Pakar transfer kenamaan, Fabrizio Romano, membocorkan informasi krusial terkait masa depan pemain bertahan asal Swiss itu. Dalam laporannya mengenai berita Inter Milan, Romano menegaskan bahwa manajemen klub benar-benar mengandalkan Akanji sepenuhnya, terlepas dari dua syarat formal dalam klausul kewajiban pembeliannya—yakni Inter harus meraih Scudetto musim ini dan sang pemain harus tampil minimal di 50% total pertandingan kompetitif tim.
Kepercayaan manajemen tersebut langsung dibayar lunas oleh Akanji di atas lapangan hijau. Saat Inter bertandang ke markas Lecce pada pekan ke-26 Serie A, ia tampil brilian meski masuk sebagai pemain pengganti. Akanji sukses mencetak gol kedua yang mengunci kemenangan 2-0 bagi timnya. Menariknya, gol tersebut lahir berkat skema bola mati mematikan yang dieksekusi sempurna oleh Federico Dimarco, sosok yang kini diakui Akanji memiliki "kaki kiri magis".
Kaki Kiri Magis Dimarco dan Mental Juara Bastoni
Seusai laga melawan Lecce, Akanji tak ragu melontarkan pujian setinggi langit untuk Dimarco. Ia menyebut kaki kiri wing-back asal Italia itu masuk dalam jajaran tiga terbaik dari semua pemain yang pernah bermain bersamanya. Pujian tersebut sangat beralasan, mengingat Dimarco kembali membuktikan dirinya sebagai raja assist sejati bagi tim. Pada laga tersebut, ia bahkan dinobatkan sebagai Man of the Match berkat dua assist krusialnya yang memecah kebuntuan tim asuhan Cristian Chivu.
Selain Dimarco, pujian juga mengalir deras untuk Alessandro Bastoni. Tampil di bawah tekanan dan cemoohan publik tuan rumah Stadion Via del Mare, bek muda Italia ini justru tampil sangat matang, tenang, dan penuh determinasi. Performa solidnya di lini belakang bahkan mendapat apresiasi khusus dari asisten pelatih, Aleksandar Kolarov, yang menyebut penampilan Bastoni layaknya seorang juara sejati saat ditarik keluar menjelang akhir pertandingan.
Baca Juga: Ramadan Jadi Momentum Melipatgandakan Pahala dan Pengampunan
Kurangi Rotasi Jelang Misi Comeback Liga Champions
Kemenangan beruntun di Serie A yang membawa Inter unggul 10 poin dari AC Milan menjadi modal psikologis yang sangat berharga. Kini, fokus utama Chivu dan pasukannya beralih sepenuhnya ke leg kedua playoff Liga Champions melawan Bodo/Glimt di San Siro. Tertinggal agregat 1-3 dari pertemuan pertama di Norwegia, Inter diharamkan melakukan kesalahan sekecil apa pun jika ingin melaju ke babak selanjutnya.
Belajar dari kekalahan di leg pertama, pendekatan taktikal Inter dikabarkan akan mengalami penyesuaian. Chivu didesak untuk meminimalisasi rotasi pemain dan menurunkan kekuatan penuh sejak menit awal. Kehadiran Federico Dimarco dan Piotr Zielinski, yang sempat diistirahatkan pada pertemuan sebelumnya, dinilai terlalu krusial untuk kembali diparkir. Apalagi, Inter dipastikan kehilangan sang kapten, Lautaro Martinez, akibat cedera, sehingga beban di lini serang kini bertumpu pada Marcus Thuram yang performanya tengah disorot karena dianggap kurang tajam di momen penentu.
Di tengah padatnya jadwal dan tekanan kompetisi, kabar baik datang dari ruang perawatan. Bek sayap andalan Denzel Dumfries dikabarkan telah kembali berlatih penuh pasca-cedera panjang sejak November lalu. Meski diprediksi belum akan dipaksakan tampil pada laga kontra Bodo/Glimt, kehadiran Dumfries tentu menjadi suntikan tenaga segar jelang laga Serie A melawan Genoa akhir pekan mendatang. Selain itu, manajemen juga dilaporkan terus memantau situasi kontrak Ibrahima Konate di Liverpool guna memperkuat lini belakang musim depan, bersaing ketat dengan Real Madrid. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.