BLITAR - Industri mobil listrik di Indonesia semakin berkembang pesat, namun tak semua kabar positif. Tren depresiasi harga mobil listrik bekas kini menjadi perhatian utama konsumen otomotif. Data terbaru menunjukkan beberapa model mobil listrik mengalami penurunan harga drastis hanya dalam kurun waktu 2–2,5 tahun. Hal ini memunculkan kekhawatiran soal investasi jangka panjang bagi calon pembeli.
Menurut pantauan Bram News, Hyundai Ionic 5 keluaran 2023 tipe signature long range yang dibanderol baru seharga Rp846 juta kini ditawarkan bekas dengan harga Rp460 juta di situs jual beli OLX.
Artinya, dalam waktu kurang dari dua tahun, mobil listrik ini kehilangan sekitar 55% dari nilai awalnya. Tidak hanya Hyundai, Kia EV6 GTline keluaran 2023 juga menunjukkan tren serupa. Mobil yang baru seharga Rp1,349 miliar ini kini dijual Rp775 juta, turun 57,5% dalam 2,5 tahun pemakaian.
Baca Juga: Jadwal Lengkap MotoGP 2026 Resmi Dirilis! Seri Indonesia Oktober, Marc Marquez Kembali Jadi Sorotan
Fenomena depresiasi ini juga terlihat pada mobil listrik asal Cina, Wuling EV 2023 varian long range. Saat pertama diperkenalkan pada 2023, harga unit ini mencapai Rp299,5 juta. Namun kini unit bekasnya dibanderol Rp145 juta, turun lebih dari 51% hanya dalam dua tahun lebih.
Bandingkan dengan mobil konvensional berbahan bakar bensin atau diesel, yang biasanya mengalami penurunan harga 15–25% di tahun pertama dan 10–15% pada tahun-tahun berikutnya.
Faktor Penyebab Depresiasi Tinggi
Menurut OLX News, beberapa faktor membuat harga mobil listrik bekas anjlok. Salah satunya adalah biaya penggantian baterai yang tinggi dan kekhawatiran konsumen terhadap umur baterai. Selain itu, perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat model lama cepat ketinggalan zaman. Diskon besar-besaran pada mobil listrik baru juga menekan nilai jual kembali unit bekas.
Baca Juga: Mark Marquez Bela Francesco Bagnaya, Pecah Kontroversi MotoGP dan Duel Sengit dengan Pedro Acosta
“Minat pasar yang masih rendah membuat harga mobil listrik bekas turun cepat,” kata Yudi Agustia dari Bram News. Data Gindong menunjukkan penjualan wholesale mobil listrik pada September 2025 hanya mencapai 4.039 unit, turun 36,3% dibanding Agustus 2025 yang tercatat 6.341 unit. Keterbatasan layanan purna jual untuk baterai semakin memperburuk depresiasi harga.
Daftar Mobil Listrik Bekas yang Terkena Depresiasi
Beberapa mobil listrik yang kini mengalami depresiasi signifikan antara lain:
- Hyundai Ionic 5 2023 Signature Long Range: harga baru Rp846 juta, harga bekas Rp460 juta (turun 55%).
- Kia EV6 GTline 2023: harga baru Rp1,349 miliar, harga bekas Rp775 juta (turun 57,5%).
- Wuling EV 2023 Long Range: harga baru Rp299,5 juta, harga bekas Rp145 juta (turun 51,75%).
Tren ini memperlihatkan bahwa investasi mobil listrik bekas masih berisiko tinggi dalam hal nilai jual kembali, meski biaya operasional harian dan efisiensi bahan bakar menjadi keunggulan utama.
Implikasi bagi Konsumen dan Pasar
Penurunan harga mobil listrik bekas menghadirkan dilema bagi konsumen. Di satu sisi, harga lebih terjangkau mendorong lebih banyak orang untuk mencoba mobil listrik. Namun, risiko kerugian saat menjual kembali cukup besar, terutama jika tren depresiasi harga terus berlanjut.
“Konsumen harus mempertimbangkan penggunaan harian dan tujuan pembelian, apakah untuk investasi jangka panjang atau sekadar efisiensi harian,” jelas Yudi. Mobil listrik tetap menarik dari sisi ramah lingkungan dan hemat energi, tapi keputusan pembelian kini harus lebih diperhitungkan dari sisi finansial.
Selain itu, strategi pabrikan mobil listrik di Indonesia, termasuk pemberian diskon besar pada unit baru, turut memengaruhi pasar bekas. Hal ini menandakan persaingan antar pabrikan, terutama dari Cina dan Korea, semakin ketat.
Baca Juga: Francesco Bagnaia Bisa Bikin Kejutan! Rumor Pindah ke Aprilia Mengguncang Bursa Transfer MotoGP 2026
Bagi pedagang mobil bekas, kondisi ini menuntut strategi bisnis yang lebih hati-hati agar tidak menanggung kerugian besar saat membeli unit listrik bekas.
Depresiasi harga mobil listrik bekas di Indonesia bisa mencapai 50–57% dalam waktu 2–2,5 tahun. Faktor penyebab utama meliputi biaya baterai tinggi, perkembangan teknologi cepat, diskon pabrikan, dan minat pasar yang masih rendah.
Meski demikian, mobil listrik tetap menjadi pilihan menarik untuk penggunaan harian karena hemat energi, bebas ganjil-genap, dan perawatan yang relatif murah. Konsumen disarankan menimbang antara harga beli murah dan risiko depresiasi untuk membuat keputusan yang tepat sebelum membeli mobil listrik.
Editor : Axsha Zazhika