BLITAR– Nama Megawati Hangest Tri Pertiwi kembali menjadi perbincangan hangat di kancah voli Asia Tenggara setelah final SEA Games 2025. Meski tim voli putri Indonesia hanya meraih medali perunggu, pengaruh permainan Megawati disebut-sebut ikut memengaruhi jalannya final antara Vietnam dan Thailand.
Thailand akhirnya keluar sebagai juara dan meraih medali emas setelah menundukkan Vietnam di laga puncak. Vietnam harus puas dengan perak, sementara Indonesia menutup turnamen dengan perunggu. Namun di balik hasil itu, muncul kisah lain yang membuat nama Megawati kembali menjadi sorotan.
Spike keras pemain yang dijuluki “Ratu Headshot” itu disebut menjadi awal dari cedera yang dialami kapten Vietnam, Tran Thi Thanh Thuy, sehari sebelum final.
Cedera tersebut ternyata berdampak besar pada performa Vietnam di laga penentuan.
Cedera Berawal dari Laga Indonesia vs Vietnam
Kisah ini bermula pada pertandingan semifinal antara Indonesia dan Vietnam. Dalam laga tersebut, Tran Thi Thanh Thuy mencoba menahan spike keras Megawati dengan blok.
Namun benturan bola yang sangat kuat membuat jarinya mengalami pembengkakan.
Meski tetap melanjutkan pertandingan, rasa nyeri itu ternyata tidak hilang hingga keesokan harinya. Kondisi tersebut diungkapkan oleh ibu Thanh Thuy kepada media Vietnam setelah pertandingan.
Menurut sang ibu, putrinya sempat menelepon sambil menangis karena khawatir tidak bisa tampil maksimal di final.
“Jariku susah digenggam. Ditekuk saja sakit,” ungkap Thanh Thuy seperti diceritakan ibunya.
Namun sang kapten memilih menyembunyikan cedera itu. Ia tidak ingin lawan mengetahui kelemahan yang bisa dimanfaatkan di pertandingan final.
Keputusan tersebut menunjukkan mentalitas seorang pemimpin tim, tetapi juga menjadi risiko besar bagi Vietnam.
Performa Vietnam Tak Maksimal di Final
Ketika menghadapi Thailand di partai final, permainan Thanh Thuy terlihat berbeda. Spike-nya tetap keras, tetapi tidak seagresif biasanya. Gerakan bloknya juga tampak ragu-ragu.
Thailand yang dikenal disiplin dan cepat membaca situasi langsung memanfaatkan kondisi tersebut. Serangan mereka berjalan efektif, sementara Vietnam kesulitan keluar dari tekanan.
Pada beberapa momen krusial, refleks Thanh Thuy juga terlihat terlambat.
Salah satu momen yang paling disorot terjadi ketika bola cepat mengarah ke kepalanya. Secara naluriah ia sebenarnya bisa menahannya dengan tangan.
Namun karena mengingat jarinya yang cedera, reaksinya menjadi terlambat. Bola akhirnya mengenai kepalanya—sebuah momen yang bagi penonton hanya terlihat sebagai highlight pertandingan.
Bagi Thanh Thuy, keputusan sepersekian detik itu sangat mahal.
Pada akhirnya, Thailand memastikan kemenangan dan meraih emas SEA Games 2025.
Momen Haru Megawati dan Thanh Thuy
Di balik kerasnya persaingan, terdapat momen yang menunjukkan sisi lain olahraga.
Usai pertandingan Indonesia melawan Vietnam, Megawati sempat menghampiri Thanh Thuy dan memeluknya sambil meminta maaf. Tidak ada selebrasi berlebihan, hanya sikap saling menghormati antar atlet.
Momen emosional itu kembali terjadi setelah final.
Saat Vietnam keluar dari lapangan dengan rasa kecewa, Megawati ternyata sudah menunggu di lorong arena. Ia kemudian memeluk Thanh Thuy yang menangis setelah gagal membawa negaranya meraih emas.
Pelukan tersebut menjadi simbol solidaritas sesama atlet yang sama-sama berjuang di lapangan.
Tidak ada perbedaan antara pemenang dan yang kalah di momen itu.
Indonesia Pulang dengan Perunggu dan Evaluasi
Bagi Indonesia, medali perunggu menjadi penutup perjalanan di SEA Games 2025. Hasil ini memang belum mampu menembus dominasi Thailand dan Vietnam yang masih menjadi kekuatan utama voli putri Asia Tenggara.
Meski demikian, perjuangan timnas tetap mendapat apresiasi. Setelah kalah dari dua raksasa kawasan, skuad Merah Putih mampu bangkit dan memastikan tempat di podium.
Performa Megawati juga kembali menunjukkan perannya sebagai tumpuan utama tim.
Namun sejumlah pengamat menilai masih ada pekerjaan rumah bagi federasi. Mulai dari peningkatan kualitas pemain, tinggi badan rata-rata tim, hingga sistem pembinaan jangka panjang.
SEA Games 2025 menjadi cermin bahwa mental bertanding timnas Indonesia cukup kuat, tetapi peningkatan kualitas teknis masih diperlukan untuk bersaing di level lebih tinggi.
Di sisi lain, kisah antara Megawati dan Thanh Thuy menjadi pengingat bahwa olahraga tidak hanya soal kemenangan.
Ada rasa hormat, empati, dan solidaritas yang tetap hidup di tengah kerasnya kompetisi.
Dan selama Megawati masih berdiri di lapangan, cerita tentang pengaruhnya di voli Asia Tenggara tampaknya belum akan berakhir.
Editor : Izahra Nurrafidah