BLITAR – Ratu Tisha Destria akhirnya angkat bicara panjang lebar tentang perjalanan kariernya di sepak bola Indonesia. Mantan Sekretaris Jenderal PSSI itu membuka banyak cerita, mulai dari awal ketertarikannya pada sepak bola, proses menjadi Sekjen PSSI, hingga pandangannya soal masa depan Timnas Indonesia dan peluang lolos Piala Dunia.
Dalam sebuah podcast olahraga, Ratu Tisha Destria mengungkapkan bahwa kecintaannya pada sepak bola sudah muncul sejak kecil. Ia sering diajak ayahnya menonton pertandingan langsung di stadion. Dari situ, ketertarikannya berkembang bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga pada sisi manajemen sepak bola.
Menurutnya, ketertarikan itu semakin serius ketika masih duduk di bangku SMA. Saat itu ia mulai aktif mengurus berbagai kegiatan terkait sepak bola, termasuk membuat komunitas, menulis surat kepada klub, hingga membangun website tentang sepak bola.
“Saya memang dari dulu sudah tertarik pada manajemen sepak bola. Tidak hanya soal pertandingan, tapi juga bagaimana tim dikelola, dari pelatihan sampai operasional,” ujarnya.
Perjalanan dari Statistik hingga Manajemen Sepak Bola
Setelah menempuh pendidikan di Bandung, Ratu Tisha Destria mulai terlibat lebih serius dalam dunia sepak bola. Ia bahkan mendirikan perusahaan yang fokus pada pengolahan data dan statistik sepak bola.
Saat itu, penggunaan data dalam sepak bola Indonesia masih sangat terbatas. Namun ia bersama timnya mencoba mengumpulkan berbagai data performa pemain dan pertandingan untuk dianalisis.
Langkah ini membuatnya sering mengikuti konferensi internasional tentang sport science dan sepak bola di berbagai negara. Bahkan, ia sempat menulis jurnal ilmiah mengenai analisis data dalam sepak bola.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya mengikuti program FIFA Master, sebuah program pendidikan internasional tentang manajemen olahraga.
Program ini berlangsung di tiga negara, yaitu Inggris, Italia, dan Swiss. Di sana ia mempelajari berbagai aspek sepak bola, mulai dari sejarah dan budaya sepak bola, manajemen industri olahraga, hingga hukum dan regulasi sepak bola internasional.
“Di sana kita belajar bahwa sepak bola bukan hanya soal permainan, tapi juga tentang budaya, politik, ekonomi, hingga manajemen industri yang sangat kompleks,” katanya.
Tantangan Mengelola Kompetisi Sepak Bola Indonesia
Sepulang dari program tersebut, Ratu Tisha Destria mulai menerapkan berbagai konsep manajemen modern di sepak bola Indonesia. Salah satunya ketika terlibat dalam pengelolaan kompetisi liga.
Ia menilai mengelola kompetisi sepak bola di Indonesia jauh lebih rumit dibandingkan banyak negara lain. Hal ini disebabkan oleh faktor geografis yang luas, perbedaan infrastruktur, hingga jarak perjalanan antar tim.
“Kalau dihitung total jarak perjalanan semua tim dalam satu musim liga, itu seperti tujuh kali perjalanan bolak-balik dari bumi ke bulan,” ungkapnya.
Karena kompleksitas itu, penyusunan jadwal pertandingan harus dilakukan dengan sangat detail. Bahkan tim pengelola kompetisi harus siap bekerja hingga larut malam untuk memastikan jadwal tidak merugikan banyak pihak.
Jadi Sekjen PSSI dan Sorotan Publik
Karier Ratu Tisha Destria mencapai puncaknya ketika ia dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PSSI. Saat itu ia menjadi perempuan pertama yang menjabat posisi tersebut di Indonesia, bahkan di Asia.
Posisi tersebut membuatnya mendapat sorotan besar, baik dari publik maupun media. Ia harus menghadapi tekanan dari berbagai pihak, termasuk kritik dari suporter dan netizen.
Namun ia mengaku tidak pernah menganggap kritik sebagai sesuatu yang negatif.
“Selama orang masih merespons, artinya mereka peduli dengan sepak bola. Saya selalu melihatnya sebagai bentuk kecintaan terhadap sepak bola,” katanya.
Alasan Luis Milla Tidak Diperpanjang
Salah satu isu yang sering dipertanyakan publik adalah keputusan PSSI tidak memperpanjang kontrak pelatih Timnas Indonesia Luis Milla.
Menurut Ratu Tisha Destria, keputusan tersebut bukan hanya berdasarkan aspek teknis, tetapi juga berbagai pertimbangan lain, seperti kondisi organisasi dan aspek finansial.
Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil oleh jajaran eksekutif PSSI setelah melakukan evaluasi menyeluruh.
“Banyak faktor yang dipertimbangkan, tidak hanya soal prestasi di lapangan,” jelasnya.
Target Indonesia ke Piala Dunia 2034
Dalam pandangannya, sepak bola Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang. Namun ia menegaskan bahwa pencapaian besar seperti lolos ke Piala Dunia membutuhkan proses panjang.
Menurutnya, jika program pembinaan sepak bola yang dirancang sejak 2015 berjalan konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk tampil di Piala Dunia pada 2034.
Namun untuk mencapai target tersebut, Indonesia harus terlebih dahulu meningkatkan prestasi di level Asia dan kompetisi usia muda.
“Kita harus naik level. Juara di level regional belum cukup kalau ingin bersaing di dunia,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kunci utama kemajuan sepak bola Indonesia adalah pembinaan usia dini yang konsisten, pelatih berkualitas, serta sistem kompetisi yang sehat.
Editor : Izahra Nurrafidah