Namun, di balik kemenangan manis tersebut, terselip kabar kurang sedap yang kini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Gelandang andalan Persija Jakarta, Fabio Alano (Alano 5), kembali mendapatkan kartu kuning dalam laga tersebut. Meskipun ia dinobatkan sebagai Man of the Match berkat kontribusi luar biasanya di lini tengah, akumulasi kartu yang didapatnya memicu frustasi mendalam bagi sang pemain. Persija Jakarta memang tampil dominan secara statistik, namun bayang-bayang kartu kuning yang terus menghantui Alano mulai dianggap sebagai beban mental bagi pilar asing tersebut.
Usai laga melawan Malut United, Alano melalui akun media sosial pribadinya meluapkan curahan hati yang cukup mengejutkan publik sepak bola tanah air. Pemain yang telah mencatatkan tujuh kali gelar pemain terbaik pertandingan ini merasa diperlakukan tidak adil oleh korps baju hitam di Indonesia. Bahkan, ia sempat menyinggung isu sensitif mengenai warna kulit sebagai alasan mengapa dirinya begitu mudah dihadiahi kartu oleh wasit. Kabar ini tentu menjadi perhatian serius manajemen Persija Jakarta agar tidak mengganggu fokus tim yang sedang berada dalam jalur perebutan juara.
Baca Juga: Polemik Proyek KDMP di Lingkungan SDN Tlogo 02 Blitar Belum Reda, Pemdes Tetap Ngotot Gunakan Ruang
Dramaturgi Lapangan Hijau: Gol Indah dan Blunder Doni Tri
Jalannya pertandingan sendiri menyuguhkan drama sejak menit awal. Publik sempat dibuat ketar-ketir saat kiper muda Doni Tri melakukan salah passing yang hampir berbuah gol bagi lawan. Beruntung, lini pertahanan yang digawangi Rizky Ridho dan Tales masih cukup sigap mengantisipasi keadaan. Momentum kebangkitan tim ibu kota dimulai pada menit ke-8 melalui skema serangan balik cepat.
Umpan kunci dari Alano berhasil diterima dengan baik oleh Tubarau di sisi kanan. Melalui tusukan mautnya, Tubarau melepaskan crossing yang diselesaikan dengan dingin oleh "Aladin" Gustavo Almeida. Gol ini membuktikan bahwa lini depan Macan Kemayoran telah menemukan kembali sentuhan terbaiknya. Dominasi bola dan akurasi passing yang diperagakan para pemain membuat Malut United kesulitan mengembangkan permainan meski berstatus sebagai tuan rumah.
Polemik VAR dan Standar Kamera Liga Indonesia
Pertandingan ini juga tidak lepas dari kontroversi gol yang dianulir oleh wasit melalui bantuan Video Assistant Referee (VAR). Insiden gol Tubarau yang dianggap offside memicu perdebatan panjang di kalangan suporter. Pengamat sepak bola menyoroti bahwa masalah utama bukan terletak pada keputusan wasit atau teknologi VAR itu sendiri, melainkan pada jumlah dan sudut pengambilan kamera yang masih di bawah standar minimal.
Untuk menentukan garis offside yang akurat, idealnya kamera ditempatkan sejajar dengan posisi pemain di samping lapangan, bukan hanya mengandalkan perspektif dari depan. Masalah pencahayaan stadion atau lighting juga disinyalir memengaruhi kualitas detail gambar pada layar monitor VAR. Hal ini diharapkan menjadi bahan evaluasi serius bagi operator liga agar keadilan di lapangan hijau dapat ditegakkan seadil-adilnya bagi semua tim.
Baca Juga: Daftar Lengkap Timnas Voli Putri Indonesia AVC Cup 2026, Skuad Muda Berani Tantang Asia!
Klarifikasi Fabio Alano: Saya Bukan Orang Suci
Di akhir laga, Alano mengklarifikasi kegelisahannya. Ia menyebut bahwa selama sepuluh tahun berkarier sebagai pemain profesional di berbagai negara, termasuk Brasil, ia tidak pernah mendapatkan hukuman kartu sebanyak saat bermain di Indonesia. Alano merasa setiap gerak-geriknya selalu dipantau secara berlebihan oleh wasit, yang membuatnya kini harus bermain dengan rasa waswas dan tidak bisa tampil lepas.
"Mungkin jika kulit saya putih, saya tidak akan diperlakukan seperti ini. Saya bukan orang suci, saya hanya manusia biasa," tulis Alano dalam unggahan yang penuh emosi tersebut. Meskipun demikian, para suporter tetap memberikan dukungan moral kepada Alano dan meminta sang pemain untuk tetap tenang. Manajemen tim diharapkan dapat memberikan pendampingan psikologis agar masalah ini tidak merusak konsentrasi Alano dalam laga-laga krusial berikutnya. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.