BLITAR - Nama Veda Ega Pratama kini tengah menjadi buah bibir di kancah balap internasional. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa kesuksesan sang wonderkid asal Gunungkidul ini tidak datang secara instan. Sebuah rekaman video langka yang diambil sekitar lima tahun lalu mengungkap bagaimana sepak terjang masa kecil Veda saat ia masih berstatus sebagai pembalap cilik yang "mengacak-acak" kelas pradewasa di berbagai sirkuit nasional.
Sejak usia dini, talenta Veda Ega Pratama memang sudah terlihat di atas rata-rata. Dalam balutan baju balap yang tampak kedodoran di tubuh mungilnya, ia sudah berani menantang pembalap yang usianya jauh lebih tua. Ketangguhan mental dan skill yang mumpuni membuat anak dari mantan pembalap nasional Sudarmono ini mencuri perhatian pemerhati otomotif dan media sejak awal kemunculannya di ajang pencarian bakat.
Dalam sebuah momen di Sirkuit Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya, jejak digital menunjukkan betapa polosnya sosok Veda Ega Pratama saat baru memulai karier internasionalnya. Meski terlihat lugu saat melepas helm, nyalinya langsung berkobar begitu memacu Honda Sonic 150 maupun motor spek balap NSF100. Disiplin tinggi yang diterapkan oleh Astra Honda Racing Team (AHRT) menjadi kawah candradimuka yang membentuk karakter juaranya hingga saat ini.
Gemblengan Keras Sejak Usia Empat Tahun
Darah balap memang mengalir deras di tubuh Veda. Ia mengaku sudah mulai belajar mengendarai motor balap sejak usia empat tahun. Motivasi utamanya sangat sederhana namun kuat: ingin menjadi hebat seperti sang ayah. Di bawah asuhan Sudarmono, Veda tidak hanya diajarkan teknik menikung atau mencari racing line yang tepat, tetapi juga ditempa secara fisik dan mental.
"Pengin kayak Ayah," ujar Veda kecil saat ditanya mengenai alasannya terjun ke dunia balap. Konsistensi dalam berlatih fisik dan menjaga kedisiplinan harian menjadi kunci mengapa performanya begitu stabil. Baginya, dukungan dari Honda melalui berbagai jenjang kompetisi seperti Honda Dream Cup (HDC) memberikan ruang baginya untuk terus berkembang hingga akhirnya bisa menembus level Asia Talent Cup (ATC) dan Red Bull Rookies Cup.
Veda menceritakan bahwa pengalaman menggunakan motor NSF100 sangat berkesan baginya karena kelincahan motor tersebut. Namun, transisinya ke motor yang lebih besar seperti CBR150 dan CBR250 juga dilalui dengan sangat mulus. Hal ini membuktikan bahwa adaptasi adalah salah satu kekuatan utama yang dimiliki oleh pembalap muda berbakat ini.
Menatap Masa Depan di Panggung MotoGP
Kini, buah dari kerja keras bertahun-tahun itu mulai terlihat. Veda Ega Pratama bukan lagi bocah kecil yang hanya mengekor di belakang pembalap senior. Ia telah bertransformasi menjadi ancaman nyata bagi pembalap-pembalap muda dari seluruh dunia. Konsistensinya di podium menjadi bukti nyata bahwa proses panjang yang dimulai dari sirkuit-sirkuit lokal di Indonesia telah mencapai level baru.
Strategi penjenjangan yang dilakukan oleh Astra Honda Motor (AHM) terbukti sukses melahirkan atlet balap yang kompetitif. Melalui Honda Racing School, Veda dibekali pemahaman mendalam tentang manajemen ban, strategi braking, hingga menjaga pola makan yang ketat. Semua elemen tersebut sangat krusial bagi seorang pembalap yang memiliki cita-cita tinggi untuk menembus kelas utama MotoGP suatu hari nanti.
Perjalanan Veda adalah pengingat bagi para talenta muda, khususnya di Blitar dan sekitarnya, bahwa prestasi tinggi membutuhkan pengorbanan dan waktu yang tidak sebentar. Dari sirkuit permanen hingga balap jalanan, setiap putaran roda yang dilalui Veda kecil kini telah membawanya ke gerbang kesuksesan internasional. Kita semua menjadi saksi sejarah lahirnya legenda baru dari Merah Putih yang siap mengibarkan bendera Indonesia di podium tertinggi dunia. (*)
Baca Juga: Sajian Burger ala Rumahan di Blitar Ini Bikin Ngiler, Lokasinya ada di Sini
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly