Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Azrul Ananda Bongkar Strategi Besar Persebaya: Dari Klub Mati Suri hingga Target IPO, Ini Rahasia Membangun Green Force yang Mandiri

Izahra Nurrafidah • Selasa, 10 Maret 2026 | 16:00 WIB

Azrul Ananda Bongkar Strategi Besar Persebaya: Dari Klub Mati Suri hingga Target IPO, Ini Rahasia Membangun Green Force yang Mandiri
Azrul Ananda Bongkar Strategi Besar Persebaya: Dari Klub Mati Suri hingga Target IPO, Ini Rahasia Membangun Green Force yang Mandiri
BLITAR - Azrul Ananda membuka cerita panjang tentang transformasi Persebaya Surabaya dari klub yang sempat mati suri menjadi organisasi sepak bola profesional yang berambisi menuju IPO atau penawaran saham perdana di bursa.

CEO PT Persebaya Indonesia itu menegaskan bahwa Persebaya bukan sekadar klub sepak bola. Bagi masyarakat Surabaya, klub berjuluk Green Force tersebut adalah simbol identitas dan kebanggaan kota.

“Persebaya itu bukan sekadar klub sepak bola. Ini simbol kehidupan masyarakat Surabaya,” ujar Azrul.

Ketika dirinya diminta mengambil alih pengelolaan klub pada 2016, kondisi Persebaya sedang berada di titik terendah. Klub tersebut bahkan sempat dihukum oleh PSSI dan tidak aktif selama hampir lima tahun akibat konflik dualisme yang melanda sepak bola nasional.

Namun justru dari titik itu, Azrul melihat peluang untuk membangun Persebaya sebagai klub profesional yang mandiri secara bisnis.

Awal Mengambil Alih Persebaya

Azrul mengaku sempat menolak dua kali tawaran untuk mengelola Persebaya. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan.

Ayahnya, yang juga pernah menjadi pengurus Persebaya, bahkan sempat berpesan agar dirinya tidak terjun ke dunia sepak bola. Menurut sang ayah, mengurus sepak bola penuh risiko dan tekanan.

Namun setelah melakukan analisis bersama timnya, termasuk direktur operasional Persebaya Candra Wahudi, Azrul akhirnya menerima tantangan tersebut.

Keputusan itu bukan didorong oleh hitungan finansial semata, melainkan kekhawatiran jika Persebaya jatuh ke tangan pihak yang salah

“Kalau Persebaya dipegang orang yang salah dan digunakan untuk kepentingan politik atau hal negatif, dampaknya bisa besar sekali bagi masyarakat,” jelasnya.

Akhirnya pada awal 2017, Azrul melalui PT DBL Indonesia mengakuisisi 70 persen saham Persebaya. Sementara 30 persen sisanya tetap dimiliki koperasi lama klub.

Membangun Klub Profesional

Setelah proses akuisisi, tantangan besar langsung dihadapi. Persebaya harus bertransformasi dari klub yang sebelumnya bergantung pada pemerintah menjadi entitas bisnis profesional berbentuk perseroan terbatas (PT).

Menurut Azrul, sebuah klub sepak bola profesional harus memiliki dua kaki utama.

Pertama adalah kaki prestasi yang berisi tim, pelatih, dan seluruh elemen teknis yang bertugas memenangkan pertandingan.

Kedua adalah kaki komersial yang mencakup bisnis, pemasaran, dan operasional perusahaan.

“Kalau dua kaki ini seimbang, klub bisa juara sekaligus sehat secara bisnis,” katanya.

Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah membangun jaringan Persebaya Store sebagai sumber pendapatan komersial klub.

Sebelum pandemi COVID-19, Persebaya bahkan sempat memiliki hingga 18 toko merchandise yang tersebar di berbagai kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga Pasuruan.

Namun pandemi membuat ekspansi tersebut harus dihentikan sementara dan jumlah toko dikurangi menjadi sekitar delapan hingga sembilan outlet.

Target IPO Persebaya

Ambisi besar Azrul adalah membawa Persebaya menjadi klub sepak bola yang benar-benar mandiri dan transparan secara finansial.

Salah satu cara yang ia yakini bisa mewujudkan hal tersebut adalah melalui IPO Persebaya di bursa saham.

Dengan IPO, klub tidak lagi bergantung pada pemilik tunggal dan memiliki struktur permodalan yang lebih kuat.

“Kalau terjadi apa-apa dengan saya, klub tidak boleh ikut terpengaruh. Itu sebabnya IPO adalah cara paling aman untuk masa depan Persebaya,” ujarnya.

Namun untuk mencapai tahap tersebut, Persebaya harus memenuhi sejumlah syarat penting, termasuk mencatatkan keuntungan selama tiga tahun berturut-turut.

Pandemi sempat menghambat rencana tersebut. Pada 2020, Persebaya bahkan mengalami kerugian hingga Rp19 miliar akibat kompetisi yang terhenti dan stadion tanpa penonton.

Peran Besar Bonek

Azrul juga menegaskan bahwa kebangkitan Persebaya tidak lepas dari peran suporter fanatiknya, Bonek.

Menurutnya, tanpa dukungan Bonek yang mempertahankan identitas klub saat konflik dualisme terjadi, Persebaya mungkin sudah hilang dari peta sepak bola Indonesia.

“Kalau bukan karena Bonek, Persebaya mungkin sudah tidak ada,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa dalam industri olahraga modern, kekuatan sebuah klub tidak hanya diukur dari prestasi di lapangan, tetapi juga dari tiga jenis “equity”.

Pertama adalah fan equity, yakni suporter yang tidak hanya mendukung tetapi juga membeli tiket dan merchandise resmi.

Kedua adalah social equity, yaitu pengaruh sosial klub terhadap masyarakat.

Dan ketiga adalah away equity, yakni kemampuan klub menarik penonton ketika bermain di kandang lawan.

Menurut Azrul, ketiga elemen tersebut sangat penting untuk membangun klub yang benar-benar profesional.

Ambisi Menjadikan Persebaya Contoh

Di tengah berbagai tekanan dan godaan, termasuk tawaran saham dari pihak luar, Azrul mengaku berusaha mempertahankan kendali klub agar tetap berada di tangan pihak yang memahami sejarah Persebaya.

Ia tidak ingin klub legendaris tersebut hanya dijadikan alat kepentingan politik atau permainan finansial semata.

“Persebaya jangan sampai jadi financial game. Ini harus jadi contoh pengelolaan klub profesional di Indonesia,” tegasnya.

Dengan visi tersebut, Azrul berharap dalam beberapa tahun ke depan Persebaya benar-benar bisa berdiri sebagai klub yang mandiri, profesional, dan berkelanjutan.

Editor : Anggi Septian A.P.
#bonek persebaya #azrul ananda #IPO Persebaya #persebaya surabaya