Ahsanul Qosasi Bongkar Realita Sepak Bola Indonesia: Dari 11 Pemain Asing, Wasit VAR, hingga Rahasia Finansial Madura United

Izahra Nurrafidah • Dipublikasikan Selasa, 10 Maret 2026 | 16:50 WIB

Ahsanul Qosasi Bongkar Realita Sepak Bola Indonesia: Dari 11 Pemain Asing, Wasit VAR, hingga Rahasia Finansial Madura United
Ahsanul Qosasi Bongkar Realita Sepak Bola Indonesia: Dari 11 Pemain Asing, Wasit VAR, hingga Rahasia Finansial Madura United

BLITAR – Ahsanul Qosasi Madura United akhirnya buka-bukaan soal banyak hal terkait sepak bola Indonesia. Dalam sebuah podcast sepak bola, pemilik Madura United itu menyoroti mulai dari kebijakan pemain asing di Liga 1, masalah keuangan klub, hingga kritik terhadap federasi sepak bola nasional.

Menurut Ahsanul Qosasi Madura United, kebijakan terbaru yang memperbolehkan klub memiliki hingga 11 pemain asing patut dipertanyakan efektivitasnya. Ia menilai aturan tersebut justru berpotensi mengurangi kesempatan pemain lokal tampil di kompetisi.

“Kalau memang tujuh pemain asing boleh bermain di lapangan, ya kontraknya tujuh saja. Kenapa harus sampai 11 pemain?” ujar Ahsanul.

Ia menegaskan, ketika tujuh pemain asing bermain bersamaan, otomatis slot pemain lokal menjadi sangat terbatas. Jika ditambah pemain naturalisasi dan regulasi pemain U-23, ruang pemain lokal semakin sempit.

“Kalau tujuh asing main, tinggal empat slot pemain lokal. Dua naturalisasi misalnya, satu U-23, berarti hanya satu pemain lokal murni yang tersisa,” jelasnya.

Sepak Bola Indonesia Masih Bakar Uang

Selain soal regulasi pemain asing, Ahsanul Qosasi Madura United juga mengakui bahwa mengelola klub sepak bola di Indonesia belum memberikan keuntungan finansial.

Menurutnya, mayoritas pemilik klub masih harus mengeluarkan dana besar tanpa jaminan keuntungan.

“Sepak bola di Indonesia ini masih bakar duit. Belum ada untungnya sekarang,” kata Ahsanul.

Ia mengaku selama hampir satu dekade mengelola Madura United, keuntungan finansial hanya pernah dirasakan satu musim. Saat itu penjualan jersey melonjak dan stadion selalu penuh.

Momentum tersebut terjadi ketika Madura United diperkuat pemain bintang dunia, Peter Odemwingie.

“Waktu itu jersey laku banyak, stadion penuh. Itu salah satu musim kita bisa surplus,” ujarnya.

Meski demikian, Ahsanul menegaskan bahwa sepak bola bagi dirinya lebih dari sekadar bisnis.

Strategi Finansial Agar Klub Tidak Bangkrut

Meski mengakui sepak bola sering merugi, Ahsanul Qosasi Madura United mengungkapkan bahwa manajemen keuangan menjadi kunci agar klub tetap bertahan.

Ia menjelaskan bahwa sistem pengelolaan dana di Madura United dibuat sangat disiplin.

Subsidi dari federasi, kata dia, digunakan khusus untuk membayar gaji pemain. Sementara dana sponsor dialokasikan untuk operasional tim.

“Saya sudah bagi posnya. Subsidi liga untuk gaji pemain. Operasional dari sponsor. Tiket pertandingan untuk biaya tim muda,” jelasnya.

Dengan sistem tersebut, Madura United bisa memastikan gaji pemain tidak pernah terlambat.

Ahsanul juga menegaskan bahwa disiplin anggaran menjadi kunci agar klub tidak terkena sanksi FIFA.

“Kalau budget pemain segitu, ya cari pemain yang sesuai. Jangan karena emosi lalu beli pemain di luar kemampuan,” katanya.

Kritik VAR dan Kepemimpinan Wasit

Dalam kesempatan itu, Ahsanul Qosasi Madura United juga menyoroti penggunaan teknologi VAR di Liga 1 Indonesia.

Menurutnya, VAR memang membantu dalam beberapa keputusan seperti offside. Namun ia menilai penggunaannya sering berlebihan.

Ia bahkan menyebut setiap pertandingan bisa memakan waktu lama hanya untuk memeriksa keputusan melalui VAR.

“Satu pertandingan bisa lima kali cek VAR. Bisa sampai satu setengah menit hanya untuk lihat ulang,” ungkapnya.

Ahsanul juga menilai keputusan VAR terkadang justru lebih banyak dipengaruhi wasit di ruang kontrol dibanding wasit utama di lapangan.

“Yang berkuasa sekarang bukan hanya wasit di lapangan, tapi juga yang di ruang VAR,” ujarnya.

Harapan Besar untuk Sepak Bola Indonesia

Meski banyak kritik, Ahsanul Qosasi Madura United tetap optimistis terhadap masa depan sepak bola Indonesia.

Ia menilai olahraga ini memiliki kekuatan besar untuk mempersatukan masyarakat dari berbagai daerah.

Menurutnya, sepak bola mampu menciptakan momen kebersamaan yang sulit ditemukan di bidang lain.

“Sepak bola itu mempersatukan. Kita bisa menangis dan bersorak bersama saat tim nasional bermain,” katanya.

Ahsanul berharap federasi bisa mengelola sepak bola dengan lebih serius dan transparan.

Ia juga menekankan bahwa pengelolaan sepak bola tidak bisa hanya mengandalkan logika bisnis, tetapi juga harus dilandasi kecintaan terhadap olahraga tersebut.

“Sepak bola itu harus diurus dari hati. Kalau dari hati, suporter pasti percaya,” tegasnya.

Dengan berbagai pengalaman lebih dari tiga dekade di dunia sepak bola, Ahsanul berharap sepak bola Indonesia ke depan bisa lebih banyak menghasilkan prestasi dibanding polemik.

Editor : Anggi Septian A.P.
Sumber : youtube
madura united pemain asing liga 1 liga 1 indonesia Ahsanul Qosasi Madura United sepak bola indonesia