Laga yang digelar di Bandar Lampung pada Selasa (10/3) ini berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Bhayangkara. Paul Munster secara terbuka memuji kualitas pemain Arema FC yang disiplin dan terus memberikan tekanan sepanjang pertandingan. Menurut Munster, fokus 100 persen menjadi kunci bagi timnya untuk meredam keganasan serangan Singo Edan yang dipimpin oleh barisan legiun asing asal Brasil.
Namun, kekalahan Arema FC kali ini menyisakan kekecewaan mendalam, terutama bagi sang pelatih, Marcos Santos. Dalam sesi jumpa pers usai laga, pelatih asal Brasil tersebut melontarkan kritik keras yang jarang terjadi sebelumnya. Ia merasa kepemimpinan wasit dalam pertandingan tersebut sudah melewati batas wajar dan dianggap merugikan institusi besar seperti Arema.
Marcos Santos Sebut Keputusan Wasit Tidak Hormat
Marcos Santos yang memiliki pengalaman panjang melatih di Serie A Liga Brasil hingga Copa Libertadores, mengaku kaget dengan apa yang ia lihat di lapangan. Menurutnya, kekalahan ini terasa sangat menyakitkan bukan karena permainan teknis, melainkan karena faktor eksternal. "Sepak bola harus dijalankan dengan rasa hormat. Kami bisa saja kalah, tetapi bukan dengan cara seperti ini," tegas Marcos dengan nada tinggi.
Kemarahan pelatih berusia 46 tahun ini bahkan menyasar hingga ke pimpinan komite wasit. Ia menegaskan bahwa kemenangan seharusnya ditentukan murni oleh strategi dan perjuangan para pemain di atas rumput hijau, bukan melalui keputusan-keputusan kontroversial yang mencederai sportivitas. Kritik pedas ini seolah menjadi puncak frustrasi Marcos setelah performa Arema FC yang cenderung menurun dalam beberapa pekan terakhir.
Rumor Panas Hengkang ke Guarani FC
Di tengah kemelut pasca-pertandingan, muncul isu yang tak kalah mengejutkan mengenai masa depan kursi kepelatihan Arema FC. Marcos Santos dikabarkan masuk dalam radar pantauan klub asal Brasil, Guarani Football Club. Kabar ini semakin menguat setelah adanya hubungan profesional masa lalu antara Marcos dengan Carlos Frontini, eksekutif sepak bola Guarani saat ini.
Negosiasi dikabarkan sudah dimulai sejak Senin (9/3), dan ada harapan besar dari pihak Guarani agar Marcos segera meninggalkan Malang dalam beberapa hari mendatang. Jika rumor ini menjadi kenyataan, maka posisi nakhoda Singo Edan dipastikan akan mengalami perubahan besar di sisa musim 2026. Hingga pekan ke-25, Marcos sendiri telah membawa Arema berada di posisi ke-11 klasemen dengan koleksi 31 poin.
Kehilangan sosok Marcos Santos di tengah jalan tentu akan menjadi tantangan berat bagi manajemen Arema. Apalagi, Marcos dikenal sangat mengandalkan duo Brasil, Joel Vinicius dan Dalberto, sebagai pilar penting dalam skema permainannya. Tanpa kehadiran sang pelatih, kestabilan taktik tim yang mengandalkan koneksi pemain Brasil ini dikhawatirkan akan terganggu.
Kini, Aremania dan publik sepak bola nasional menanti kepastian resmi dari pihak klub. Apakah Marcos Santos akan tetap bertahan menghadapi badai di Super League, ataukah ia akan memilih terbang kembali ke negaranya untuk tantangan baru di Liga Brasil? Satu yang pasti, dinamika di internal Arema saat ini sedang berada di titik yang sangat panas.
Editor : Anggi Septian A.P.