BLITAR - Persib Bandung kini berada di ambang sejarah besar yang belum pernah dicapai oleh klub mana pun dalam sejarah sepak bola tanah air. Di kompetisi kasta tertinggi musim ini, Persib Bandung tengah mengusung misi besar untuk mencatatkan hatrick juara Liga Indonesia. Jika berhasil mempertahankan gelar musim ini, sang Maung tidak hanya akan menjadi raja di klasemen, tetapi juga sah menyandang status sebagai penguasa abadi kompetisi profesional Indonesia.
Hingga saat ini, tim asuhan Bojan Hodak tersebut masih kokoh di puncak klasemen sementara dengan keunggulan empat poin dari pesaing terdekatnya, Borneo FC dan Persija Jakarta. Dengan menyisakan 10 pertandingan krusial, narasi mengenai Persib Bandung yang mengejar hatrick juara Liga Indonesia semakin kencang berhembus. Tersingkirnya mereka dari kompetisi Asia justru dianggap sebagai berkah tersembunyi, karena Marc Klok dan kawan-kawan kini bisa fokus 100 persen pada kompetisi domestik.
Hitung-hitungan Poin Menuju Singgasana
Untuk mengunci gelar tanpa harus bergantung pada hasil tim lain, Persib Bandung membutuhkan skenario poin yang cukup menantang dalam misi hatrick juara Liga Indonesia ini. Berdasarkan analisis klasemen saat ini, tim kebanggaan Bobotoh tersebut memerlukan tambahan setidaknya 27 poin dari maksimal 30 poin yang tersedia. Artinya, Persib wajib memenangkan 9 dari 10 pertandingan sisa untuk mencapai total 84 poin di akhir musim.
Target tersebut secara matematis akan menutup peluang Borneo FC dan Persija Jakarta. Jika Borneo menyapu bersih sisa laga pun, poin maksimal mereka hanya akan menyentuh angka 83, sementara Persija tertahan di angka 81. Namun, jalan menuju tangga juara dipastikan tidak akan semulus jalan tol. Ujian mental dan konsistensi akan menjadi musuh utama bagi skuad Maung Bandung di pekan-pekan terakhir yang semakin genting.
Laga Krusial Melawan Borneo FC dan Persija
Titik balik perjuangan Persib akan ditentukan dalam dua laga tunda dan laga besar melawan rival abadi. Ujian pertama datang saat mereka harus bertandang ke Stadion Segiri, Samarinda, menghadapi Borneo FC. Laga ini adalah duel "enam poin". Jika Persib terpeleset, jarak poin akan menyempit menjadi hanya satu poin, yang tentu saja akan merusak mentalitas bertanding tim.
Selain Borneo, ancaman nyata datang dari rival klasik, Persija Jakarta. Duel bertajuk El Clasico Indonesia ini dijadwalkan berlangsung pada 10 Mei mendatang. Persija diprediksi akan tampil habis-habisan untuk merusak pesta juara sang rival. Kemenangan atas Persib bagi Macan Kemayoran bukan sekadar poin, melainkan soal harga diri dan upaya menghentikan dominasi Maung Bandung di liga.
Benteng Kokoh dan Tuah GBLA
Ada tiga faktor utama yang mendukung optimisme Bobotoh musim ini. Pertama adalah lini pertahanan yang sangat solid. Hingga saat ini, Persib merupakan tim dengan angka kebobolan paling sedikit, yakni hanya 13 gol. Kehadiran bek asing berkualitas seperti Patricio Matricardi dan Federico Barba, dipadukan dengan talenta lokal seperti Kakang Rudianto, membuat gawang Teja Paku Alam sangat sulit ditembus.
Faktor kedua adalah ketajaman duet lini depan, Ander Ujung dan William Baros. Keduanya masuk dalam jajaran top skorer liga dan memiliki penyelesaian akhir yang klinis. Ketiga, faktor Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang masih menyandang status "angker". Sejauh ini, Persib belum terkalahkan di kandang, dengan catatan impresif 13 kemenangan kandang.
Mengukir Sejarah Emas Sepak Bola Indonesia
Jika gelar juara berhasil diamankan, Persib Bandung akan menyalip perolehan trofi Persipura Jayapura yang mengoleksi empat gelar di era Liga Indonesia. Dengan tambahan satu trofi musim ini, Persib akan mengoleksi lima gelar juara di era modern. Jika digabungkan dengan era Perserikatan, total koleksi trofi mereka menjadi 10 piala, menjadikan mereka klub tersukses di Indonesia melampaui raksasa-raksasa lainnya.
Sejarah mencatat, hanya Bali United dan Persipura yang pernah meraih gelar juara dua kali beruntun. Namun, belum ada satu pun tim yang mampu mencetak tiga kali juara secara berturut-turut. Misi ini adalah sebuah kemustahilan yang coba dipatahkan oleh Bojan Hodak dan pasukannya. Kini, publik sepak bola nasional tinggal menunggu, apakah mahkota juara akan tetap bertahan di Bandung atau justru berpindah ke tangan pesaingnya di akhir musim nanti. (*)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly