BLITAR - Penjaga gawang utama Persebaya Surabaya, Ernando Ari Sutaryadi, mengirimkan sinyal kuat kepada para pesaingnya di papan atas kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Di tengah persaingan sengit musim 2025-2026, Ambisi Ernando Ari di Persebaya tidak main-main. Kiper langganan Timnas Indonesia ini menegaskan bahwa target tunggalnya musim ini adalah membawa trofi juara Super League ke Kota Pahlawan.
Meskipun saat ini Green Force harus bersaing ketat dengan tim raksasa seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, hingga Borneo FC, Ambisi Ernando Ari di Persebaya tetap membara. Nando, sapaan akrabnya, percaya bahwa konsistensi adalah kunci utama jika ingin menyalip perolehan poin para rival. Ia berkomitmen untuk terus tampil maksimal di setiap laga guna membalas kepercayaan tim pelatih dan Bonek Mania yang selalu memberikan dukungan tanpa henti.
Perjalanan panjang telah dilalui kiper asal Semarang ini sejak debutnya pada 4 September 2021 silam. Seiring berjalannya waktu, Ambisi Ernando Ari di Persebaya pun semakin matang setelah ia resmi mencatatkan pertandingan ke-100 bersama klub kebanggaan warga Surabaya tersebut. Momen bersejarah itu terjadi dalam laga krusial melawan Persib Bandung, sebuah pencapaian yang menurutnya bukan perjalanan singkat dan penuh dengan perjuangan fisik maupun mental.
Kenangan Penalti Arema FC dan Rekor Clean Sheet
Mengingat kembali perjalanan kariernya, Ernando menyebut ada satu momen yang takkan pernah ia lupakan. Kejadian itu berlangsung pada 12 April 2023 dalam laga sarat gengsi melawan Arema FC. Saat Persebaya unggul tipis 1-0, Arema mendapatkan hadiah penalti di masa injury time (90+5'). Dengan ketenangan luar biasa, Ernando berhasil menggagalkan eksekusi Rizky Dwi, memastikan kemenangan dramatis bagi timnya.
Secara statistik, performa Ernando memang tergolong elit. Hingga saat ini, ia telah membukukan 32 clean sheet dari 100 pertandingan. "Saya harus konsisten saat latihan dan di luar lapangan, menjaga kondisi tubuh agar kepercayaan pelatih bisa terus saya balas dengan prestasi," ungkapnya. Baginya, catatan individu tersebut hanyalah pelengkap, karena tujuan akhirnya tetaplah mengangkat piala juara di akhir musim nanti.
Fenomena Pemain Baru "Miskin" Menit Bermain
Namun, di balik kegemilangan Ernando, Persebaya dan beberapa klub besar lainnya tengah dihantam isu miring terkait efektivitas bursa transfer putaran kedua. Bonek kini mulai menyoroti nasib bomber baru Persebaya, Bruno Paraiba. Striker yang diharapkan menjadi mesin gol baru itu justru "tenggelam" dan masuk dalam daftar pemain dengan menit bermain paling minim, yakni hanya 19 menit di lapangan.
Situasi serupa ternyata juga menjangkiti klub rival. Di Persija Jakarta, nama-nama beken seperti Cyrus Margono bahkan belum mencicipi satu menit pun debut. Sementara di kubu Persib Bandung, pemain seperti Dion Max baru merasakan atmosfer pertandingan selama 3 menit. Fenomena pemain baru yang sulit menembus skuat utama ini memicu tanda tanya besar mengenai proses adaptasi taktik dan kebugaran para rekrutan paruh musim tersebut.
Menjaga Momentum Menuju Takhta Juara
Super League 2025-2026 kini memasuki fase-fase akhir yang menentukan. Bagi Persebaya, sisa pertandingan yang ada adalah "final" yang harus dimenangkan. Persaingan ketat di papan atas menuntut setiap pemain, baik senior maupun rekrutan baru, untuk segera memberikan dampak instan.
Ernando Ari berharap rekan-rekannya segera bangkit dan tidak menyia-nyiakan peluang yang ada. Fokus penuh pada pemulihan fisik dan kedisiplinan taktik menjadi harga mati. Dengan semangat juang yang tinggi, Persebaya Surabaya optimis bisa mewujudkan mimpi besar mereka dan membuktikan bahwa Surabaya tetap menjadi kekuatan utama sepak bola Indonesia.
Editor : Saifullah Muhammad Jafar