BLITAR - Rencana Persib IPO 2026 mulai menjadi perbincangan hangat setelah klub berjuluk Maung Bandung itu bergerak agresif di bursa transfer. Sejumlah pemain bernilai pasar tinggi didatangkan, memicu spekulasi tentang strategi besar di balik langkah manajemen.
Dalam beberapa pekan terakhir, Persib Bandung membuat kejutan. Setelah mengumumkan kedatangan Tom Hai, muncul kabar bahwa Eliano Reijnders juga akan merapat. Bahkan, rumor yang beredar menyebut nama Joy Pelupessy dan Asnawi Mangkualam juga berpotensi bergabung.
Banyak pihak bertanya-tanya, mengapa Persib begitu agresif di pasar transfer. Jawabannya ternyata berkaitan erat dengan rencana besar klub: Persib IPO 2026.
Ambisi Lama Sejak 2009
Ambisi membawa Persib menjadi klub profesional modern sebenarnya bukan hal baru. Gagasan ini sudah ada sejak 2009 ketika Glen Sugita mulai serius terjun mengelola Persib.
Saat itu, Sugita memiliki mimpi besar menjadikan Persib sebagai klub profesional pertama di Indonesia yang bisa melantai di bursa saham atau melakukan Initial Public Offering (IPO).
Langkah awal dilakukan pada 2010 ketika Persib bertransformasi menjadi klub profesional sesuai standar FIFA dan AFC. Namun dalam hal IPO, Persib sempat kalah cepat dari Bali United.
Bali United mencatat sejarah pada 2019 setelah resmi menjadi klub sepak bola pertama di Indonesia yang melantai di bursa saham dengan valuasi sekitar Rp1 triliun.
Kini, Persib bersiap mengejar bahkan melampaui pencapaian tersebut.
Transfer Pemain untuk Dongkrak Valuasi
Strategi menuju Persib IPO 2026 terlihat jelas dari aktivitas klub di bursa transfer musim ini. Manajemen berusaha meningkatkan nilai aset klub dengan mendatangkan pemain bernilai pasar tinggi.
Saat ini, beberapa pemain dengan nilai transfer besar sudah memperkuat tim. Selain Tom Hai dan Eliano Reijnders, bek berpengalaman Federico Barba juga disebut masuk dalam radar klub.
Dengan kedatangan pemain-pemain tersebut, nilai skuad Persib diperkirakan mencapai sekitar Rp119 miliar. Jika rumor tambahan pemain seperti Joy Pelupessy dan Asnawi benar-benar terwujud, angka itu berpotensi meningkat signifikan.
Walaupun pemain bukan aset tetap dalam laporan keuangan, keberadaan mereka tetap memberi dampak besar terhadap citra klub di mata investor.
Semakin kuat skuad dan semakin tinggi popularitas klub, maka semakin tinggi pula potensi valuasi ketika IPO dilakukan.
Aset Stadion Jadi Penopang Nilai Klub
Selain skuad pemain, Persib juga memiliki aset penting yang meningkatkan nilai klub.
Salah satunya adalah pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Meskipun stadion tersebut dimiliki oleh Pemerintah Kota Bandung, Persib memiliki hak pengelolaan jangka panjang selama sekitar 30 tahun.
Nilai hak guna tersebut diperkirakan hampir mencapai Rp1 triliun.
Kombinasi antara nilai skuad, popularitas klub, serta aset pengelolaan stadion membuat banyak pengamat memperkirakan valuasi Persib bisa melesat tajam saat IPO nanti.
Bahkan, sejumlah proyeksi menyebut nilai klub bisa menembus Rp8 triliun, jauh melampaui valuasi Bali United saat pertama kali go public.
Era Baru Sepak Bola Indonesia
Jika rencana Persib IPO 2026 benar-benar terwujud, dampaknya tidak hanya bagi klub tetapi juga bagi industri sepak bola Indonesia.
Dengan status perusahaan publik, Persib akan diwajibkan membuka laporan keuangan secara transparan. Hal ini mendorong tata kelola klub yang lebih profesional dan akuntabel.
Selain itu, dana hasil IPO dapat digunakan untuk berbagai pengembangan, mulai dari pembangunan training ground modern, renovasi stadion, hingga ekspansi bisnis klub.
Menariknya, konsep IPO juga membuka peluang bagi suporter untuk menjadi pemilik klub melalui pembelian saham.
Slogan “Persib Nu Aing” yang selama ini hanya menjadi teriakan di stadion berpotensi berubah menjadi kenyataan. Para bobotoh bisa memiliki sebagian saham klub yang mereka cintai.
Jika langkah ini sukses, Persib bukan hanya sekadar klub sepak bola. Maung Bandung bisa menjadi simbol transformasi industri sepak bola Indonesia menuju era yang lebih profesional dan modern.
Editor : Anggi Septian A.P.