BLITAR - Krisis Ducati di MotoGP Thailand 2026 menjadi sorotan utama setelah Marc Marquez gagal finis akibat ban bocor dan pelek rusak, sementara Francesco Bagnaya secara terbuka menyinggung penurunan performa tim pabrikan asal Borgo Panigale tersebut.
Krisis Ducati di MotoGP Thailand 2026 bukan sekadar hasil buruk dalam satu seri. Balapan di Chang International Circuit, Buriram, Minggu (1/3/2026), memperlihatkan bagaimana dominasi motor Desmosedici mulai digoyang para rival, terutama Aprilia dan KTM.
Sejak awal akhir pekan, tanda-tanda krisis Ducati di MotoGP Thailand 2026 sudah terasa. Marc Marquez memang sempat tampil kompetitif, namun para pembalap Ducati lainnya kesulitan menemukan ritme terbaiknya.
Aprilia Menggila, Ducati Tertinggal
Balapan utama menjadi panggung kebangkitan Aprilia. Marco Bezzecchi tampil impresif dengan mengubah pole position menjadi kemenangan dominan. Ia memimpin sejak start hingga finis dengan keunggulan lebih dari empat detik atas Raul Fernandez.
Aprilia bahkan sempat menguasai tiga posisi teratas pada fase awal lomba setelah Fernandez dan Jorge Martin menyalip Marquez. Pedro Acosta dari KTM juga tampil agresif, membuat persaingan di grup depan semakin panas.
Sementara itu, Ducati justru tercecer. Fabio Di Giannantonio bersama VR46 berada di papan tengah. Alex Marquez gagal menembus barisan depan sebelum akhirnya terjatuh. Bagnaya sendiri kesulitan menjaga konsistensi dan hanya mampu finis di posisi kesembilan.
Situasi ini kontras dengan reputasi Ducati yang dalam beberapa musim terakhir identik dengan keunggulan teknis dan konsistensi podium.
Drama Ban Marc Marquez
Puncak penderitaan Ducati terjadi pada lap ke-22. Saat sedang berjuang di posisi empat dan mencoba mengejar Raul Fernandez untuk podium, Marc Marquez mengalami masalah serius pada ban belakangnya.
Dalam tayangan ulang terlihat pelek belakang motornya rusak setelah membentur trotoar. Ban kehilangan tekanan secara tiba-tiba, memaksanya mundur dari balapan. Beruntung, ia tidak terjatuh meski kerusakan terlihat parah.
Insiden itu menjadi simbol rapuhnya akhir pekan Ducati. Setelah sebelumnya kalah cepat dari Aprilia dan KTM, mereka juga dihantam masalah teknis yang mengubur peluang poin besar di seri pembuka.
Bagnaya Sebut Ducati Tak Lagi Tercepat
Francesco Bagnaya tak menutup-nutupi kekecewaannya. Ia mengaku sudah merasakan firasat buruk sejak sesi latihan bebas.
“Kecuali sesi latihan bebas pertama, saya tidak memiliki satu pun sesi akhir pekan ini di mana saya merasa nyaman,” ujarnya.
Lebih tajam lagi, Bagnaya menyinggung bahwa Ducati bukan lagi motor tercepat. Ia menyebut Aprilia melakukan pekerjaan fantastis dan KTM tampil sangat kuat.
Pernyataan itu menjadi alarm keras bagi manajemen Ducati. Selama ini Desmosedici dikenal unggul di sirkuit seperti Buriram yang memiliki lintasan lurus panjang dan zona pengereman keras. Namun kali ini, karakter trek tersebut tak lagi menjadi keuntungan mutlak.
Masalah ban juga menjadi isu sentral. Bagnaya mengaku harus menghemat ban hampir sepanjang balapan dan tidak pernah benar-benar bisa memacu motor secara maksimal. Bahkan dengan delapan lap tersisa, ia mengalami selip di gigi kelima—situasi yang jarang terjadi pada Ducati.
Kontroversi Penalti Sprint
Akhir pekan di Thailand juga diwarnai kontroversi pada sprint race. Marc Marquez dijatuhi penalti mundur satu posisi setelah duel agresif dengan Pedro Acosta di tikungan 12.
Meski tayangan ulang menunjukkan tidak ada kontak, FIM Stewards tetap menjatuhkan hukuman. Marquez mematuhi keputusan tersebut dan menyerahkan posisi di tikungan terakhir.
General Manager Ducati Lenovo Team, Gigi Dall’Igna, secara terbuka mengkritik keputusan itu. Ia menilai manuver Marquez masih dalam batas sportif dan tidak layak diganjar penalti.
Kontroversi tersebut menambah tekanan mental bagi tim Ducati di tengah performa yang belum stabil.
Awal Musim yang Mengkhawatirkan
Hasil MotoGP Thailand 2026 menandai berakhirnya rentetan panjang podium Ducati sejak 2021. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, mereka gagal menempatkan satu pun motor di tiga besar.
Di sisi lain, Aprilia menunjukkan kedalaman performa dengan menempatkan beberapa pembalap di lima besar. KTM pun semakin kompetitif lewat Acosta.
Kini pertanyaan besar menggantung: apakah ini hanya persoalan setelan dan adaptasi awal musim, atau ada masalah fundamental dalam pengembangan Desmosedici musim 2026?
Bagi Marquez, ini adalah hari di mana takdir mekanis menghentikan perjuangannya. Bagi Bagnaya, ini menjadi momen kesadaran bahwa dominasi tidak abadi. Dan bagi Ducati, MotoGP Thailand 2026 bisa menjadi titik balik emosional yang menentukan arah musim mereka ke depan. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.