BLITAR KAWENTAR – Mudik Lebaran merupakan tradisi yang dinanti-nanti untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun, perjalanan jauh dan perubahan rutinitas, terutama jika bertepatan dengan puasa, dapat memengaruhi kesehatan dan jadwal pengobatan.
Karena itu, memastikan perjalanan balik aman dan nyaman, penting untuk mengelola obat-obatan dengan benar.
Tujuannya untuk menekan risiko kecelakaan akibat efek samping obat serta memastikan efektivitas terapi kesehatan pemudik tetap terjaga.
Apoteker Ulfa Fikria Putri, S. Farm., M. Farm. Klin, menegaskan salah satu risiko terbesar yang sering diabaikan pemudik adalah efek samping kantuk dari obat-obatan tertentu.
"Poin paling krusial bagi pengendara adalah memeriksa label obat. Banyak obat flu, batuk, atau alergi yang menyebabkan kantuk berat. Jika ada keterangan tersebut, jangan diminum saat akan menyetir. Gunakan jenis non-drowsy atau minum saat waktu istirahat tidur," ujarnya.
Selain faktor kantuk, Ulfa menyoroti beberapa poin utama yang wajib diperhatikan pemudik. Pertama, jangan menyimpan obat di bagasi mobil atau dasar koper yang terpapar suhu panas, karena dapat merusak kandungan zat aktif obat.
”Kami sarankan gunakan tas P3K kecil yang mudah dijangkau dan diletakkan di area bersuhu ruang,” jelasnya.
Baca Juga: Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas di Titik Rawan Macet di Blitar saat Puncak Arus Balik Lebaran
Terkait pengaturan jadwal minum obat bagi pemudik yang tetap menjalankan ibadah puasa, Ulfa memberikan beberapa skema yang bisa dijalankan.
Untuk dosis 1x sehari bisa diminum saat sahur atau berbuka. Kemudian dosis 2x diminum saat sahur dan berbuka. Jika ada aturan diminum sebelum makan, konsumsilah saat perut kosong, yakni 30 menit sebelum makan besar saat berbuka.
Masyarakat juga diimbau hanya menggunakan air putih saat meminum obat. Penggunaan kopi, teh pekat, atau soda sangat tidak disarankan karena berpotensi memicu iritasi lambung serta menghambat penyerapan obat secara maksimal.
Nah, bagi pemudik dengan riwayat penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau asma, Ulfa menekankan pentingnya membawa stok obat rutin yang cukup hingga jadwal kembali dari kampung halaman.
"Jangan sampai terjadi putus obat hanya karena lupa membawa cadangan ke kampung halaman," tambahnya.
Sebagai langkah preventif, ada beberapa obat yang wajib masuk daftar untuk dibawa ketika perjalanan mudik atau balik. Obat tersebut meliputi: Parasetamol (Demam/Sakit Kepala); Antasida (Maag/Asam Lambung); Obat Anti-mabuk (Diminum 30 menit sebelum berangkat; Oralit (Diare) dan Minyak Angin/Balsem (Mual/Pegal).
Ulfa berpesan agar masyarakat selalu memeriksa tanggal kedaluwarsa obat sebelum berangkat. Jika ditemukan keraguan, pemudik disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan apoteker di apotek terdekat guna menjamin keamanan selama perjalanan mudik.(sub/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah