Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Orang Tua Tak Melarang SOTR, tapi Jangan Dijadikan Kebiasaan

Oksania Difa Ilmada • Kamis, 12 Maret 2026 | 15:05 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI
 

BLITAR KAWENTAR - Fenomena SOTR yang kerap dilakukan anak muda saat Ramadan memunculkan beragam tanggapan, khususnya para orang tua. Sebagian menilai boleh-boleh saja dilakukan, tetapi tetap perlu pengawasan dan tidak dijadikan kebiasaan.

Nanjar Ropik, seorang ibu rumah tangga, mengaku kurang setuju SOTR dilakukan terlalu sering karena cenderung menimbulkan pemborosan dan kebiasaan begadang.

“Kalau jarang-jarang tidak apa-apa, tapi kalau jadi rutinitas kurang bagus. Anak muda biasanya juga begadang, lalu kalau sahur di luar pasti beli makanan. Padahal kalau di rumah sudah ada masakan, sayang kalau tidak dimakan sampai sisa,” ujar warga Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar ini.

Dia menyadari, anak muda memiliki keinginan berkumpul dengan teman-temannya. Namun, kebersamaan dengan keluarga juga tidak kalah penting.

“Kadang SOTR jadi alasan kumpul dengan teman. Padahal, kebersamaan dengan keluarga di rumah juga penting. Sebagai orang tua tetap ada rasa khawatir kalau anak keluar dari malam sampai dini hari,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan Muhamad Arifin, salah satu ketua RW di Dusun Kemloko, Desa Sidodadi.

Menurutnya, wajar jika anak muda ingin mencoba hal baru, termasuk mengikuti tren SOTR. “Selama masih terkontrol dan tujuannya jelas, sebenarnya tidak masalah,” katanya.

Yang perlu ditekankan, SOTR tidak menjadi kebiasaan karena bisa berdampak pada pola istirahat dan keuangan.

Keduanya juga sepakat SOTR sebaiknya hanya sesekali, serta berharap anak muda bijak menjalani aktivitas Ramadan dan tidak melupakan kebersamaan bersama keluarga. (mg3/c1/ynu)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#orang tua #anak muda #blitar #sahur on the road #Gen Z #sotr #ramadan