BLITAR - Kabar mengenai Persib Bandung menang 3-2 atas Persebaya Surabaya setelah AFC mencabut lisensi wasit Eko Saputra mendadak viral di media sosial dan YouTube. Narasi tersebut menyebutkan AFC turun tangan, meralat hasil pertandingan, hingga mengesahkan gol Persib Bandung yang sebelumnya dianulir. Namun, benarkah kabar Persib Bandung menang 3-2 itu terjadi?
Isu ini mencuat setelah sebuah video mengklaim bahwa Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara resmi mencabut lisensi wasit Eko Saputra usai laga panas antara Persebaya Surabaya melawan Persib Bandung pada 2 Maret 2026. Dalam video tersebut disebutkan bahwa Persib Bandung dinyatakan menang 3-2 dan semakin kokoh di puncak klasemen.
Narasi yang beredar bahkan menyebut Presiden AFC, Salman bin Ibrahim Al Khalifa, mengeluarkan pernyataan keras terkait dugaan ketidakprofesionalan sang wasit. Disebut pula adanya dugaan keterlibatan mafia judi yang memengaruhi jalannya pertandingan. Kabar ini sontak membuat Bobotoh bereaksi dan berharap keputusan tersebut benar adanya.
Kronologi Klaim yang Beredar
Dalam video viral itu, laga antara Persebaya Surabaya dan Persib Bandung disebut berakhir kontroversial. Awalnya, Persebaya diklaim menang 1-0. Namun karena tekanan publik dan dugaan keputusan wasit yang merugikan Persib, AFC disebut mengambil langkah ekstrem.
Wasit Eko Saputra dituduh mengambil sejumlah keputusan kontroversial, termasuk penalti yang dinilai janggal serta penggunaan VAR dengan satu sudut kamera. Video tersebut bahkan menyebut AFC tidak hanya mencabut lisensi sang wasit secara permanen, tetapi juga meralat skor menjadi kemenangan 3-2 untuk Persib.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, dalam narasi video digambarkan meluapkan kekecewaan atas kepemimpinan wasit. Ia mempertanyakan profesionalisme dan transparansi penggunaan VAR. Sementara legenda Bambang Pamungkas juga disebut ikut angkat suara, menyoroti pentingnya menjaga integritas sepak bola Indonesia.
Fakta Sebenarnya: Hanya Konten Fiksi
Namun setelah ditelusuri, klaim bahwa Persib Bandung menang 3-2 karena AFC mencabut lisensi wasit Eko Saputra dipastikan tidak benar. Tidak ada pernyataan resmi dari AFC terkait pencabutan lisensi tersebut maupun perubahan hasil pertandingan.
Nama Presiden AFC memang disebut dalam video, tetapi tidak ditemukan rilis resmi di kanal komunikasi AFC mengenai kasus tersebut. Narasi yang disampaikan dalam video itu merupakan konten fiksi yang sengaja dibuat untuk tujuan edukasi.
Di akhir video bahkan ditegaskan bahwa kabar tersebut hanyalah karangan. Pembuat konten menyatakan video itu dibuat sebagai pengingat agar masyarakat lebih bijak menyaring informasi, terutama yang menyangkut klub besar seperti Persib Bandung dan Persebaya.
Fenomena Hoaks di Dunia Sepak Bola
Kasus ini menjadi contoh bagaimana isu sepak bola mudah dimanfaatkan untuk mendulang perhatian. Rivalitas antara Persebaya dan Persib memang kerap menghadirkan tensi tinggi. Kondisi tersebut membuat publik mudah terpancing oleh narasi dramatis, apalagi jika dikaitkan dengan mafia judi dan intervensi federasi.
Padahal, perubahan hasil pertandingan di level liga domestik tidak bisa dilakukan sepihak tanpa proses hukum dan disiplin yang jelas. AFC pun umumnya hanya menangani kompetisi level Asia, sementara liga domestik berada di bawah kewenangan federasi nasional.
Fenomena hoaks seperti ini juga menyasar basis suporter besar seperti Bobotoh dan Bonek. Emosi dan loyalitas sering dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Imbauan untuk Suporter
Kabar Persib Bandung menang 3-2 karena AFC cabut lisensi wasit Eko Saputra terbukti tidak benar. Publik diimbau untuk selalu mengecek sumber resmi sebelum membagikan informasi, terutama yang bersifat kontroversial.
Di era digital, satu video bisa dengan cepat membentuk opini. Karena itu, literasi digital menjadi kunci agar tidak mudah terprovokasi. Suporter tetap bisa kritis terhadap kinerja wasit atau federasi, tetapi harus berdasarkan fakta, bukan narasi fiktif.
Sepak bola sejatinya tentang sportivitas dan kompetisi sehat. Jangan sampai semangat mendukung tim kesayangan justru dimanfaatkan oleh pembuat konten yang mengejar sensasi semata.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.