BLITAR – Laga panas antara Bhayangkara FC melawan Arema FC pada pekan ke-25 Super League berakhir kontroversial. Pelatih Arema FC, Marco Santos, melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan wasit Yudai Yamamoto setelah timnya kalah dramatis 1-2 dari Bhayangkara FC di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung.
Dalam pertandingan tersebut, Arema FC sebenarnya sempat unggul lebih dulu sebelum akhirnya harus menelan kekalahan setelah sejumlah insiden kontroversial, termasuk dua kartu merah yang diterima pemain Singo Edan.
Marco Santos mengaku kecewa dengan beberapa keputusan wasit yang dinilai memengaruhi jalannya pertandingan.
Arema FC Sempat Unggul Lebih Dulu
Pertandingan berlangsung ketat sejak awal. Arema FC tampil cukup agresif dan berhasil memecah kebuntuan menjelang akhir babak pertama.
Gol pembuka dicetak oleh Jul Vinicius Silva pada menit ke-45. Gol tersebut membuat Arema FC menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0 atas tuan rumah Bhayangkara FC.
Namun situasi berubah drastis pada babak kedua. Bhayangkara FC berhasil meningkatkan intensitas serangan dan memberikan tekanan besar kepada lini pertahanan Arema.
Tuan rumah akhirnya mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-75 melalui gol Privatga. Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan Bhayangkara FC untuk terus menekan hingga akhirnya mendapatkan hadiah penalti pada menit ke-88.
Eksekusi penalti yang dilakukan oleh Mosaid B berhasil dikonversi menjadi gol. Skor pun berubah menjadi 2-1 untuk keunggulan Bhayangkara FC hingga laga berakhir.
Dua Kartu Merah Warnai Laga Panas
Selain gol-gol yang tercipta, pertandingan juga diwarnai sejumlah insiden panas yang membuat Arema FC harus bermain dengan jumlah pemain yang berkurang.
Kartu merah pertama diberikan wasit Yudai Yamamoto kepada pemain Arema FC, Gson Pablo da Oliveira, pada menit ke-54. Ia dianggap melakukan pelanggaran serius setelah menginjak kaki pemain Bhayangkara FC, Frank Misa.
Situasi semakin sulit bagi Arema FC ketika Dalberto Luan Belo juga harus meninggalkan lapangan setelah mendapat kartu merah.
Insiden tersebut terjadi setelah Dalberto terlibat konflik dengan pemain Bhayangkara FC, Slavko Damjanovic. Wasit melakukan pengecekan melalui VAR sebelum akhirnya memutuskan memberikan kartu merah kepada Dalberto.
Dalam tayangan ulang terlihat Dalberto melayangkan pukulan kepada Slavko saat terjadi kontak fisik di lapangan. Sementara Slavko yang dianggap memprovokasi lebih dulu hanya mendapatkan kartu kuning.
Keputusan tersebut membuat Arema FC harus menyelesaikan pertandingan dengan sembilan pemain.
Marco Santos Kritik Kepemimpinan Wasit
Usai pertandingan, Marco Santos secara terbuka mengkritik kepemimpinan wasit Yudai Yamamoto. Ia menilai beberapa keputusan yang diambil sangat merugikan Arema FC.
Menurutnya, pertandingan melawan Bhayangkara FC memang tidak mudah. Namun ia menegaskan bahwa faktor kepemimpinan wasit turut memengaruhi jalannya laga.
“Pertandingan melawan Bhayangkara memang sulit, bukan hanya karena kualitas mereka, tetapi juga karena kepemimpinan wasit,” ujar Marco Santos dalam konferensi pers setelah pertandingan.
Pelatih asal Brasil tersebut bahkan membandingkan pengalaman kepelatihannya di kompetisi luar negeri.
Ia mengaku pernah melatih di Liga Italia dan juga kompetisi Libertadores, namun belum pernah menemukan kepemimpinan wasit seperti yang terjadi dalam laga tersebut.
“Saya pernah melatih di Liga Italia dan Libertadores. Tapi saya tidak pernah melihat kepemimpinan wasit seperti ini,” katanya.
Soroti Inkonsistensi Wasit
Marco Santos juga menyoroti inkonsistensi wasit dalam memberikan hukuman kepada kedua tim. Ia menilai Arema FC lebih sering mendapatkan sanksi dibandingkan pemain Bhayangkara FC.
Meski demikian, ia tetap menegaskan bahwa dirinya menghormati keputusan yang telah diambil oleh wasit di lapangan.
“Kami bukan tidak menghormati wasit. Tetapi dalam situasi seperti ini tentu menjadi sulit bagi tim,” ujarnya.
Marco juga berharap kualitas kepemimpinan wasit di kompetisi sepak bola Indonesia bisa terus diperbaiki.
Menurutnya, jika liga menggunakan wasit dari luar negeri, maka kualitas kepemimpinan harus benar-benar terjaga agar pertandingan berjalan adil.
“Saya prihatin dengan sepak bola Indonesia yang sebenarnya sudah mulai maju. Tetapi kalau menggunakan wasit dari luar, harus lebih tegas lagi,” tutupnya.
Kekalahan ini membuat Arema FC harus menerima hasil pahit setelah sempat unggul lebih dulu. Sementara Bhayangkara FC berhasil memanfaatkan situasi untuk membalikkan keadaan dan mengamankan tiga poin penting di kandang sendiri.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.