BLITAR - Pertarungan sengit tersaji dalam lanjutan kompetisi kasta kedua sepak bola Indonesia saat Laskar Mataram menjamu tamunya dari Bumi Kartini. Hasil PSIM Jogja vs Persijap Jepara yang berakhir imbang dengan skor mencolok 2-2 menjadi buah bibir pecinta bola, terutama karena diwarnai aksi individu berkelas dan drama on-field review oleh wasit di menit-menit krusial.
Stadion Sultan Agung, Bantul, menjadi saksi bisu betapa tingginya tensi pertandingan sejak peluit pertama dibunyikan. Tuan rumah yang turun dengan formasi menyerang 4-3-3 langsung menekan pertahanan lawan. Namun, kejutan demi kejutan terus tercipta di lapangan hijau, membuat ribuan pasang mata yang menyaksikan laga ini tak henti berdecak kagum.
Memasuki babak pertama, intensitas permainan langsung memanas. Hasil PSIM Jogja vs Persijap Jepara mulai terlihat dinamis saat tim tamu mendapatkan peluang emas melalui skema sepak pojok. Kemelut sempat terjadi di depan gawang PSIM, namun barisan pertahanan tuan rumah masih cukup sigap menghalau bola. Meski begitu, momentum serangan balik yang dibangun PSIM justru menjadi momok menakutkan bagi Persijap.
Sihir Abioso dan Kejeniusan Ze Valente
Bintang lapangan pada laga kali ini tak lain adalah Martinez Abioso. Pemain lincah ini berkali-kali merepotkan sisi sayap pertahanan Persijap. Gol pembuka lahir dari sebuah skema serangan balik cepat yang sangat efektif. Abioso, dengan kecepatan larinya yang luar biasa, berhasil lolos dari kawalan dan memberikan umpan tarik (cutback) yang sangat akurat. Muncul tanpa pengawalan, pemain depan PSIM sukses mengonversi peluang tersebut menjadi gol yang menggetarkan jala gawang Persijap.
Tak berhenti di situ, publik Sultan Agung kembali dibuat terpana oleh aksi Ze Valente. Pemain asing yang menjadi motor serangan ini menunjukkan kelasnya melalui sebuah sentuhan back-heel yang tidak terduga. Valente seolah memiliki mata di belakang kepala; alih-alih berputar yang bisa membuang momentum, ia langsung mengarahkan bola ke rekan setimnya dalam posisi yang sangat menguntungkan. Aksi ini membuktikan bahwa kualitas individu menjadi pembeda dalam ketatnya persaingan di Liga 2 musim ini.
Drama VAR dan Keputusan Wasit Nendy Rohendi
Persijap Jepara bukan tanpa perlawanan. Tertinggal dua gol tidak membuat mental anak asuh tim tamu ambruk. Mereka perlahan membangun serangan dari bawah, mengandalkan Dicky Kurniawan sebagai pengatur ritme. Gol balasan mulai tercipta, namun drama sesungguhnya terjadi saat Persijap mencetak gol penyama kedudukan yang sempat dianulir karena dugaan offside.
Ketegangan memuncak saat wasit Nendy Rohendi memutuskan untuk melakukan on-field review melalui layar VAR di pinggir lapangan. Fokus utama tertuju pada posisi Carlos Franca yang dianggap berada dalam posisi offside sebelum bola dilepaskan. Ada perdebatan apakah Franca menghalangi pandangan penjaga gawang Cahya Supriadi atau tidak.
Setelah melakukan analisis mendalam melalui tayangan ulang, wasit akhirnya membuat keputusan tetap. Meski sempat ada keraguan di tribun penonton, papan skor akhirnya memastikan bahwa kedudukan berubah menjadi imbang. Skor 2-2 menjadi hasil PSIM Jogja vs Persijap Jepara yang harus diterima dengan lapang dada oleh kedua tim.
Persaingan Papan Atas Semakin Memanas
Skor imbang ini tentu memberikan dampak signifikan pada tabel klasemen. Bagi PSIM Jogja, kegagalan mempertahankan keunggulan dua gol menjadi catatan evaluasi penting bagi jajaran pelatih. Sebaliknya, bagi Persijap Jepara, satu poin dari laga tandang di Bantul adalah modal berharga untuk terus bersaing di papan atas.
Secara keseluruhan, pertandingan ini menyuguhkan tontonan berkualitas tinggi dengan tempo permainan yang cepat. Efektivitas transisi dari bertahan ke menyerang menjadi kunci utama dalam laga ini. Kini, kedua tim harus segera mengalihkan fokus ke pertandingan berikutnya, mengingat jadwal putaran kedua yang semakin padat dan menuntut fisik prima dari para pemain. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.