BLITAR - Peta persaingan menuju gelar juara Premier League kian memanas setelah rangkaian hasil mengejutkan terjadi di akhir pekan ini. Sorotan utama tertuju pada Performa Minor Liverpool yang harus menelan pil pahit saat bertandang ke markas tim papan bawah, Wolverhampton Wanderers (Wolves). Meski tampil mendominasi secara statistik, skuad The Reds secara tragis takluk di tangan tim yang sebelumnya telah menelan 20 kali kekalahan sepanjang musim ini.
Hasil ini tentu menjadi tamparan keras bagi anak asuh Arne Slot. Sejatinya, sinyal bahaya dari Wolves sudah terlihat nyata. Tim asuhan Gary O'Neil tersebut belakangan menunjukkan tren kebangkitan yang luar biasa. Meski berstatus sebagai juru kunci, mereka sukses menahan imbang tim-tim raksasa sekelas Arsenal, Aston Villa, dan Manchester United, bahkan sukses memetik kemenangan atas tim kuda hitam seperti Nottingham Forest. Sayangnya, peringatan tersebut gagal diantisipasi oleh Liverpool.
Berdasarkan catatan statistik, Performa Minor Liverpool dalam laga tersebut sangat terlihat dari tumpulnya penyelesaian akhir. Di babak pertama, Liverpool mendominasi penguasaan bola hingga 64 persen, sementara expected goals (xG) Wolves hanya di angka 0,0. Namun, dari total enam percobaan tembakan, The Reds gagal membongkar pertahanan rapat tuan rumah. Badai cedera yang menimpa enam pemain pilar, termasuk tumpuan serangan mereka, jelas memberikan dampak signifikan terhadap kreativitas serangan di sepertiga akhir lapangan.
Kesialan The Reds dan Evaluasi Lini Depan
Memasuki babak kedua, pertandingan berubah menjadi mimpi buruk bagi Liverpool. Semangat juang (fighting spirit) skuad Wolves melonjak drastis. Gol pertama tuan rumah berawal dari duel fisik yang gagal diantisipasi dengan baik oleh Ibrahima Konate. Kesialan Liverpool memuncak saat gol ketiga Wolves tercipta dari bola deflect (pantulan) yang mengecoh kiper Alisson Becker yang sudah terlanjur maju menutup ruang tembak.
Secara keseluruhan, Liverpool melepaskan 19 tembakan berbanding 4 milik Wolves. Sayangnya, dari 4 tembakan tersebut, tuan rumah bermain super efektif dengan mencetak dua gol krusial (di luar satu gol keberuntungan). Kegagalan The Reds mengonversi empat big chances (peluang emas) menjadi bukti sahih betapa kronisnya masalah penyelesaian akhir yang menjadi biang kerok Performa Minor Liverpool musim ini. Jika tidak segera dibenahi, posisi mereka di papan atas sangat rawan tergusur oleh Chelsea dan Aston Villa yang terus menguntit.
Baca Juga: Sertifikat Tanah Beralih Elektronik Sesuai Permen ATR Nomor 3 Tahun 2023
Taktik Hansi Flick Bikin Barcelona Hancur Lebur
Beralih ke kompetisi Spanyol, nasib tragis juga dialami raksasa Catalan, Barcelona. Ambisi untuk menciptakan remontada (kemenangan epik membalikkan keadaan) di leg kedua semifinal Copa del Rey kandas di tangan Atletico Madrid. Kemenangan 3-0 di leg kedua ternyata tidak cukup untuk menutupi defisit memalukan 4-0 yang mereka derita pada pertemuan pertama.
Publik dan pengamat sepak bola menyoroti tajam rotasi taktik aneh yang diterapkan oleh pelatih Hansi Flick pada leg pertama. Keputusannya mencadangkan pemain kunci seperti Joao Cancelo dan memaksakan Ferran Torres tampil sejak menit awal dinilai sebagai blunder fatal. Eksperimen taktik Flick ini dituding menghancurkan keseimbangan tim, terutama di tengah badai cedera yang menimpa Robert Lewandowski, Frenkie de Jong, dan Gavi.
Bermain dengan skuad seadanya, Barcelona hanya bisa bertumpu pada keajaiban wonderkid Lamine Yamal. Bahkan bek Ronald Araujo sampai harus dipaksa bermain sebagai striker darurat di babak kedua demi membongkar pertahanan gerendel ala Diego Simeone. Jika Hansi Flick gagal mempersembahkan gelar La Liga musim ini, bukan tidak mungkin pintu keluar Camp Nou akan segera terbuka lebar untuknya. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.