BLITAR – Azrul Ananda Persebaya akhirnya blak-blakan membahas arah masa depan klub kebanggaan Surabaya tersebut. Dalam sebuah podcast, CEO Persebaya itu memaparkan strategi besar manajemen, mulai dari target juara, pembinaan pemain muda, hingga rencana membawa klub melakukan IPO sebelum usia 100 tahun.
Pernyataan Azrul Ananda Persebaya ini langsung menjadi sorotan publik sepak bola nasional. Selain membahas target prestasi, ia juga menyinggung filosofi klub, program pembinaan pemain muda, hingga keputusan memulangkan sejumlah pemain yang disebut memiliki “hati hijau”.
Tak hanya itu, isu lain yang turut mencuat adalah masa depan kiper utama tim, Ernando Ari, yang kontraknya bersama Persebaya Surabaya akan habis pada 31 Mei 2026. Situasi ini memunculkan spekulasi transfer, termasuk kabar ketertarikan Persija Jakarta.
Target Juara dengan Pondasi Kuat
Azrul menegaskan bahwa tujuan utama Persebaya tetap menjadi juara. Namun, ia menekankan bahwa prestasi tersebut harus dibangun dengan pondasi yang kuat dan berkelanjutan.
Menurutnya, Persebaya tidak hanya dipandang sebagai klub sepak bola semata. Klub juga memiliki peran sosial, ekonomi, hingga budaya bagi masyarakat Surabaya bahkan Indonesia.
“Tujuan utama klub tentu menjadi yang terbaik dan juara. Tapi kami juga membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar tim di lapangan,” ujar Azrul.
Ia mengakui perjalanan mengelola klub tidak selalu mudah. Pandemi Covid-19 sempat memaksa manajemen melakukan reset terhadap berbagai rencana besar yang sudah disiapkan.
Saat itu, Persebaya bahkan telah melakukan investasi besar untuk membangun skuad kuat sebelum kompetisi dihentikan. Kerugian yang dialami disebut mencapai puluhan miliar rupiah.
Meski begitu, Azrul bersyukur klub tetap mampu bertahan secara finansial.
“Banyak klub terlihat sehat sebelum pandemi, tapi setelah pandemi kesulitan keuangan. Alhamdulillah Persebaya masih berdiri,” katanya.
Persebaya Lebih dari Sekadar Klub
Azrul juga menjelaskan filosofi pengelolaan klub yang berbeda dengan banyak tim lain di Indonesia. Ia ingin Persebaya menjadi bagian dari masyarakat, bukan sekadar organisasi olahraga.
Karena itu, berbagai kegiatan komunitas hingga program sosial rutin dilakukan bersama suporter.
Salah satu contoh adalah kegiatan internasional Persebaya di Australia Barat. Menurut Azrul, agenda tersebut tidak sekadar pertandingan atau latihan.
Di baliknya terdapat delegasi bisnis, pemerintah, hingga hubungan budaya antara Indonesia dan Australia.
“Sepak bola bisa menjadi jalan hubungan people to people, government to government, bahkan business to business,” jelasnya.
Ia menyebut Persebaya bisa menjadi kendaraan diplomasi yang membawa nama Surabaya, Jawa Timur, hingga Indonesia di tingkat internasional.
Fokus Pembinaan Pemain Muda
Sejak 2017, manajemen Persebaya konsisten mempertahankan kompetisi internal klub yang melibatkan puluhan tim anggota.
Kini klub juga mengembangkan sistem pembinaan baru bernama Persebaya Future Lab. Program ini menjadi jalur pengembangan pemain muda dari level U-16, U-18 hingga U-20 sebelum menembus tim utama.
Beberapa pemain muda bahkan sudah mulai dipromosikan ke skuad senior.
Menurut Azrul, langkah ini penting agar klub tidak hanya bergantung pada pembelian pemain mahal.
“Kalau uang pembinaan ditarik untuk beli pemain galaktikos mungkin bisa. Tapi kami tidak melakukan itu. Pembinaan tetap prioritas,” katanya.
Alasan Memulangkan Pemain Hati Hijau
Salah satu keputusan penting manajemen musim ini adalah memulangkan sejumlah pemain lama Persebaya.
Azrul menegaskan langkah tersebut bukan sekadar strategi teknis, tetapi juga berkaitan dengan karakter pemain yang sesuai dengan kultur klub.
Menurutnya, pemain dengan label bintang belum tentu cocok jika tidak memiliki jiwa Persebaya.
“Level A pun kalau hatinya tidak sesuai kultur Persebaya tidak ada gunanya,” tegasnya.
Rencana IPO Sebelum Usia 100 Tahun
Dalam jangka panjang, Azrul memiliki target besar membawa Persebaya menjadi perusahaan terbuka melalui Initial Public Offering (IPO).
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan klub secara finansial dan manajerial.
Dengan menjadi perusahaan terbuka, manajemen klub diharapkan lebih transparan dan profesional.
“Kalau sudah IPO, klub tidak lagi bergantung pada satu orang atau satu keluarga. Masa depannya akan lebih aman,” ujarnya.
Azrul berharap target tersebut bisa tercapai sebelum Persebaya mencapai usia 100 tahun.
Namun ia mengakui proses menuju IPO tidak mudah, karena klub harus mencatat keuntungan secara konsisten selama beberapa tahun.
“Apakah kita sudah terbaik? Belum. Tapi kita sedang menuju ke sana,” pungkasnya.
Masa Depan Ernando Ari Jadi Sorotan
Di sisi lain, masa depan kiper utama Persebaya, Ernando Ari Sutaryadi, juga menjadi perhatian menjelang akhir musim.
Kontrak penjaga gawang timnas Indonesia itu akan habis pada 31 Mei 2026.
Situasi ini memicu spekulasi transfer, termasuk kabar ketertarikan Persija Jakarta yang disebut sedang mencari regenerasi di posisi penjaga gawang.
Ernando Ari sendiri pernah mengungkapkan ketertarikannya bermain di klub besar.
“Maunya pengin tim-tim besar seperti Persija atau Persib,” katanya dalam sebuah wawancara.
Meski demikian, ia tetap memberikan penghormatan kepada semua klub di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Sepanjang kariernya bersama Persebaya, Ernando Ari telah tampil dalam lebih dari 100 pertandingan dengan 33 clean sheet.
Kini keputusan masa depannya akan sangat bergantung pada negosiasi kontrak baru dengan Persebaya atau kemungkinan menerima tawaran klub lain di bursa transfer mendatang.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.