BLITAR- Peta kekuatan sepak bola Eropa tengah mengalami pergeseran besar-besaran. Berakhirnya fase liga Liga Champions musim 2025/2026 menyisakan pemandangan unik sekaligus mengerikan bagi rival-rival di Benua Biru.
Dari delapan tim teratas yang dipastikan melenggang langsung ke babak 16 besar, lima di antaranya merupakan klub-klub raksasa yang bermarkas di Inggris.
Dominasi ini menjadi sejarah baru setelah Inggris mendapatkan berkah tambahan kuota enam tim akibat tingginya koefisien Premier League di ranking UEFA.
Hasilnya, tim-tim asal Negeri Raja Charles tersebut tampil digdaya. Arsenal memimpin sebagai "Panglima Klasemen" dengan poin sempurna, 24 poin dari delapan laga tanpa tersentuh kekalahan.
Di belakangnya, Liverpool, Tottenham Hotspur, Chelsea, dan Manchester City membuntuti di jajaran delapan besar, hanya menyisakan celah bagi Bayern Munchen, Barcelona, dan Sporting CP.
Fenomena hegemoni klub Inggris ini bukan tanpa alasan. Faktor utama yang paling mencolok adalah jurang finansial yang kian menganga antara Premier League dan liga-liga Eropa lainnya.
Berdasarkan data Deloitte Football Money League, kelima klub Inggris yang lolos otomatis ke 16 besar tersebut masuk dalam jajaran 10 klub dengan pendapatan terbesar di dunia.
Keunggulan finansial ini terlihat jelas dari nilai hak siar televisi. Sebagai perbandingan, Manchester City mengantongi pendapatan hak siar sebesar 321,8 juta Euro, sementara tim sekelas Inter Milan hanya mendapatkan sekitar 81,6 juta Euro di musim yang sama.
Melimpahnya uang memungkinkan klub-klub ini melakukan investasi gila-gilaan pada bursa transfer pemain dan membangun kedalaman skuad yang merata.
Format baru Liga Champions yang menggunakan sistem fase liga dengan delapan pertandingan sangat menguras fisik pemain.
Di sinilah kedalaman skuad menjadi kunci. Pelatih Liverpool, Arne Slot, misalnya, mampu membentuk dua kerangka tim yang berbeda untuk kompetisi domestik dan Eropa berkat belanja jor-joran musim panas lalu.
Selain itu, gaya bermain di Liga Champions yang cenderung lebih terbuka dibandingkan Premier League yang sangat fisik, justru menguntungkan pemain teknis.
Winger Newcastle United, Anthony Gordon, menyebut bahwa UCL menyajikan "sepak bola yang sesungguhnya" karena tim-tim lawan cenderung kurang mengandalkan transisi cepat yang menguras tenaga seperti di Liga Inggris.
Meski tampil perkasa di fase liga, tantangan sesungguhnya bagi tim-tim Inggris baru akan dimulai di fase gugur.
Berdasarkan bagan terbaru UEFA, potensi laga-laga panas sudah di depan mata. Manchester City berpeluang membalas dendam pada Bodo/Glimt atau menghadapi raksasa Real Madrid.
Sementara itu, Arsenal diprediksi akan menghadapi lawan-lawan seperti Atalanta atau Borussia Dortmund.
Kejutan juga datang dari manajemen Chelsea yang kini ditangani Liam Rosenor. Setelah menggantikan Enzo Maresca, Rosenor terbukti mampu membawa The Blues keluar dari zona playoff dan langsung mengunci posisi keenam.
Dengan mentalitas juara yang sedang tinggi, mampukah salah satu dari wakil Inggris ini mengangkat trofi Si Kuping Lebar di akhir musim nanti? Publik sepak bola dunia kini menunggu apakah hegemoni ini akan berlanjut hingga partai final.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.