BLITAR- Panggung babak 16 besar Liga Champions UEFA musim 2025-2026 mendadak mencekam.
Bukan karena adu taktik di lapangan hijau, melainkan karena mencuatnya skandal rasisme yang melibatkan winger muda Benfica, Gianluca Prestiani, dengan bintang Real Madrid, Vinicius Junior.
Polemik ini menjadi sorotan dunia setelah laga leg pertama berakhir dengan ketegangan tinggi yang menyeret isu diskriminasi rasial.
Tuduhan serius ini bermula ketika para pemain Real Madrid, termasuk sang kapten timnas Prancis, Kylian Mbappe, mengklaim mendengar Prestiani melontarkan kata "mono".
Dalam bahasa Spanyol, istilah tersebut berarti monyet, sebuah hinaan rasial yang secara historis sering digunakan untuk menyerang pemain kulit hitam.
Akibat laporan ini, Badan Kontrol, Etika, dan Disiplin UEFA bergerak cepat dengan menjatuhkan sanksi penangguhan sementara kepada Prestiani.
Sanksi tersebut memastikan Prestiani absen dalam laga krusial leg kedua di Stadion Santiago Bernabeu.
UEFA menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen nol toleransi terhadap segala bentuk rasisme di sepak bola Eropa.
Namun, keputusan ini memicu gelombang reaksi balik, baik dari pihak klub Benfica maupun dari sang pemain sendiri yang merasa nama baiknya dicemarkan tanpa bukti yang kuat.
Di tengah investigasi yang berjalan, muncul fakta baru yang semakin memperkeruh suasana. Gianluca Prestiani membantah keras tuduhan rasisme tersebut dan menyebut terjadi kesalahpahaman karena kebisingan stadion.
Namun, laporan terbaru menyebutkan bahwa dalam komunikasinya dengan UEFA, pemain asal Argentina tersebut justru mengakui sempat melontarkan kata-kata bernada homofobik seperti "guai" kepada Vinicius Junior.
Meskipun berbeda dari tuduhan awal yakni kata "mono", pengakuan ujaran homofobik tetap melanggar regulasi disiplin UEFA yang sangat ketat.
Hal ini membuat fokus penyelidikan kini meluas, tidak hanya soal rasisme, tetapi juga perilaku diskriminatif secara umum.
Situasi ini pun berdampak luas ke ranah digital; Prestiani menjadi sasaran perundungan masif oleh ribuan warganet di akun Instagram pribadinya, menciptakan paradoks di mana terduga pelaku diskriminasi justru menjadi korban ujaran kebencian di dunia maya.
Tidak tinggal diam, Prestiani melalui tim kuasa hukumnya dikabarkan sedang menyiapkan langkah hukum luar biasa.
Pemain muda ini berencana mengajukan tuntutan balik terhadap Vinicius Junior dan Kylian Mbappe ke UEFA, FIFA, bahkan hingga pengadilan sipil di Portugal.
Ia menilai pernyataan kedua pemain Real Madrid tersebut telah merusak citra profesionalnya di level tertinggi sepak bola dunia.
Di sisi lain, Benfica berada dalam posisi yang sangat terjepit. Selain kehilangan Prestiani karena sanksi, mereka juga dipastikan tidak akan didampingi pelatih kawakan Jose Mourinho yang menerima kartu merah pada laga pertama.
"The Special One" terpaksa menonton dari tribun saat timnya mencoba mempertahankan peluang lolos di kandang Madrid.
Benfica menyatakan ketidakpuasannya dan sedang mengupayakan banding atas sanksi penangguhan sementara ini.
Skandal rasisme ini kembali mengingatkan publik akan rentannya integritas olahraga terhadap perilaku diskriminatif.
Hasil investigasi akhir dari UEFA nantinya akan menjadi preseden penting dalam sejarah sepak bola modern, apakah akan berujung pada sanksi yang lebih berat bagi Prestiani atau justru membuktikan adanya laporan palsu yang mencederai sportivitas.
Seluruh mata pecinta bola kini tertuju pada keputusan final otoritas sepak bola Eropa tersebut.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.