Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Azrul Ananda Bongkar Sumber Pemasukan Klub Sepak Bola Indonesia: Sponsor Tak Sampai Rp5 Miliar, Tiket Jadi Andalan Persebaya

Izahra Nurrafidah • Selasa, 10 Maret 2026 | 16:10 WIB

Azrul Ananda Bongkar Sumber Pemasukan Klub Sepak Bola Indonesia: Sponsor Tak Sampai Rp5 Miliar, Tiket Jadi Andalan Persebaya
Azrul Ananda Bongkar Sumber Pemasukan Klub Sepak Bola Indonesia: Sponsor Tak Sampai Rp5 Miliar, Tiket Jadi Andalan Persebaya
BLITAR - Presiden Klub Persebaya Surabaya, Azrul Ananda, membeberkan realitas bisnis sepak bola di Indonesia. Dalam sebuah video edukasi tentang manajemen klub, Azrul menjelaskan secara terbuka bagaimana sumber pemasukan klub sepak bola Indonesia sebenarnya masih sangat terbatas. Bahkan, menurutnya, banyak orang memiliki persepsi keliru tentang besarnya pendapatan klub.

Azrul mengungkapkan bahwa untuk menjalankan sebuah klub sepak bola profesional di Indonesia, biaya operasional satu musim bisa mencapai lebih dari Rp30 miliar. Angka tersebut mencakup berbagai kebutuhan mulai dari gaji pemain, staf pelatih, operasional pertandingan, hingga manajemen klub.

Namun di sisi lain, pemasukan klub belum tentu mampu menutup kebutuhan tersebut.

“Banyak orang berpikir klub sepak bola punya pemasukan besar. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu,” ujar Azrul dalam penjelasannya mengenai pemasukan klub sepak bola Indonesia.

Sponsor Jadi Andalan, Tapi Nilainya Terbatas

Sumber pemasukan utama klub sepak bola di Indonesia selama ini masih berasal dari sponsor. Logo sponsor biasanya terpampang di bagian depan jersey tim, yang dikenal sebagai sponsor utama.

Namun, nilai sponsor tersebut ternyata tidak sebesar yang dibayangkan publik.

Menurut Azrul, sangat jarang ada klub di Indonesia yang mendapatkan nilai sponsor utama lebih dari Rp5 miliar dalam satu musim. Bahkan untuk klub-klub besar sekalipun, angka tersebut belum tentu tercapai.

Karena itulah banyak klub memasang banyak logo sponsor di jersey mereka.

“Makanya jangan heran kalau di dada depan jersey ada banyak logo sponsor. Karena satu sponsor saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan klub,” jelasnya.

Ia menambahkan, nilai sponsor juga dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari besarnya nama klub, kota asal tim, jumlah pendukung, hingga reputasi suporter.

Klub yang berasal dari kota besar belum tentu mudah mendapatkan sponsor jika basis penggemarnya kecil atau tidak memiliki nilai ekonomi bagi brand yang ingin beriklan.

Secara umum, Azrul menilai hanya sedikit klub di Indonesia yang mampu memperoleh pemasukan sponsor lebih dari Rp10 miliar per musim.

Baca Juga: Puasa Tetap Produktif, Begini Tips dari Petugas Perpustakaan di MIN 1 Blitar

Apparel dan Merchandise Masih Jadi “Mitos”

Selain sponsor, sumber pemasukan lain yang sering dianggap besar adalah dari apparel dan merchandise klub. Namun menurut Azrul, kenyataan di Indonesia berbeda jauh dengan di liga-liga besar dunia.

Ia bahkan menyebut anggapan bahwa merchandise bisa menjadi sumber pemasukan besar sebagai mitos.

Menurutnya, untuk menghasilkan penjualan merchandise dalam jumlah besar, klub harus terlebih dahulu berinvestasi pada sistem penjualan, distribusi, hingga manajemen bisnis.

Artinya, biaya besar harus dikeluarkan terlebih dahulu sebelum keuntungan bisa dirasakan.

Masalah lainnya adalah maraknya produk tidak resmi.

Di Indonesia, banyak suporter membeli merchandise dengan logo atau warna klub, tetapi bukan produk official. Hal ini tentu tidak memberikan pemasukan langsung bagi klub.

“Orang bangga memakai atribut timnya, tapi belum tentu itu merchandise resmi yang memberikan pemasukan pada klub,” kata Azrul.

Ia menyebut jika sebuah klub mampu mendapatkan Rp1 miliar dari apparel dan merchandise, itu sudah termasuk pencapaian yang sangat baik.

Subsidi Liga dan Hak Siar Tak Bisa Diandalkan

Sumber pemasukan lain datang dari subsidi liga dan hak siar televisi. Biasanya dana ini diberikan oleh operator liga atau federasi kepada klub peserta kompetisi.

Namun jumlahnya sangat bervariasi dari tahun ke tahun.

Sebagai contoh, pada kompetisi Liga 1 2017 klub disebut bisa mendapatkan sekitar Rp7,5 miliar dari subsidi liga. Sedangkan di Liga 2, klub hanya memperoleh sekitar Rp500 juta ditambah bonus jika lolos ke fase berikutnya.

Meski terlihat cukup besar, Azrul mengingatkan bahwa pemasukan ini tidak bisa dijadikan pegangan utama dalam perencanaan keuangan klub.

Hal ini karena pencairan dana bisa berubah, bahkan dalam beberapa kasus tidak dibayarkan sesuai jadwal.

Karena itu, ia menilai subsidi liga sebaiknya dianggap sebagai bonus, bukan sumber pendapatan utama.

Tiket Pertandingan Jadi Penopang Utama

Di tengah keterbatasan berbagai sumber pemasukan tersebut, penjualan tiket pertandingan justru menjadi salah satu andalan klub sepak bola Indonesia.

Semakin banyak suporter yang datang ke stadion dan membeli tiket, semakin besar pula pemasukan klub.

Namun, sektor ini juga memiliki tantangan tersendiri.

Ada klub yang memiliki stadion besar tetapi basis suporternya kecil. Sebaliknya, ada klub dengan banyak suporter tetapi kapasitas stadionnya terbatas.

Ada pula kasus di mana suporter enggan membeli tiket, bahkan ada klub yang harus mengeluarkan biaya untuk mendatangkan penonton.

Karena itu, Azrul menyebut pemasukan tiket sebagai “kartu joker” bagi klub.

Jika dukungan suporter kuat dan stadion terisi penuh, pemasukan klub bisa meningkat signifikan.

Ia juga mengisyaratkan bahwa pembahasan mengenai harga tiket ideal untuk klub seperti Persebaya akan dijelaskan lebih lanjut dalam seri berikutnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#azrul ananda #sponsor klub Liga Indonesia #persebaya #pemasukan klub sepak bola Indonesia #Bisnis sepak bola Indonesia