih pada memori dan sejarah yang melekat pada setiap helai kainnya.
Bahkan, ia menyimpan satu edisi sangat langka dari tahun 2003 ketika Persib sempat mengganti logo kebesarannya secara temporer. Seragam buatan pabrikan lokal dengan lambang yang tak biasa itu menjadi bukti otentik dinamika sejarah klub di era awal milenium.
Tidak Untuk Dijual, Rencana Diwariskan atau Disumbangkan
Sebagai seorang puritan dalam dunia kolektor, Fahri menegaskan prinsip utamanya: ia mencintai lambang di dada melebihi nama di punggung. Karena pengalaman kurang menyenangkan di masa lalu, ia bahkan menghindari meminta tanda tangan pemain pada koleksinya. Menariknya, meski nilai dari puluhan seragam bersejarah itu bisa mencapai angka yang fantastis di pasaran, Fahri tidak memiliki niatan sedikit pun untuk menjualnya, terlepas dari tawaran gila-gilaan yang kerap menghampirinya.
Sang istri, yang saat ini tengah mengandung anak ketiga, juga sangat memahami dan mendukung hobi suaminya. Namun, Fahri memiliki visi jauh ke depan terkait nasib harta karunnya ini. Ia berencana mewariskan seluruh seragam tersebut jika kelak dikaruniai anak laki-laki yang memiliki minat serupa pada sepak bola dan Persib.
Namun, jika garis keturunannya mayoritas perempuan, Fahri dengan legawa membuka opsi untuk menyumbangkan seluruh benda bersejarah tersebut ke museum atau yayasan agar nilai historisnya tetap terjaga dan bisa dinikmati oleh generasi Bobotoh di masa mendatang. "Daripada dijual, saya lebih ikhlas jika barang-barang ini disumbangkan demi menjaga sejarah klub," pungkasnya dengan senyum tulus. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.