BLITAR - Persiba Bantul menjadi salah satu kisah paling unik dalam sepak bola Indonesia. Klub asal Yogyakarta ini pernah dikenal sebagai tim kecil yang bertahan dengan dukungan sponsor UMKM lokal. Namun siapa sangka, melalui strategi pengembangan pemain muda dan penjualan transfer, Persiba Bantul justru berubah menjadi klub dengan pendapatan besar dari hasil penjualan pemain.
Di era sepak bola modern, kekuatan finansial klub sering kali menentukan prestasi di lapangan. Klub-klub besar biasanya didukung sponsor miliaran rupiah dan mampu membeli pemain bintang. Namun situasi itu berbeda dengan Persiba Bantul.
Klub ini bahkan pernah menjalin kerja sama dengan warung mie ayam lokal sebagai sponsor jersey mereka. Filosofi sederhana tersebut menunjukkan kedekatan Persiba Bantul dengan pelaku usaha kecil di daerahnya.
Namun kondisi finansial yang terbatas membuat perjalanan Persiba Bantul tidak mudah. Mereka sempat mengalami kesulitan bersaing dengan klub-klub besar di kompetisi nasional.
Strategi Baru: Beli Murah, Jual Mahal
Situasi itu memaksa manajemen dan pelatih Coach Dawulinho memutar otak. Alih-alih mengejar prestasi instan, Persiba Bantul memilih strategi jangka panjang: membeli pemain muda berpotensi dengan harga murah, mengembangkan mereka, lalu menjualnya dengan nilai tinggi.
Konsep ini dikenal sebagai model bisnis “moneyball” dalam sepak bola.
Musim pertama menjadi awal perjalanan tersebut. Dengan anggaran sangat kecil, sekitar 320 ribu euro, Persiba Bantul bahkan tidak mampu membeli pemain baru di awal musim. Skuad yang dimiliki mayoritas berusia muda dengan nilai pasar rata-rata sekitar 100 ribu euro.
Meski terbatas, Persiba Bantul tetap berusaha memperkuat tim dengan mendatangkan pemain berstatus free agent. Dua nama yang direkrut adalah Ahmad Afrizal sebagai striker dan David Rumakik di posisi bek kiri.
Hasilnya cukup mengejutkan. Persiba Bantul mampu finis di peringkat tiga babak reguler Liga 3 Indonesia, meski akhirnya gagal melangkah jauh di fase championship round.
Kebangkitan lewat Pemain Muda
Perjalanan Persiba Bantul mulai menunjukkan hasil pada musim kedua. Mereka mendatangkan striker muda Rizky Awan dengan harga murah.
Transfer tersebut menjadi keputusan penting.
Rizky Awan tampil luar biasa dan mencetak 23 gol dalam satu musim. Ketajamannya membantu Persiba Bantul menjuarai Liga 3 Indonesia sekaligus memastikan promosi ke Liga 2.
Kesuksesan itu juga membuat nilai pasar para pemain Persiba Bantul melonjak drastis.
Bek David Rumakik, misalnya, mengalami kenaikan market value hingga 500 ribu euro. Sementara beberapa pemain muda lainnya seperti Adlin Cahya dan Andrean Rindo juga mengalami peningkatan signifikan.
Promosi Hingga Liga 1
Strategi pengembangan pemain terus berlanjut dalam beberapa musim berikutnya. Persiba Bantul mulai menjual beberapa pemain bintang mereka dengan nilai transfer tinggi.
Rizky Awan akhirnya dilepas ke klub luar negeri dengan nilai transfer sekitar 2,5 juta euro. Bek David Rumakik juga dijual dengan harga lebih dari satu juta euro.
Keuntungan dari penjualan pemain tersebut digunakan untuk membangun skuad baru yang lebih kompetitif.
Hasilnya, Persiba Bantul berhasil promosi ke Liga 1 Indonesia. Pada musim debutnya di kasta tertinggi, mereka mampu finis di peringkat delapan klasemen dengan 46 poin—pencapaian yang cukup impresif untuk tim promosi.
Striker Rabbani Tasnim bahkan menjadi top skor Liga 1 setelah mencetak lebih dari 20 gol dalam satu musim.
Menjadi “Pabrik Pemain” Indonesia
Kesuksesan Persiba Bantul tidak berhenti di situ. Klub ini semakin dikenal sebagai penghasil pemain berkualitas.
Penjualan terbesar terjadi ketika Rabbani Tasnim ditebus klub Jepang dengan nilai transfer sekitar 25 juta euro. Angka ini menjadi rekor tertinggi dalam sejarah klub.
Beberapa tahun kemudian, Persiba Bantul kembali mencatatkan rekor baru. Dalam satu musim, mereka berhasil menjual tiga pemain sekaligus dengan total nilai transfer mencapai 65 juta euro.
Sayap Hugo Samir dijual ke klub Australia Melbourne City, Andrean Rindo pindah ke klub Jepang Gamba Osaka, sementara Mauri Simon direkrut klub besar Indonesia.
Strategi ini menjadikan Persiba Bantul sebagai salah satu klub dengan pemasukan terbesar dari penjualan pemain di Indonesia.
Meski tidak selalu menjadi juara, Persiba Bantul berhasil membuktikan bahwa klub kecil pun bisa bertahan dan berkembang dengan strategi yang tepat.
Kisah mereka menjadi contoh bahwa pengembangan pemain muda dapat menjadi fondasi kuat bagi masa depan klub sepak bola Indonesia.
Editor : Anggi Septian A.P.