BLITAR- Nama Bojan Hodak kembali menjadi sorotan setelah momen dramatis laga antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta. Dalam pertandingan tersebut, Persib sempat tertinggal 2-0 di babak pertama. Namun, di balik ketertinggalan itu, tersimpan kisah menarik tentang bagaimana Bojan Hodak membangun mentalitas juara yang kini dikenal sebagai “Bandung mentality”.
Bojan Hodak menjadi keyword utama yang mencuri perhatian publik. Banyak yang penasaran dengan reaksi sang pelatih di ruang ganti saat jeda pertandingan. Berbeda dengan ekspektasi, Hodak tidak mengamuk atau meluapkan emosi secara berlebihan. Ia justru tampil tenang, memberikan arahan yang sederhana namun membekas.
Situasi tersebut menjadi titik balik penting. Dalam video yang diunggah oleh official Persib, terlihat bahwa Bojan Hodak memahami permainan anak asuhnya tidak buruk di babak pertama. Persib bahkan dinilai lebih dominan dalam menciptakan peluang, meski kalah dalam efektivitas penyelesaian akhir.Kalimat Sederhana yang Mengubah Segalanya
Salah satu momen krusial terjadi ketika Hodak mengeluarkan kalimat singkat: “Jika ingin juara.” Kalimat ini disebut menjadi pemantik semangat pemain. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah berlebihan—hanya penegasan tentang target dan mentalitas.
Instruksi khusus juga diberikan kepada bek andalan Persib, Nick Kuipers. Hasilnya langsung terlihat di lapangan. Sepakan keras Kuipers sukses memperkecil ketertinggalan, bahkan tak mampu dihentikan oleh kiper Persija, Andritany Ardhiyasa.
Momentum tersebut menjadi awal kebangkitan Persib. Di tengah tekanan suporter tuan rumah yang masif, para pemain justru menunjukkan daya juang luar biasa. Mereka tidak menyerah dan terus menekan hingga mampu membalikkan keadaan.
Bandung Mentality Jadi Pembeda
Fenomena “Bandung mentality” kini menjadi pembahasan hangat di kalangan pecinta sepak bola Indonesia. Mentalitas ini menggambarkan karakter pantang menyerah yang ditanamkan Hodak kepada timnya.
Seusai laga, Bojan Hodak memuji para pemainnya. Ia menilai skuad Persib memiliki karakter kuat. Menariknya, Hodak tidak pernah mengklaim keberhasilan tim sebagai hasil kejeniusannya sendiri. Ia lebih sering menekankan kerja kolektif dan proses.
Transformasi Persib di bawah Hodak memang terasa signifikan. Dari segi taktik, skill individu, hingga mental bertanding, semuanya mengalami peningkatan. Bahkan, tim yang sempat terpuruk di papan bawah kini menjelma menjadi kandidat juara.Sosok Tegas Tanpa Drama
Bojan Hodak dikenal sebagai pelatih yang tegas namun tidak penuh drama. Meski pernah terlihat emosional di beberapa kesempatan, ia tetap mampu menjaga hubungan harmonis dengan pemain dan manajemen.
Sikap santainya juga terlihat dalam berbagai momen. Salah satunya ketika ia menanggapi pertanyaan soal kinerja wasit. Alih-alih mengkritik, Hodak justru melontarkan candaan yang mengundang tawa.
Pendekatan ini membuat suasana tim tetap kondusif. Para pemain merasa nyaman, namun tetap disiplin dalam menjalankan instruksi.
Dari Krisis ke Puncak Klasemen
Kisah Bojan Hodak di Persib tidak lepas dari situasi sulit di awal kedatangannya. Saat itu, Persib berada di posisi ke-16 klasemen Liga 1. Tim dalam kondisi tertekan dan kehilangan arah.
Namun, Hodak datang dengan pendekatan berbeda. Dalam pertemuan pertamanya dengan tim, ia melontarkan pertanyaan sederhana: “Apakah ada yang meninggal?” Kalimat ini mencairkan suasana dan mengingatkan bahwa sepak bola seharusnya dinikmati.
Perlahan tapi pasti, Persib bangkit. Para pemain kembali menemukan kepercayaan diri. Kebersamaan tim semakin solid, hingga akhirnya mampu bersaing di papan atas.
Kini, target Persib tidak lagi sekadar bangkit, melainkan mempertahankan dominasi. Ambisi untuk meraih gelar back-to-back champion pun mulai digaungkan.
Apakah Bojan Hodak mampu mencetak sejarah baru bersama Persib Bandung? Dengan karakter, strategi, dan mentalitas yang dibangun, peluang itu terbuka lebar. Namun, seperti biasa, waktu yang akan menjawab.
Editor : Izahra Nurrafidah