Huru-hara besar ini meletus pada akhir Februari 2026 setelah kematian seorang pimpinan kartel besar, Nemesio Oseguera alias El Mencho. Kematian gembong narkoba tersebut memicu kemarahan kelompok Cartel Jalisco New Generation (CJNG) yang langsung melakukan serangan balasan secara masif. Akibatnya, persiapan Piala Dunia 2026 Meksiko kini dibayangi oleh ketakutan luar biasa, mengingat kota-kota tuan rumah seperti Guadalajara tak luput dari sasaran perusakan fasilitas publik oleh anggota kartel bersenjata lengkap.
Kondisi ini semakin memperparah narasi negatif yang sudah lama menghantui persiapan turnamen. Sejak awal, penunjukan tiga negara sebagai host—Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko—memang sudah menuai polemik. Namun, eskalasi kekerasan terbaru ini membuat desakan boikot Piala Dunia 2026 Meksiko kembali menguat di kalangan komunitas internasional. FIFA pun dikabarkan tengah harap-harap cemas memantau situasi di lapangan yang kian tidak menentu.
Meksiko Membara: Bandara dan Stadion Jadi Sasaran
Berdasarkan video amatir yang beredar luas di media sosial, para anggota kartel menggunakan pakaian taktis selayaknya militer untuk menghancurkan berbagai fasilitas penting. Di Guadalajara, serangan merambah hingga ke area bandara dan fasilitas publik lainnya. Dampaknya merembet ke dunia sepak bola lokal; otoritas Meksiko terpaksa menangguhkan kompetisi Liga MX sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bahkan, sebuah pertandingan dilaporkan terhenti seketika saat terdengar rentetan suara tembakan dari luar stadion.
Eskalasi kerusuhan ini terjadi di saat Meksiko sebenarnya dijadwalkan menjadi lokasi fase playoff interkonfederasi pada Maret mendatang. Dengan situasi yang seperti medan perang, banyak pihak meragukan jaminan keamanan bagi atlet dan suporter mancanegara. Kanada, sebagai salah satu rekan tuan rumah, bahkan telah memberlakukan status situasi darurat sebagai respons atas gejolak yang terjadi di perbatasan selatan mereka.
Baca Juga: Daftar Lengkap Timnas Voli Putri Indonesia AVC Cup 2026, Skuad Muda Berani Tantang Asia!
Polemik Logo, Politik, dan Boikot Eropa
Selain masalah keamanan di Meksiko, gelaran Piala Dunia edisi ke-23 ini memang sudah dianggap problematik sejak awal. Publik menyoroti desain logo yang dinilai terlalu simpel dan "malas", serta kurangnya hype karena belum adanya lagu resmi yang dirilis mendekati hari H. Nuansa politis juga kental terasa seiring kedekatan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Donald Trump, yang memicu tuduhan adanya "anak emas" dalam penunjukan tuan rumah.
Di Eropa, seruan boikot pun bergema kencang. Prancis dan Jerman dikabarkan menjadi negara yang paling vokal menyuarakan keberatan mereka. Selain isu keamanan di Amerika Serikat yang tinggi akan angka penembakan massal, kebijakan visa dan travel ban yang ketat membuat banyak suporter merasa turnamen ini tidak inklusif. Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, bahkan setuju bahwa Amerika Serikat dan sekutunya saat ini merupakan tuan rumah yang problematik.
Akankah Venue Dipindahkan?
Sejarah mencatat bahwa Piala Dunia 1986 pernah dipindahkan dari Kolombia ke Meksiko karena alasan ketidaksiapan. Namun, memindahkan venue hanya empat bulan sebelum pembukaan di tahun 2026 ini dianggap sebagai misi yang hampir mustahil secara logistik. FIFA kabarnya sedang menimang opsi darurat untuk memindahkan beberapa pertandingan dari Meksiko ke lokasi yang lebih aman jika situasi CJNG tidak segera kondusif.
Hingga saat ini, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait pembatalan, namun opsi pemindahan lokasi pertandingan menjadi skenario yang paling realistis jika nyawa manusia menjadi taruhannya. Publik kini menunggu langkah tegas badan sepak bola dunia tersebut demi menyelamatkan martabat turnamen dari ancaman teror kartel. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.