RADAR TULUNGAGUNG - Feda Ega Pratama langsung mencuri perhatian dalam sesi latihan bebas Moto3 Thailand 2026.
Pada debutnya di kelas dunia, Feda Ega Pratama tampil mengejutkan dengan menembus enam besar, bahkan sempat meroket ke posisi kedua di free practice pertama yang digelar di Sirkuit Chang International Circuit, Buriram.
Nama Feda Ega Pratama awalnya tak masuk hitungan papan atas. Banyak pengamat memprediksi ia hanya akan berkutat di posisi 20 besar.
Maklum, ini adalah pengalaman perdananya di kelas Moto3 yang dikenal super ketat dan dihuni pembalap-pembalap Eropa berpengalaman.
Namun fakta di lintasan berkata lain. Pada sesi free practice pertama Moto3 Thailand 2026, Feda justru tampil agresif dan penuh percaya diri.
Papan waktu di akhir sesi menunjukkan ia mengunci posisi keenam, sebuah hasil yang jauh melampaui ekspektasi publik.
Debut Rooky, Mental Bukan Debutan
Balapan digelar di Moto3 Thailand 2026 yang berlangsung di Chang International Circuit.
Sirkuit ini dikenal teknikal dengan kombinasi pengereman keras dan akselerasi keluar tikungan lambat.
Sebagai rookie, sesi latihan pertama biasanya dipakai untuk adaptasi, membaca grip aspal, karakter angin Buriram, serta memahami respons motor saat tangki penuh. Namun Feda tak terlihat seperti pembalap yang sedang mencari feeling.
Ia membangun ritme secara progresif. Tidak memaksakan lap time di awal, tetapi terus meningkat hingga akhirnya menembus barisan depan.
Yang membuat tribun bergemuruh, Feda sempat bertengger di posisi kedua ketika mayoritas pembalap Eropa mulai melakukan time attack.
Momentum tersebut bertahan cukup lama sebelum akhirnya tergeser di menit-menit akhir.
Meski begitu, posisi keenam di akhir sesi sudah cukup menjadi pernyataan tegas, Feda datang bukan sekadar numpang lewat.
Gap Jauh dari Rival Seangkatan
Jika dibandingkan dengan rival seusia dan pengalaman serupa, performa Feda terasa makin impresif.
Hakim Danish harus puas di posisi 17, sementara Brian Uriarte tepat di belakangnya di posisi 18.
Di kelas Moto3, selisih satu persepuluh detik saja bisa mengubah posisi lima hingga tujuh peringkat.
Fakta bahwa Feda menembus enam besar menunjukkan bukan sekadar keberuntungan satu lap cepat, melainkan konsistensi sektor demi sektor.
Data sektor menunjukkan kekuatan Feda ada di area teknikal, terutama sektor tengah yang penuh perubahan arah cepat. Gaya balapnya terlihat bersih, minim koreksi, dan stabil saat menjaga racing line.
Moto3 dikenal sebagai kelas yang sangat mengandalkan corner speed. Dengan mesin 250cc satu silinder, menjaga momentum di tikungan menjadi kunci.
Di Buriram yang teknikal, pembalap harus mampu mengombinasikan pengereman keras dengan akselerasi halus. Feda terlihat sudah memahami karakter tersebut sejak hari pertama.
Efek Psikologis ke Rival
Free practice memang tak menghasilkan poin. Namun dalam struktur akhir pekan balap, sesi ini krusial untuk membangun fondasi teknis dan mental.
Ketika seorang rookie berdiri di posisi dua di antara nama-nama besar Eropa, pesan psikologisnya sangat kuat. Lawan mulai memperhitungkan. Engineer tim lain mulai membuka data lebih dalam.
Dukungan di tribun juga menjadi faktor emosional tersendiri. Bendera Merah Putih terlihat berkibar di beberapa sudut grandstand. Sorakan penonton meningkat setiap kali nama Feda naik di papan waktu.
Kini pertanyaannya, apakah ini hanya kejutan satu sesi atau awal dari sesuatu yang lebih besar ?
Jika melihat konsistensi lap time dan gap signifikan dari rival seperti Hakim Danish dan Brian Uriarte, indikasinya bukan sekadar anomali.
Kualifikasi akan menjadi ujian berikutnya. Posisi start, strategi slipstream, hingga risiko manuver agresif akan menentukan cerita berbeda. Namun satu hal pasti, hari pertama di Buriram telah mengubah narasi.
Dari sekadar debutan, Feda Ega Pratama kini menjadi pembalap yang patut diperhitungkan di Moto3 Thailand 2026.
Editor : Anggi Septian A.P.