Fenomena ini membuat sepak bola bukan sekadar olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari strategi bisnis dan branding perusahaan besar. Sejumlah klub besar Liga 1 kini diketahui dimiliki atau didukung oleh kelompok usaha raksasa, mulai dari media, tambang, hingga konglomerasi bisnis nasional.
Berikut daftar konglomerat pemilik klub sepak bola Indonesia yang memiliki pengaruh besar di kompetisi domestik.
Persebaya Surabaya dan Jawa Pos Group
Kepemilikan Persebaya Surabaya sempat menjadi sorotan publik setelah kabar mundurnya Azrul Ananda sebagai sosok utama di balik klub berjuluk Bajul Ijo tersebut.
Sejak 2017, Persebaya berada di bawah naungan PT Persebaya Indonesia yang saham mayoritasnya dimiliki oleh Jawa Pos Group melalui PT Jawa Pos Sport. Sekitar 70 persen saham klub dipegang oleh perusahaan media tersebut, sementara 30 persen lainnya dimiliki oleh Koperasi Surya Abadi Persebaya.
Azrul Ananda sendiri merupakan putra dari Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN sekaligus tokoh besar di industri media Indonesia.
Meski melepas kepemilikan, Azrul menyatakan tetap bertanggung jawab menyelesaikan proses administrasi hingga tuntas.
Persija Jakarta di Bawah Bayang-Bayang Bakrie Group
Klub ibu kota Persija Jakarta juga tak lepas dari pengaruh konglomerat. Kepemilikan klub berjuluk Macan Kemayoran ini diketahui berada dalam lingkaran Bakrie Group.
Sosok yang disebut sebagai pemegang saham terbesar adalah Nirwan Bakrie.
Awalnya, kepemilikan tersebut tidak terlalu terbuka karena saham klub dipegang melalui perusahaan bernama PT Jakarta Indonesia Hebat. Perusahaan ini memiliki lebih dari 95 persen saham PT Persija Jaya Jakarta.
Nama Bakrie mulai terang-terangan muncul setelah Persija berhasil menjuarai Liga 1 musim 2018. Sejak saat itu, beberapa orang dekat Nirwan Bakrie masuk ke jajaran direksi dan komisaris klub.
Persib Bandung dan Bali United Terhubung Northstar Group
Kepemilikan Persib Bandung juga melibatkan investor besar. Klub berjuluk Maung Bandung ini berada di bawah PT Persib Bandung Bermartabat.
Salah satu tokoh utama di balik kepemilikan Persib adalah Glenn Sugita, pendiri perusahaan investasi Northstar Group bersama Patrick Walujo.
Glenn Sugita telah menjadi pemegang saham terbesar Persib sejak 2009.
Menariknya, Northstar Group juga memiliki keterkaitan dengan Bali United. Namun secara publik, klub ini lebih dikenal dimiliki oleh Tanuri Group dan Salim Group melalui PT Bali Bintang Sejahtera Tbk.
Di bawah kepemilikan keluarga Tanuri, Bali United bahkan mencatat sejarah sebagai klub sepak bola pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek Indonesia.
PSM Makassar dan Bosowa Group
Di wilayah Indonesia Timur, PSM Makassar berada di bawah pengaruh Bosowa Group, kelompok usaha besar yang terkenal di industri semen.
Melalui Bosowa Sport Indonesia, grup ini menjadi pemegang saham mayoritas PT Persaudaraan Sepakbola Makassar.
Salah satu tokoh penting di balik klub ini adalah Sadikin Aksa, yang menjabat sebagai komisaris utama PSM. Ia merupakan anak dari pengusaha Bosowa Group sekaligus keponakan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Sementara posisi CEO PSM saat ini dipegang oleh Munafri Arifuddin.
Barito Putera dan Hasnur Group
Klub Kalimantan Selatan Barito Putera juga dimiliki oleh konglomerasi besar, yakni Hasnur Group.
Perusahaan ini bergerak di berbagai sektor seperti pertambangan, kehutanan, logistik, hingga media.
Direktur utama klub adalah Hasnuryadi Sulaiman, yang juga dikenal sebagai anggota DPR RI. Ia merupakan putra dari almarhum pendiri Hasnur Group, Abdul Somad Sulaiman atau Haji Leman.
PSS Sleman dan Jejak Medco Group
Klub PSS Sleman juga tidak lepas dari pengaruh perusahaan besar.
Sekitar 70 persen saham klub ini dimiliki oleh PT Palladium Pratama Cemerlang, yang merupakan anak perusahaan dari PT Itachi Resources. Perusahaan tersebut diketahui memiliki hubungan dengan jaringan bisnis milik mendiang Arifin Panigoro.
Jejak ini membuat kepemilikan PSS Sleman kerap dikaitkan dengan Medco Group, salah satu raksasa bisnis energi di Indonesia.
Sepak Bola dan Kekuatan Modal Besar
Masuknya para konglomerat pemilik klub sepak bola Indonesia menunjukkan bahwa kompetisi nasional semakin bergerak ke arah industri olahraga profesional.
Modal besar menjadi faktor penting untuk membangun klub yang kompetitif, mulai dari pembinaan pemain, pembangunan infrastruktur, hingga strategi pemasaran global.
Namun di sisi lain, dominasi konglomerat juga sering memunculkan perdebatan mengenai transparansi kepemilikan klub dan arah pengelolaan sepak bola nasional.
Yang jelas, keberadaan para taipan ini kini menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah baru sepak bola Indonesia.
Editor : Anggi Septian A.P.