BLITAR – Pertanyaan tentang training center Persib Bandung kembali menjadi perbincangan di kalangan Bobotoh. Klub besar dengan basis suporter masif dan sejarah panjang di sepak bola Indonesia itu hingga kini belum memiliki pusat latihan permanen milik sendiri. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar, terutama ketika sejumlah klub Liga 1 mulai membangun fasilitas modern untuk menunjang performa tim.
Isu training center Persib Bandung sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa musim terakhir, topik ini terus muncul, terutama saat performa tim menurun atau ketika publik membandingkan Persib dengan klub lain yang sudah memiliki pusat latihan sendiri.
Di tengah perkembangan sepak bola nasional yang semakin profesional, keberadaan training center Persib Bandung dianggap penting sebagai fondasi jangka panjang klub. Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat latihan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan pemain, manajemen tim, hingga identitas klub.
Klub Liga 1 Mulai Bangun Fasilitas Sendiri
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah klub Indonesia mulai serius membangun infrastruktur sepak bola. Bali United menjadi salah satu pionir dengan pusat latihan modern yang sudah digunakan dalam jangka waktu lama.
Persija Jakarta juga mulai mengembangkan fasilitas serupa. Selain itu, klub seperti Borneo FC, Dewa United, hingga Malut United menunjukkan keseriusan mereka dengan proyek pengembangan fasilitas latihan.
Situasi ini membuat posisi Persib terasa kontras. Sebagai salah satu klub terbesar di Indonesia dengan tekanan tinggi setiap musim, Persib justru belum memiliki pusat latihan sendiri.
Bagi Bobotoh, kondisi ini sering memunculkan kegelisahan. Banyak yang menilai Persib seharusnya sudah berada di tahap pembangunan fasilitas tersebut.
Persib Sebenarnya Sudah Punya Lahan
Jika melihat dari sisi perencanaan, Persib sebenarnya tidak memulai dari nol. Manajemen melalui PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) diketahui telah memiliki lahan sekitar 10 hektare di kawasan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Lahan tersebut sejak awal diproyeksikan menjadi pusat pengembangan klub. Bahkan ada konsep besar yang dikenal dengan nama “Kampung Persib”.
Dalam rencana itu, kawasan sekitar stadion tidak hanya akan digunakan sebagai lapangan latihan. Konsepnya mencakup ekosistem klub yang lebih luas, termasuk fasilitas pendukung seperti area latihan, pusat kebugaran, hingga fasilitas operasional tim.
Jika melihat konsep di atas kertas, proyek ini terlihat sangat menjanjikan. Stadion GBLA sendiri sudah diamankan pengelolaannya untuk jangka panjang.
Namun pertanyaan besar tetap muncul: jika lahan dan konsep sudah tersedia, mengapa pembangunan belum dimulai?
Dampak Pandemi dan Kondisi Keuangan
Salah satu faktor utama yang memperlambat proyek ini adalah kondisi finansial klub setelah pandemi Covid-19.
Pandemi memberikan dampak besar terhadap industri sepak bola, termasuk Persib. Kompetisi sempat terhenti dan pemasukan klub mengalami penurunan signifikan.
Direktur Utama PT PBB, Glen Sugita, pernah menyampaikan bahwa kondisi keuangan klub belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi.
Membangun training center bukan proyek kecil. Investasinya bisa mencapai angka yang sangat besar karena mencakup pembangunan lapangan, fasilitas medis, gym, hingga akomodasi pemain.
Karena itu, manajemen memilih untuk lebih berhati-hati. Prioritas utama adalah memastikan kondisi finansial klub tetap stabil sebelum memulai proyek besar.
Masalah Lahan dan Administrasi
Selain faktor keuangan, persoalan lahan juga menjadi tantangan tersendiri.
Meski lokasi training center direncanakan di kawasan sekitar GBLA, tidak semua lahan di area tersebut berada di bawah kendali langsung Persib atau Pemerintah Kota Bandung.
Sebagian lahan masih dimiliki masyarakat. Artinya, perlu ada proses akuisisi atau kerja sama yang jelas sebelum pembangunan bisa dimulai.
Proses administratif seperti ini membutuhkan waktu karena berkaitan dengan legalitas dan potensi masalah hukum di masa depan.
Tantangan Teknis di Lapangan
Tantangan lain yang sering luput dari perhatian publik adalah kondisi tanah di kawasan tersebut.
Lahan di sekitar GBLA memiliki karakter tanah yang relatif lembek. Kondisi ini membuat pembangunan fasilitas olahraga tidak bisa dilakukan secara langsung.
Tanah harus diperkuat terlebih dahulu agar stabil dan aman untuk digunakan dalam jangka panjang. Proses pengerasan tanah ini saja bisa memakan biaya puluhan miliar rupiah.
Dengan kata lain, sebelum satu lapangan latihan dibangun, investasi besar sudah harus dikeluarkan pada tahap awal.
Langkah Realistis yang Dilakukan Persib
Meski belum membangun training center permanen, Persib tidak sepenuhnya berhenti bergerak.
Manajemen memilih langkah yang lebih realistis dengan membangun lapangan pendamping di kawasan GBLA. Fasilitas ini digunakan sebagai tempat latihan sementara.
Keputusan tersebut membantu menjaga kualitas lapangan utama stadion agar tetap optimal untuk pertandingan resmi.
Langkah ini menunjukkan pendekatan manajemen yang lebih berhati-hati: membangun secara bertahap sesuai kemampuan finansial klub.
Bagi Bobotoh, proses ini memang terasa lambat. Namun bagi manajemen, keputusan tersebut dianggap lebih aman demi keberlanjutan klub dalam jangka panjang.
Editor : Anggi Septian A.P.