Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Tak Terungkap 2 Dekade Silam! Terbongkar Awal Mula Sejarah Rivalitas Persib dan Persija di Stadion Siliwangi yang Berujung Tragedi

Saifullah Muhammad Jafar • Selasa, 24 Februari 2026 | 13:35 WIB

Terbongkar! Kisah awal mula sejarah rivalitas Persib dan Persija di Stadion Siliwangi era 90-an yang berujung dendam. Simak pengakuan tokoh
Terbongkar! Kisah awal mula sejarah rivalitas Persib dan Persija di Stadion Siliwangi era 90-an yang berujung dendam. Simak pengakuan tokoh
BLITAR - Pertemuan antara Persib Bandung dan Persija Jakarta selalu menyajikan tensi tinggi, baik di atas lapangan maupun di tribun penonton. Perseteruan kedua basis suporter, Bobotoh dan The Jakmania, telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Namun, tidak banyak yang benar-benar mengetahui akar permasalahan yang memicu sejarah rivalitas Persib dan Persija hingga menjadi salah satu konflik suporter paling panas di Asia Tenggara.

Dalam sebuah perbincangan bersejarah baru-baru ini, dua tokoh kultural dari masing-masing kubu, yakni Yana Umar (pentolan Bobotoh/Viking) dan Abi Irlan (pentolan The Jakmania), akhirnya duduk bersama membongkar awal mula sejarah rivalitas Persib dan Persija. Pertemuan yang diinisiasi pasca-tragedi Kanjuruhan ini membuka tabir masa lalu yang selama ini simpang siur di kalangan akar rumput.

Menurut penuturan Abi Irlan, percikan awal sejarah rivalitas Persib dan Persija bermula pada era akhir 90-an, tepatnya sekitar musim 1996/1997. Saat itu, hubungan kedua kubu sejatinya masih terjalin baik-baik saja. Puncak ketegangan justru terjadi karena masalah komunikasi dan kuota tiket saat The Jakmania melakoni away days (tur tandang) besar-besaran dengan 10 bus ke markas Persib yang kala itu masih bermarkas di Stadion Siliwangi yang legendaris.

Tragedi Miskomunikasi di Siliwangi

Rombongan The Jakmania yang berangkat dari Menteng, Jakarta, tiba di Bandung dalam kondisi kesiangan akibat kendala di perjalanan. Sesampainya di Stadion Siliwangi, kapasitas tribun yang hanya menampung sekitar 18.000 penonton sudah terlanjur penuh sesak oleh Bobotoh. Pihak Panitia Pelaksana (Panpel) dan aparat keamanan pun kewalahan dan tidak bisa memasukkan ribuan suporter tamu ke dalam stadion.

Di tengah kebingungan dan kekecewaan karena gagal menonton tim kesayangannya berlaga, terjadilah sebuah insiden kecil yang berakibat fatal. Abi Irlan mengisahkan pengalamannya saat mencari musala di area stadion. Di sana, ia terpisah dari rombongannya dan sempat diinterogasi hingga berujung pada pengeroyokan oleh oknum tak dikenal. Ironisnya, Yana Umar (yang kala itu belum saling mengenal dengan Irlan) adalah sosok yang berusaha menyelamatkan dan melindungi Irlan dari amukan massa, meski dirinya mengenakan atribut khas Viking dengan tanduk.

"Saya ingat banget, yang lindungin saya itu orang yang pakai atribut Viking, celana 3/4. Dia yang marah ke oknum yang mukulin saya. Itu momen yang enggak pernah saya lupa," ungkap Abi Irlan mengenang sosok Yana Umar di masa lalu.

Insiden pengeroyokan tersebut dan rasa frustrasi akibat gagal masuk stadion dibawa pulang oleh rombongan The Jakmania ke Jakarta. Dendam pun mulai tersulut. Puncaknya, aksi balasan terjadi saat oknum suporter mencegat dan mengejar Bobotoh di kawasan Parkir Timur Senayan seusai laga Timnas Indonesia. Dari sinilah roda konflik berputar tanpa henti, membesar, dan menelan banyak korban jiwa selama bertahun-tahun kemudian, terutama di wilayah perbatasan seperti Bogor, Bekasi, dan Karawang.

Tragedi Kanjuruhan Jadi Titik Balik Perdamaian

Dua dekade berlalu, luka akibat sejarah rivalitas Persib dan Persija telah merenggut nyawa suporter dari kedua belah pihak, seperti almarhum Rangga dan Haringga Sirla. Memasuki tahun 2022, Tragedi Kanjuruhan di Malang seolah menjadi tamparan keras bagi seluruh elemen sepak bola nasional. Peristiwa kelam tersebut memaksa para suporter untuk merenung dan menurunkan ego sektoral mereka.

Yana Umar dan Abi Irlan sepakat bahwa rivalitas yang kebablasan sudah tidak lagi memiliki nilai manfaat (mudharat). Mereka menekankan pentingnya mengambil energi positif dari Tragedi Kanjuruhan untuk menyudahi perseteruan yang tidak masuk akal ini.

Keduanya kini aktif menyuarakan pesan damai ke akar rumput, khususnya di daerah perbatasan yang kerap menjadi titik gesekan. Pesan yang dibawa sangat jelas: rivalitas hanya boleh terjadi selama 90 menit di atas tribun, selebihnya adalah persaudaraan sesama anak bangsa. "Kalau mendukung Persib atau Persija, dukunglah timmu dengan nyanyian untuk timmu, jangan ada lagi rasisme atau kebencian untuk tim lawan," pesan Abi Irlan menutup perbincangan. (*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Stadion Siliwangi #Sejarah Rivalitas Persib dan Persija #bobotoh #Tragedi Kanjuruhan #the jakmania