BLITAR – Tensi tinggi menyelimuti jelang partai puncak Proliga 2026. Alih-alih mempersiapkan taktik terakhir, kabar mengejutkan justru datang dari kubu Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia. Alexandra Baitenko, opposite andalan asal Ukraina, secara mendadak memutuskan untuk hengkang tepat sebelum laga final dimulai. Berita voli terbaru ini menjadi tamparan keras bagi manajemen dan suporter, apalagi alasan di balik mundurnya Baitenko tergolong tidak lazim: ia mengaku tidak yakin timnya mampu meredam kekuatan eksplosif Jakarta Pertamina Enduro, terutama sang bintang Megawati Hangestri Pertiwi.
Dalam rapat internal yang berlangsung tertutup, Baitenko secara dingin mengungkapkan keraguannya. Setelah melakukan analisis mendalam terhadap statistik dan tren performa lawan, ia merasa Gresik Petrokimia tidak memiliki senjata yang cukup untuk menahan gempuran Megawati yang tengah on fire. Keputusan ini memicu sengketa mental di dalam tim. "Dia tidak mau namanya tercatat sebagai bagian dari kekalahan telak di partai puncak," ungkap seorang sumber internal. Berita voli terbaru ini pun langsung viral dan mengubah peta kekuatan psikologis kedua tim hanya dalam hitungan hari.
Baca Juga: Soal Isu Kelangkaan Gas Melon, Disperindag Kabupaten Blitar Imbau Masyarakat Tak Panic Buying
Mentalitas Megawati Hangestri Jadi Faktor Pembeda
Di sisi lain, Jakarta Pertamina Enduro (JPE) tampak berada di atas angin. Megawati Hangestri Pertiwi memang tampil gila-gilaan musim ini. Smash keras, ketenangan di momen krusial, dan aura kepemimpinannya di lapangan telah menjadi faktor pembeda yang membuat nyali lawan ciut bahkan sebelum peluit dibunyikan. Menanggapi kabar mundurnya Baitenko karena "takut" padanya, Megawati hanya memberikan senyum tipis tanpa banyak komentar. Sikap kalem ini justru mempertegas aura kepercayaan diri yang luar biasa di kubu JPE.
Kondisi ini menciptakan keuntungan psikologis bagi Jakarta Pertamina Enduro. Latihan mereka tetap berjalan stabil dengan intensitas yang kian ditingkatkan. Banyak pengamat menilai bahwa kepergian Baitenko bukan sekadar kehilangan teknis di posisi serangan, melainkan runtuhnya simbol kepercayaan diri Gresik Petrokimia. Tanpa Baitenko, Gresik harus merombak skema serangan dalam waktu yang sangat singkat, sebuah risiko besar di panggung sebesar final Proliga.
Baca Juga: Masjid Ar Rahman Kota Blitar Rutin Gelar Kajian Kitab Tanbihul Ghafilin Tiap Jumat dan Minggu
Gresik Petrokimia Mencoba Bangkit dari Badai
Meski terguncang, manajemen Gresik Petrokimia berusaha cepat memadamkan api keraguan. Kapten tim mulai mengambil peran untuk membakar semangat rekan-rekannya, mengingatkan bahwa lambang di dada jauh lebih besar daripada satu nama di punggung. Pelatih pun kini dituntut untuk menyusun ulang strategi, mendorong pemain cadangan agar siap mengambil tanggung jawab besar di bawah sorotan ribuan pasang mata di arena.
Final Proliga 2026 kini bukan sekadar adu teknik, melainkan adu ketahanan mental. Jakarta Pertamina Enduro berdiri tegak dengan status favorit, sementara Gresik Petrokimia sedang berjuang membuktikan bahwa mereka bisa bangkit dari situasi tak terduga. Pertanyaannya, apakah ketakutan Baitenko akan terbukti di lapangan, atau justru menjadi pemicu semangat luar biasa bagi pemain Gresik yang tersisa untuk membungkam prediksi publik? Semua mata kini tertuju pada Sentul untuk menyaksikan akhir dari drama olahraga paling kontroversial tahun ini. (*)