Langkah Sepp Blatter dalam mendukung narasi Boikot Piala Dunia 2026 ini muncul sebagai respons langsung atas kritik tajam yang dilontarkan oleh pakar anti-korupsi asal Swiss, Mark Pieth. Keduanya secara terbuka mempertanyakan kelayakan Negeri Paman Sam untuk menjadi tuan rumah turnamen global di tengah situasi politik yang tidak menentu. Masalah kebijakan dalam dan luar negeri di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai menjadi faktor utama mengapa Amerika Serikat dianggap sebagai destinasi yang tidak aman bagi suporter internasional.
Blatter, yang memimpin FIFA selama 17 tahun, menyatakan kesepakatannya melalui media sosial X (dahulu Twitter). Ia menegaskan bahwa kekhawatiran yang diajukan oleh Mark Pieth adalah hal yang valid dan harus didengar oleh komunitas internasional. Isu Boikot Piala Dunia 2026 ini pun seketika viral dan memicu perdebatan sengit antara federasi sepak bola berbagai negara, mengingat Amerika Serikat memegang porsi terbesar sebagai penyelenggara bersama Kanada dan Meksiko.
Baca Juga: Polemik Proyek KDMP di Lingkungan SDN Tlogo 02 Blitar Belum Reda, Pemdes Tetap Ngotot Gunakan Ruang
Insiden Berdarah di Minneapolis Jadi Pemicu Utama
Mark Pieth, yang pernah memimpin komite tata kelola independen FIFA, membeberkan alasan kuat di balik seruan menjauhi Amerika Serikat. Ia menyinggung rentetan kekerasan yang melibatkan aparat keamanan di berbagai kota besar AS. Salah satu yang paling disorot adalah insiden penembakan terhadap seorang pengunjuk rasa bernama Rini Good oleh agen imigrasi di Minneapolis awal bulan ini.
Tak hanya itu, kematian warga Amerika lainnya, Alex Pretty, pada akhir pekan sebelumnya menambah daftar panjang ketakutan suporter internasional. "Pernyataan saya dimaksudkan sebagai peringatan bagi para suporter agar menimbang ulang rencana perjalanan mereka," tegas Pieth dalam sebuah wawancara media Swiss. Pendekatan keras pemerintah AS terhadap migran dan demonstran kebijakan imigrasi dianggap sebagai ancaman nyata yang bisa menimpa siapa saja, termasuk suporter bola dari negara luar.
Eropa Mulai Panaskan Opsi Boikot Serius
Gelombang penolakan ini ternyata tidak hanya datang dari tokoh individu. Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Oke Gold, juga memberikan sinyalemen yang mengejutkan. Ia menyatakan kepada media Jerman bahwa opsi Boikot Piala Dunia 2026 perlu dipertimbangkan secara serius oleh negara-negara peserta, khususnya dari Benua Biru.
Keresahan ini berakar pada kebijakan pembatasan perjalanan (travel ban) yang diterapkan AS, yang diprediksi akan menyulitkan suporter dari sejumlah negara peserta untuk masuk ke stadion. Selain faktor keamanan dan politik, harga tiket yang melambung tinggi dan dianggap tidak masuk akal bagi kantong suporter menengah ke bawah juga menjadi pelengkap daftar kontroversi turnamen ini.
FIFA di Bawah Tekanan Besar
Kini, bola panas berada di tangan FIFA. Dukungan Sepp Blatter terhadap aksi boikot ini seolah membuka luka lama organisasi sepak bola dunia tersebut terkait integritas penunjukan tuan rumah. Jika negara-negara besar seperti Jerman benar-benar merealisasikan ancaman boikot, maka nilai komersial dan prestise turnamen ini dipastikan akan merosot tajam.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah Amerika Serikat maupun panitia pelaksana lokal (LOC) belum memberikan tanggapan resmi terkait seruan dari Blatter dan Pieth. Namun, dinamika ini dipastikan akan membuat atmosfer menuju kick-off Piala Dunia mendatang semakin panas dan penuh dengan ketidakpastian keamanan bagi warga dunia yang berencana terbang ke Amerika Utara. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.