BLITAR - MotoGP Thailand 2026 menjadi mimpi buruk bagi Ducati setelah Marc Marquez gagal finis akibat insiden pelek meledak di Sirkuit Chang, Buriram. Dalam balapan pembuka musim tersebut, Aprilia justru tampil dominan dan sukses memutus rekor 88 podium beruntun Ducati yang selama ini begitu perkasa.
MotoGP Thailand 2026 langsung menghadirkan drama sejak awal. Ducati yang biasanya tampil dominan justru terlihat kesulitan menghadapi tekanan dari Aprilia dan KTM. Kondisi ini makin diperparah setelah Marc Marquez harus menyudahi balapan lebih cepat saat sedang membidik podium.
Balapan di Buriram berlangsung dalam kondisi ekstrem. Suhu aspal menyentuh 55 derajat Celcius dengan kelembapan 42 persen. Situasi ini membuat manajemen ban menjadi kunci utama. Namun, justru di titik itulah masalah besar muncul.
Aprilia Dominan, Marco Bezzecchi Tak Terbendung
Aprilia tampil luar biasa di MotoGP Thailand 2026. Marco Bezzecchi mendominasi balapan dan finis pertama dengan keunggulan 5,543 detik atas Pedro Acosta dari KTM.
Bezzecchi tampil konsisten sejak awal lap hingga akhir. Bahkan pada fase fastest lap, pembalap Aprilia itu tetap menjadi yang tercepat. Dominasi Aprilia makin terasa karena Raul Fernandez juga tampil kuat, sementara Jorge Martin menunjukkan adaptasi positif bersama tim barunya.
KTM pun tak kalah impresif. Pedro Acosta membuktikan peningkatan signifikan RC16, terutama dalam manajemen ban dan stabilitas pengereman. Acosta finis kedua dan memimpin klasemen sementara dengan 32 poin, unggul tujuh angka dari Bezzecchi.
Sebaliknya, Ducati justru terseok. Fabio Di Giannantonio hanya mampu finis keenam, sementara Francesco Bagnaia yang start dari posisi ke-13 harus puas di urutan kesembilan. Ini menjadi tamparan keras bagi pabrikan asal Italia tersebut.
Marc Marquez Gagal Finis karena Pelek Meledak
Sorotan utama MotoGP Thailand 2026 tertuju pada insiden Marc Marquez. Pembalap bernomor 93 itu sebenarnya mulai menemukan ritme dan perlahan mendekati Raul Fernandez dalam perebutan podium ketiga.
Pada lap ke-21, jarak Marquez sempat menyusut dari 1,5 detik menjadi hanya 0,8 detik. Ia tampak menyimpan ban untuk serangan di tiga lap terakhir. Namun petaka datang saat melewati tikungan 4.
Motor Desmosedici miliknya mendadak goyang. Ban belakang terlihat rusak parah hingga hampir terlepas dari pelek. Setelah ditelusuri, pelek belakang diduga mengalami kerusakan akibat menghantam curb yang menjulang.
Manajer Ducati, Davide Tardozzi, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut bukan murni karena ban pecah, melainkan pelek yang tidak kuat menahan benturan dalam kondisi suhu ekstrem. Pelek yang meleot membuat tekanan ban hilang secara tiba-tiba.
Beruntung, Marquez tidak terjatuh. Mengingat kecepatan tinggi di Buriram, kegagalan ban bisa berujung cedera serius.
Michelin Disorot, Beberapa Pembalap Alami Masalah Serupa
Masalah ban juga dialami Joan Mir yang gagal finis serta kondisi ban Bagnaia yang terlihat hancur di sisi kiri. Hal ini memunculkan pertanyaan soal ketahanan Michelin dalam menghadapi suhu aspal yang sangat panas.
Karkas ban disebut tidak mampu menahan tekanan ekstrem ketika motor terus dipacu. Walaupun Ducati menyebut sumber masalah utama adalah pelek, fakta adanya beberapa kasus ban rusak membuat isu ini menjadi perdebatan serius di paddock.
Rekor 88 Podium Ducati Resmi Terhenti
Hasil MotoGP Thailand 2026 sekaligus memutus rekor 88 podium beruntun Ducati sejak beberapa musim terakhir. Tidak ada satu pun pembalap Ducati yang naik podium di Buriram.
Di klasemen konstruktor, Aprilia dan KTM kini sama-sama mengoleksi 32 poin, sementara Ducati tertahan di angka 19. Ini menjadi sinyal kuat bahwa persaingan musim 2026 akan jauh lebih ketat.
Performa Marquez sendiri dinilai belum sepenuhnya optimal. Ia terlihat tidak seagresif biasanya, bahkan sempat kesulitan saat masuk tikungan kanan. Beberapa pengamat menduga faktor stamina dan kondisi fisik turut memengaruhi performanya.
Meski demikian, pace Marquez sebenarnya tidak buruk. Ia mampu menjaga ritme dan merencanakan serangan di akhir balapan sebelum insiden terjadi.
MotoGP Thailand 2026 pun menjadi alarm keras bagi Ducati. Mereka tak lagi sendirian di puncak. Aprilia dan KTM kini benar-benar menjadi ancaman nyata dalam perebutan gelar musim ini. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.