Dalam sebuah perbincangan panjang di kanal YouTube, Aksa Mahmud menyoroti berbagai permasalahan yang menurutnya menjadi penghambat kemajuan sepak bola nasional. Mulai dari tata kelola federasi, kualitas persaingan, hingga kebijakan yang dianggap tidak konsisten.
Menurutnya, akar masalah sepak bola Indonesia terletak pada ketiadaan desain besar atau roadmap sepak bola nasional yang menjadi pedoman pengembangan dari level akar rumput hingga tim nasional.
Roadmap Sepak Bola Indonesia Dinilai Tidak Jelas
Aksa Mahmud menyebut roadmap merupakan fondasi penting untuk membangun sepak bola yang berkelanjutan. Tanpa roadmap, menurutnya, kebijakan federasi hanya bersifat reaktif dan tidak memiliki arah jangka panjang.
Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan Jepang yang memiliki rencana pengembangan sepak bola hingga puluhan tahun ke depan. Hasilnya kini terlihat dengan banyaknya pemain Jepang yang mampu bersaing di liga-liga top Eropa.
Sebaliknya, di Indonesia, ia menilai dokumen roadmap yang pernah muncul justru sangat minim dan tidak menggambarkan strategi jangka panjang.
“Roadmap itu harusnya menjadi buku besar sepak bola nasional. Langkah-langkahnya jelas mulai dari pelatihan usia dini, liga amatir, hingga tim nasional,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kebijakan naturalisasi pemain yang dinilai sebagai solusi instan karena tidak didukung sistem pelatihan jangka panjang yang jelas.
Kepemimpinan PSSI Harus Bebas Kepentingan Politik
Selain roadmap, Aksa Mahmud juga menyoroti kebijakan di federasi. Ia menegaskan bahwa sepak bola Indonesia membutuhkan pemimpin yang benar-benar memahami sepak bola dan tidak memiliki agenda politik
Menurutnya, sejarah menunjukkan banyak tokoh yang masuk ke dunia sepak bola untuk kepentingan politik, namun hasilnya tidak pernah maksimal.
“Pilih ketua umum yang mengerti sepak bola dan hidup matinya untuk sepak bola. Jangan punya agenda politik,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kritik terhadap federasi seharusnya diterima sebagai bagian dari proses perbaikan, bukan justru dilawan dengan serangan balik dari kelompok pendukung tertentu.
“Kritik itu penting. Jangan sampai pengurus memelihara buzzer untuk menyerang orang yang kuatir,” katanya.
Masalah Kompetisi dan Regulasi Liga
Dalam diskusi tersebut, Aksa Mahmud juga menyoroti beberapa persoalan dalam kompetisi Liga Indonesia. Salah satunya adalah penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR).
Ia mengakui VAR memang meningkatkan keadilan dalam pertandingan, namun penerapannya di Indonesia dinilai masih belum konsisten.
Menurutnya, beberapa wasit masih enggan menggunakan VAR dalam situasi yang seharusnya memerlukan peninjauan ulang.
Selain itu, ia juga menguraikan regulasi yang sering berubah serta sanksi dari Komite Disiplin yang dinilai belum memiliki standar yang jelas.
“Kadang sanksinya berbeda untuk kasus yang hampir sama. Ini yang membuat klub sering merasa dirugikan,” ujarnya.
Pendapatan Klub Sepak Bola Menurun
Aksa Mahmud juga mengungkapkan kondisi finansial klub yang semakin menantang. Salah satu penyebabnya adalah menurunnya pemasukan dari tiket pertandingan.
Ia menyebut pada masa euforia sepak bola beberapa tahun lalu, Madura United bisa memperoleh pendapatan hingga Rp5–6 miliar per musim dari tiket.
Namun saat ini, angka tersebut bahkan belum mencapai Rp2 miliar.
Menurutnya, salah satu faktor penyebabnya adalah larangan kehadiran suporter tamu yang membuat atmosfer pertandingan menjadi kurang menarik.
“Kalau ada suporter tamu, stadion pasti lebih hidup. Itu juga meningkatkan euforia penonton,” katanya.
Optimisme Sepak Bola Indonesia
Meski melontarkan banyak kritik, Aksa Mahmud tetap optimis terhadap masa depan sepak bola Indonesia. Ia menilai potensi sepak bola nasional masih sangat besar karena lebih dari sebagian masyarakat Indonesia menyukai olahraga tersebut.
Namun ia menyatakan kemajuan hanya bisa tercapai jika federasi dipimpin oleh orang yang benar-benar memahami sepak bola dan memiliki komitmen penuh untuk memajukan olahraga ini.
“Sepak bola Indonesia bisa kembali ke jalur yang benar kalau dipimpin orang yang mengerti sepak bola dan tidak punya kepentingan politik,” tutupnya.
Editor : Anggi Septian A.P.