BLITAR KAWENTAR - Penampilan pembalap muda Indonesia, Feda Ega Pratama, di ajang Moto3 Thailand 2026 langsung menyita perhatian.
Pada sesi latihan bebas pertama (FP1) yang digelar di Chang International Circuit, Jumat (26/2), Feda tampil impresif dengan sempat menembus posisi kedua sebelum akhirnya mengamankan peringkat keenam.
Sejak lampu hijau menyala, persaingan Moto3 Thailand 2026 langsung berlangsung panas.
Karakter Sirkuit Buriram yang menuntut akselerasi kuat dan pengereman presisi membuat para rider tak menunggu lama untuk mencatatkan waktu terbaik. Selisih antar pembalap begitu tipis, papan waktu berubah hampir setiap menit.
Di tengah ketatnya kompetisi itu, Feda sempat tercecer di posisi ke-10 bahkan turun ke peringkat ke-11 saat sesi menyisakan 12 menit.
Ia tertinggal sekitar 0,7 detik dari pimpinan sementara, pembalap Spanyol Maximo Quiles.
Namun di kelas Moto3, satu putaran bersih dengan pemanfaatan slipstream yang tepat bisa langsung mengubah posisi secara drastis.
Bangkit di 5 Menit Terakhir
Momentum Feda datang di lima menit terakhir FP1. Dengan racing line yang lebih rapi dan strategi slipstream yang matang, ia mencatatkan waktu signifikan dan langsung melesat ke posisi kedua.
Saat itu, ia hanya terpaut sekitar 0,064 detik dari pemimpin sementara, Alvaro Carpe.
Lompatan tersebut menjadi bukti bahwa Feda memiliki pace yang kompetitif di Moto3 Thailand 2026.
Ia tak hanya cepat, tetapi juga mampu membaca situasi. Ketika banyak pembalap mulai overpush di menit-menit krusial, Feda tetap tenang dan menunggu momentum terbaik untuk melakukan time attack.
Namun drama belum berakhir. Tiga menit terakhir sesi menjadi penentu. Adrian Fernandez mencetak waktu 1 menit 41,202 detik dan mengambil alih posisi puncak.
Disusul David Almansa dan Joel Kelso yang ikut meramaikan perebutan lima besar.
Perubahan posisi terjadi begitu cepat hingga Feda akhirnya turun ke peringkat keenam sampai sesi berakhir.
Modal Penting Menuju Kualifikasi
Meski finis P6, hasil ini menjadi sinyal positif bagi Feda di Moto3 Thailand 2026. Ia membuktikan mampu bangkit dari luar 10 besar dan bersaing di grup terdepan.
Konsistensi dan ketenangan menjadi kunci di kelas yang terkenal rapat seperti Moto3.
Yang paling menonjol bukan hanya posisi akhir, melainkan cara Feda merespons tekanan.
Turun ke posisi 11 tak membuatnya panik. Ia tetap membangun ritme sebelum melancarkan serangan di waktu krusial. Mentalitas seperti ini jarang dimiliki pembalap muda.
Jika mampu mempertahankan konsistensi top 6 dan menemukan sedikit peningkatan di tiap sektor, peluang untuk menembus barisan depan saat kualifikasi terbuka lebar.
Bahkan, bukan tak mungkin Feda menjadi kuda hitam dalam perebutan podium musim ini.
Akhir pekan masih panjang. Namun dari FP1 saja, aura kompetitif Feda sudah terasa kuat. Indonesia kini punya rider yang benar-benar bisa bersaing di level dunia.