BLITAR - Bahaya Alano di level Asia mulai menjadi perbincangan hangat jelang kiprah Persija Jakarta di kompetisi antarklub Asia. Sorotan ini bukan tanpa alasan. Gaya bermain Alano yang dikenal penuh determinasi dan emosional dinilai bisa menjadi bumerang ketika Macan Kemayoran tampil di panggung yang level pengadilannya berbeda dari Liga Indonesia.
Dalam beberapa laga terakhir, Alano memang tampil agresif dan penuh semangat. Namun, respons emosionalnya di atas lapangan kerap memantik kontroversi. Di Liga Indonesia, sikap tersebut mungkin masih bisa ditoleransi oleh sebagian wasit. Tetapi bahaya Alano di level Asia muncul karena standar kepemimpinan wasit internasional cenderung lebih tegas dan minim kompromi.
Kekhawatiran ini semakin relevan mengingat Persija Jakarta berambisi tampil kompetitif di Asia. Jika Alano tak mampu mengontrol emosinya, bukan tidak mungkin Persija harus bermain dengan 10 orang akibat kartu merah. Dalam kompetisi seketat level Asia, kehilangan satu pemain bisa berujung petaka.
Perbedaan Standar Wasit Liga Indonesia dan Asia
Salah satu poin krusial yang disorot adalah perbedaan persepsi wasit. Di Liga Indonesia, kerap muncul anggapan bahwa beberapa wasit masih memberi ruang toleransi lebih terhadap reaksi pemain. Entah karena faktor tekanan atmosfer stadion atau budaya kompetisi domestik.
Namun di level Asia, standar tersebut berubah. Wasit-wasit yang bertugas umumnya memiliki lisensi elite dan pengalaman memimpin laga berintensitas tinggi. Pelanggaran emosional, protes berlebihan, atau gestur agresif bisa langsung diganjar kartu tanpa banyak peringatan.
Jika pola lama Alano terbawa ke kompetisi Asia, risiko akumulasi kartu menjadi ancaman nyata. Apalagi pertandingan Asia sering berlangsung dengan tempo cepat dan tekanan besar, yang berpotensi memancing emosi pemain.
Sudah Diingatkan Manajemen
Menariknya, manajemen Persija sebenarnya telah memberi peringatan. Manajer tim secara terbuka mengingatkan seluruh pemain agar tidak mudah tersulut emosi. Pesan tersebut jelas: disiplin adalah kunci bersaing di level lebih tinggi.
Namun dalam praktiknya, Alano masih terlihat beberapa kali melakukan respons yang seharusnya bisa ia rem. Entah berupa gestur tidak perlu, protes berlebihan, atau kontak fisik yang terlalu keras.
Situasi ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pelatih. Sebab secara kualitas, Alano memiliki kontribusi signifikan. Ia bisa menjadi pembeda di lini serang maupun lini tengah. Tetapi kontribusi itu akan sia-sia jika diimbangi risiko kartu merah.
Persija Tak Bisa Bermain 10 Orang Terus-Menerus
Bayangkan skenario terburuk: Persija harus bermain dengan 10 pemain di laga krusial Asia. Kondisi ini tak hanya melemahkan taktik, tetapi juga menguras stamina dan mental tim.
Bermain dengan 10 orang dalam 15 hingga 20 menit terakhir saja sudah berat. Apalagi jika terjadi lebih awal. Lawan-lawan di Asia memiliki kualitas individu dan kolektivitas lebih matang. Sedikit celah bisa langsung dimanfaatkan menjadi gol.
Itulah sebabnya bahaya Alano di level Asia bukan sekadar isu emosional pribadi, melainkan potensi ancaman kolektif bagi tim. Persija tentu tak ingin ambisi mereka di panggung Asia kandas hanya karena persoalan disiplin.
Momentum Pembuktian
Di sisi lain, sorotan ini juga bisa menjadi momentum pembuktian bagi Alano. Pemain besar bukan hanya dinilai dari skill, tetapi juga kedewasaan. Jika ia mampu mengendalikan temperamen, agresivitasnya justru bisa menjadi aset berharga.
Level Asia menuntut profesionalisme lebih tinggi. Kontrol emosi, kecerdasan membaca situasi, serta kemampuan menahan diri menjadi bagian dari paket pemain top.
Persija Jakarta sendiri dikenal sebagai klub dengan basis suporter besar dan tekanan tinggi. Bermain di bawah sorotan publik dan ekspektasi tinggi tentu bukan hal mudah. Namun justru di situlah mental juara diuji.
Ke depan, semua mata akan tertuju pada bagaimana Alano merespons kritik ini. Apakah ia mampu bertransformasi menjadi pemain yang lebih matang? Ataukah bahaya Alano di level Asia benar-benar menjadi kenyataan?
Yang jelas, jika Persija ingin melangkah jauh di Asia, disiplin harus menjadi harga mati. Satu kartu merah bisa mengubah segalanya. Dan dalam kompetisi selevel Asia, kesalahan kecil sering kali berujung hukuman besar.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.