JAKARTA - Dunia sepak bola modern tidak bisa dilepaskan dari kekuatan bisnis dan politik. Hal tersebut juga terlihat jelas dalam struktur pemilik klub Liga 1 Indonesia saat ini. Sejumlah klub besar di Tanah Air diketahui dimiliki oleh konglomerat, pengusaha besar, hingga tokoh politik nasional.
Fenomena pemilik klub Liga 1 Indonesia yang berasal dari kalangan elite bisnis sebenarnya bukan hal baru. Di era industri olahraga, sepak bola telah berkembang menjadi ladang investasi strategis yang mampu memberikan keuntungan finansial sekaligus meningkatkan pengaruh publik bagi para pemiliknya.
Beberapa klub besar di Indonesia bahkan berada di bawah kendali grup usaha besar yang memiliki jaringan bisnis luas. Kondisi ini menunjukkan bahwa sepak bola nasional telah berkembang menjadi industri yang sangat serius.
Baca Juga: MotoGP 2026 Berubah Dramatis: Francesco Bagnaia Akui Ducati Bukan Lagi Motor Tercepat
Persebaya dan Mundurnya Azrul Ananda
Salah satu kabar yang sempat menghebohkan publik sepak bola Indonesia adalah mundurnya CEO Persebaya Surabaya, Azrul Ananda.
Selama ini, klub Bajul Ijo diketahui berada di bawah pengelolaan PT Jawa Pos Sportainment. Perusahaan tersebut memegang sekitar 70 persen saham klub melalui PT Persebaya Indonesia.
Azrul Ananda sendiri merupakan putra dari mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Ia juga pernah menjabat sebagai direktur di perusahaan media besar, Jawa Pos.
Sejak 2017, Persebaya secara resmi berada di bawah kendali grup Jawa Pos. Namun keputusan Azrul untuk melepas kepemilikan klub sempat menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan suporter.
Meski mendapat penolakan dari sebagian pendukung, Azrul tetap menyatakan akan menyelesaikan seluruh proses administrasi pelepasan saham hingga tuntas. Saat ini, sekitar 30 persen saham klub masih dimiliki oleh Koperasi Surya Abadi Persebaya.
Persija Jakarta dan Bakrie Group
Di ibu kota, struktur pemilik klub Liga 1 Indonesia juga melibatkan konglomerat besar. Klub Persija Jakarta diketahui memiliki keterkaitan dengan Bakrie Group.
Mayoritas saham Persija berada di bawah perusahaan PT Jakarta Indonesia Hebat yang menguasai lebih dari 95 persen saham PT Persija Jaya Jakarta.
Nama Nirwan Bakrie disebut sebagai sosok penting di balik investasi tersebut. Namun pada awalnya keterlibatan kelompok Bakrie tidak terlalu terlihat di publik.
Baca Juga: Kedai Kopi di Kota Blitar Ini Hadirkan Sentuhan Vintage dan Chinese
Baru setelah Persija menjuarai Liga 1 musim 2018, jaringan bisnis Bakrie mulai muncul secara terang-terangan. Sejumlah orang kepercayaan Nirwan Bakrie masuk dalam jajaran direksi dan komisaris klub.
Persib Bandung dan Bali United Terhubung Northstar
Klub besar lainnya yang memiliki hubungan dengan perusahaan investasi adalah Persib Bandung dan Bali United.
Keduanya diketahui memiliki keterkaitan dengan Northstar Group, perusahaan investasi yang berbasis di Singapura.
Northstar didirikan oleh Patrick Walujo dan Glenn Sugita. Glenn sendiri telah lama menjadi sosok penting dalam pengelolaan Persib Bandung.
Sejak 2009, Glenn Sugita menjabat sebagai pemegang saham terbesar sekaligus Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat, perusahaan yang menaungi klub Maung Bandung.
Sementara itu Bali United dikenal berada di bawah kendali Peter Tanuri dan Yabes Tanuri melalui PT Bali Bintang Sejahtera Tbk.
Menariknya, Bali United menjadi klub sepak bola pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek Indonesia.
PSM Makassar dan Bosowa Group
Di wilayah timur Indonesia, klub PSM Makassar berada di bawah pengaruh Bosowa Group.
Sejak 2015, Bosowa Sport Indonesia menjadi pemegang saham mayoritas PT Persaudaraan Sepak Bola Makassar yang mengelola klub Juku Eja.
Nama Sadikin Aksa, anak pengusaha Aksa Mahmud, juga terlibat langsung dalam manajemen klub sebagai komisaris utama.
Keluarga Bosowa memiliki hubungan dekat dengan tokoh nasional Jusuf Kalla, karena Aksa Mahmud merupakan paman dari mantan Wakil Presiden tersebut.
Klub Lain yang Dimiliki Pengusaha
Selain klub-klub besar tersebut, beberapa tim Liga 1 juga berada di bawah kendali pengusaha lokal.
Klub Barito Putera misalnya dimiliki oleh Hasnur Group, perusahaan keluarga yang memiliki bisnis luas di sektor pertambangan, kehutanan, dan transportasi.
Klub ini dikelola oleh Hasnuryadi Sulaiman, yang juga dikenal sebagai anggota DPR RI.
Sementara itu PSS Sleman memiliki keterkaitan dengan perusahaan yang berada dalam lingkaran bisnis Arifin Panigoro, pendiri Medco Group.
Sedangkan Madura United dimiliki oleh pengusaha sekaligus pejabat negara Ahsanul Qosasi melalui PT Garuda Tani Nusantara.
Dengan pengalaman panjang di bidang keuangan, Ahsanul dinilai berhasil menjaga stabilitas finansial klub kebanggaan masyarakat Madura tersebut.
Sepak Bola dan Kekuatan Modal
Fenomena pemilik klub Liga 1 Indonesia yang didominasi konglomerat menunjukkan bahwa sepak bola nasional kini telah berkembang menjadi industri besar.
Kehadiran investor kuat memang membantu klub memiliki stabilitas finansial dan pengelolaan yang lebih profesional. Namun di sisi lain, keterlibatan tokoh bisnis dan politik juga memunculkan perdebatan mengenai arah perkembangan sepak bola Indonesia ke depan.
Yang jelas, di era sepak bola modern saat ini, kekuatan finansial menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing klub di lapangan.
Editor : Anggi Septian A.P.