Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Aksa Mahmud Kritik PSSI: Tanpa Roadmap dan Terlalu Politis, Sepak Bola Indonesia Sulit Maju

Izahra Nurrafidah • Selasa, 10 Maret 2026 | 16:45 WIB

Aksa Mahmud Kritik PSSI: Tanpa Roadmap dan Terlalu Politis, Sepak Bola Indonesia Sulit Maju
Aksa Mahmud Kritik PSSI: Tanpa Roadmap dan Terlalu Politis, Sepak Bola Indonesia Sulit Maju
BLITAR  – Kritik tajam terhadap kinerja federasi kembali datang dari tokoh sepak bola nasional. Kali ini, pemilik klub Madura United, Aksa Mahmud, secara terbuka menghapuskan pengelolaan sepak bola nasional dan menilai PSSI belum memiliki roadmap yang jelas untuk masa depan sepak bola Indonesia.

Dalam sebuah perbincangan panjang di kanal YouTube, Aksa Mahmud menyoroti berbagai permasalahan yang menurutnya menjadi penghambat kemajuan sepak bola nasional. Mulai dari tata kelola federasi, kualitas persaingan, hingga kebijakan yang dianggap tidak konsisten.

Menurutnya, akar masalah sepak bola Indonesia terletak pada ketiadaan desain besar atau roadmap sepak bola nasional yang menjadi pedoman pengembangan dari level akar rumput hingga tim nasional.

Baca Juga: Azrul Ananda Blak-blakan Soal Masa Depan Persebaya: Target Juara, IPO Sebelum 100 Tahun, hingga Alasan Pulangkan Pemain 'Hati Hijau'

Roadmap Sepak Bola Indonesia Dinilai Tidak Jelas

Aksa Mahmud menyebut roadmap merupakan fondasi penting untuk membangun sepak bola yang berkelanjutan. Tanpa roadmap, menurutnya, kebijakan federasi hanya bersifat reaktif dan tidak memiliki arah jangka panjang.

Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan Jepang yang memiliki rencana pengembangan sepak bola hingga puluhan tahun ke depan. Hasilnya kini terlihat dengan banyaknya pemain Jepang yang mampu bersaing di liga-liga top Eropa.

Sebaliknya, di Indonesia, ia menilai dokumen roadmap yang pernah muncul justru sangat minim dan tidak menggambarkan strategi jangka panjang.

“Roadmap itu harusnya menjadi buku besar sepak bola nasional. Langkah-langkahnya jelas mulai dari pelatihan usia dini, liga amatir, hingga tim nasional,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kebijakan naturalisasi pemain yang dinilai sebagai solusi instan karena tidak didukung sistem pelatihan jangka panjang yang jelas.

Baca Juga: Pedro Acosta Semakin Dekat dengan Ducati? Rumor Tinggalkan KTM pada 2026 Menguat Jelang MotoGP Argentina

Kepemimpinan PSSI Harus Bebas Kepentingan Politik

Selain roadmap, Aksa Mahmud juga menyoroti kebijakan di federasi. Ia menegaskan bahwa sepak bola Indonesia membutuhkan pemimpin yang benar-benar memahami sepak bola dan tidak memiliki agenda politik

Menurutnya, sejarah menunjukkan banyak tokoh yang masuk ke dunia sepak bola untuk kepentingan politik, namun hasilnya tidak pernah maksimal.

“Pilih ketua umum yang mengerti sepak bola dan hidup matinya untuk sepak bola. Jangan punya agenda politik,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kritik terhadap federasi seharusnya diterima sebagai bagian dari proses perbaikan, bukan justru dilawan dengan serangan balik dari kelompok pendukung tertentu.

“Kritik itu penting. Jangan sampai pengurus memelihara buzzer untuk menyerang orang yang kuatir,” katanya.

Baca Juga: Feda Ega Pratama Gegerkan Portimao, Rookie Indonesia Ini Disebut Lebih Siap dari Pedro Acosta dan Digadang-Gadang Jadi Proyek Rahasia KTM

Masalah Kompetisi dan Regulasi Liga

Dalam diskusi tersebut, Aksa Mahmud juga menyoroti beberapa persoalan dalam kompetisi Liga Indonesia. Salah satunya adalah penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR).

Ia mengakui VAR memang meningkatkan keadilan dalam pertandingan, namun penerapannya di Indonesia dinilai masih belum konsisten.

Menurutnya, beberapa wasit masih enggan menggunakan VAR dalam situasi yang seharusnya memerlukan peninjauan ulang.

Selain itu, ia juga menguraikan regulasi yang sering berubah serta sanksi dari Komite Disiplin yang dinilai belum memiliki standar yang jelas.

“Kadang sanksinya berbeda untuk kasus yang hampir sama. Ini yang membuat klub sering merasa dirugikan,” ujarnya.

Baca Juga: Pedro Acosta Frustrasi dengan KTM, Aksi Nekat Matikan Elektronik di MotoGP Sepang Bikin Dunia Balap Tercengang

Pendapatan Klub Sepak Bola Menurun

Aksa Mahmud juga mengungkapkan kondisi finansial klub yang semakin menantang. Salah satu penyebabnya adalah menurunnya pemasukan dari tiket pertandingan.

Ia menyebut pada masa euforia sepak bola beberapa tahun lalu, Madura United bisa memperoleh pendapatan hingga Rp5–6 miliar per musim dari tiket.

Namun saat ini, angka tersebut bahkan belum mencapai Rp2 miliar.

Menurutnya, salah satu faktor penyebabnya adalah larangan kehadiran suporter tamu yang membuat atmosfer pertandingan menjadi kurang menarik.

“Kalau ada suporter tamu, stadion pasti lebih hidup. Itu juga meningkatkan euforia penonton,” katanya.

Baca Juga: Geger Kabar Tisya Amallya Putri Dipecat Jakarta Pertamina Enduro Usai Dibantai Gresik Petrokimia, Manajemen Bongkar Video Deepfake!

Optimisme Sepak Bola Indonesia

Meski melontarkan banyak kritik, Aksa Mahmud tetap optimis terhadap masa depan sepak bola Indonesia. Ia menilai potensi sepak bola nasional masih sangat besar karena lebih dari sebagian masyarakat Indonesia menyukai olahraga tersebut.

Namun ia menyatakan kemajuan hanya bisa tercapai jika federasi dipimpin oleh orang yang benar-benar memahami sepak bola dan memiliki komitmen penuh untuk memajukan olahraga ini.

“Sepak bola Indonesia bisa kembali ke jalur yang benar kalau dipimpin orang yang mengerti sepak bola dan tidak punya kepentingan politik,” tutupnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Roadmap Sepak Bola Indonesia #PSSI #liga indonesia #aksa mahmud