BLITAR - Taktik Bojan Hodak Persib menjadi perbincangan panas usai kemenangan tipis 1-0 atas Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, 11 Januari 2026. Meski hasil tersebut mengukuhkan Persib Bandung di puncak klasemen paruh musim Liga 1, gaya bermain yang diterapkan menuai pro dan kontra.
Dalam laga klasik sarat gengsi itu, Persib tampil tidak dominan dalam penguasaan bola. Namun efektivitas menjadi kunci. Taktik Bojan Hodak Persib yang mengandalkan pertahanan rapat dan serangan balik cepat terbukti mampu meredam agresivitas Persija.
Perdebatan pun tak terhindarkan. Sebagian suporter menilai kemenangan tersebut terasa “hambar” karena minim atraksi menyerang. Namun di sisi lain, taktik Bojan Hodak Persib dianggap sebagai langkah realistis demi meraih hasil maksimal di kompetisi ketat seperti Liga 1.Transformasi Persib di Tangan Bojan Hodak
Sejak ditangani Bojan Hodak, Persib mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya dikenal sebagai tim menyerang yang atraktif namun rapuh di lini belakang, kini Maung Bandung menjelma menjadi tim yang lebih disiplin dan sulit ditembus.
Pada masa transisi sebelum Hodak, Persib kerap kehilangan fokus di menit-menit krusial. Serangan yang intens sering tidak diimbangi pertahanan solid, sehingga kebobolan menjadi masalah klasik. Hodak datang membawa pendekatan berbeda: mengutamakan hasil ketimbang estetika permainan.
Pendekatan ini perlahan menunjukkan hasil. Dengan koleksi 38 poin, Persib sukses mengunci status juara paruh musim. Disiplin taktik dan konsistensi menjadi fondasi utama kesuksesan tersebut.
Parkir Bus ala Mourinho di GBLA
Dalam laga kontra Persija, Persib menerapkan strategi yang identik dengan filosofi Jose Mourinho. Skema “parkir bus” dengan low block ekstrem membuat lini serang Persija frustrasi.
Statistik mencatat Persib hanya menguasai bola sekitar 38 persen. Namun angka tersebut justru menjadi bagian dari strategi. Persib sengaja memberikan ruang penguasaan bola kepada lawan, tetapi menutup rapat area berbahaya di sepertiga akhir lapangan.
Jarak antar lini yang rapat membuat pemain Persija kesulitan menembus pertahanan. Gelandang Persib berperan vital sebagai pemutus serangan, mengingatkan pada peran gelandang bertahan klasik dalam sistem Mourinho.
Strategi ini bukan tanpa risiko. Dibutuhkan konsentrasi tinggi selama 90 menit. Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Namun Persib mampu menjalankannya dengan disiplin tinggi.Serangan Balik Mematikan Jadi Senjata
Keberhasilan taktik bertahan Persib dilengkapi dengan serangan balik yang efisien. Gol tunggal dalam laga tersebut lahir dari skema transisi cepat yang terlatih.
Hanya dalam beberapa sentuhan, bola berpindah dari lini belakang ke depan dan berbuah gol. Pola ini menjadi ciri khas taktik Bojan Hodak Persib: bertahan rapat, lalu menyerang dengan kecepatan tinggi saat ada celah.
Peran para pemain depan juga krusial. Mereka tidak banyak terlibat dalam build-up, tetapi siap menjadi eksekutor saat peluang muncul. Efektivitas ini menjadi pembeda utama dibandingkan gaya bermain sebelumnya yang lebih terbuka.
Menariknya, meski Persija harus bermain dengan 10 orang, Persib tetap tidak mengubah pendekatan. Mereka memilih mempertahankan keunggulan daripada mengambil risiko untuk menambah gol.
Pro Kontra: Anti Sepak Bola atau Taktik Jenius?
Gaya bermain Persib memicu perdebatan luas, termasuk kritik dari pelatih Persija, Mauricio Souza, yang menilai pertandingan tersebut tidak mencerminkan sepak bola ideal.
Namun jika melihat tren global, pendekatan pragmatis bukan hal baru. Banyak pelatih top Eropa menggunakan strategi serupa dan meraih kesuksesan.
Di mata sebagian Bobotoh, perubahan ini justru menunjukkan kematangan tim. Persib tidak lagi sekadar menghibur, tetapi juga tahu cara menang.
Pada akhirnya, sepak bola profesional menempatkan hasil sebagai prioritas utama. Statistik penguasaan bola atau jumlah umpan indah kerap menjadi nomor dua jika tidak berujung kemenangan.
Kini, Persib berada di jalur yang tepat menuju gelar juara. Dengan pertahanan solid dan efisiensi tinggi, mereka menjadi salah satu tim paling sulit dikalahkan di Liga 1.
Pertanyaan besar berikutnya, mampukah tim lain membongkar “tembok beton” racikan Bojan Hodak di putaran kedua? Atau justru Persib akan terus melaju hingga meraih trofi dengan gaya pragmatis yang kontroversial ini?
Editor : Izahra Nurrafidah